Keutamaan Ibadah Haji Yang Selalu Dirindukan Setiap Muslim

kabah, haji

PERCIKANIMAN.ID – – Merujuk pada catatan sejarah, perintah menunaikan ibadah haji turun pada tahun ke-9 Hijrah. Sebagai Rukun Islam yang kelima, ibadah haji memiliki posisi yang setara dalam mengukur kualitas keislaman seorang muslim dengan keempat rukun yang lainnya. Jika telah memenuhi syarat (nishab) dari rukun tersebut, tetapi kemudian melalaikan atau bahkan dengan sengaja meninggalkannya, maka kualitas keislamannya perlu dipertanyakan.

Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Islam dibangun di atas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadan.” (H.R. Bukhari)

alquran muasir

Semantara khusus mengenai perintah menunaikan kewajiban berhaji, Allah Swt. berfirman dalam Surah Āli ‘Imrān [3] 96-97,

“Sesungguhnya, rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia adalah Baitullah yang ada di Mekkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda Maqam yang jelas, di antaranya Maqam Ibrahim. Siapa pun yang memasuki Baitullah, ia akan aman. Di antara kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu melaksanakan ibadah haji ke Baitullah bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Bagi siapa pun yang mengingkari kewajiban haji, ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam.”

Jika ditelusuri dari silsilah kenabian, ibadah haji merupakan salah satu syariat yang sempat diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s. Dengan kehendak Allah, ibadah haji tersebut kembali menjadi salah satu isi dari ajaran yang dibawa oleh Muhammad Saw. sebagai nabi akhir zaman. Sementara itu, perintah ibadah haji pada zaman Rasulullah telah “direvisi” sesuai kebutuhan dan kondisi umat. Terlebih, karena dalam perjalanannya, tata cara ibadah haji telah mendapat banyak perubahan dan bercampur kemusyrikan dari umat pada periode setelah Nabi Ibrahim.

kalender

Tidak heran jika para sahabat sempat khawatir ketika diperintahkan melaksanakan sa‘i, karena di masa jahiliah, Ka’bah menjadi tempat berhala yang menjadi sembahan jahiliah. Namun, Allah menghapus kekhawatiran tersebut dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar Allah. Siapa pun yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak berdosa mengerjakan sa‘i antara keduanya. Siapa pun mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, maka Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 158).

Apa saja keutamaan ibadah haji hingga orang rela “antri” belasan tahun dengan berbagai tantangan alam lainnya . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment