Angan-angan Bani Israil (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 94-96) Bag 1

yahudi

Oleh : Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian(mu), jika kamu memang benar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 94)

alquran muasir

Seperti dijelaskan pada ayat-ayat terdahulu bahwa kesombongan Bani Israil membuat mereka enggan mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mereka merasa bahwa argumentasi mereka lebih kuat daripada penjelasan yang dikemukakan Nabi Muhammad Saw. Menurut mereka, ajaran yang dianut selama ini merupakan ajaran yang tidak dapat diganti. Mereka juga berpendapat bahwa melimpahnya nikmat yang tidak pernah diberikan kepada umat lain adalah petunjuk bahwa merekalah kaum terpilih yang dengan serta merta akan menjadi penghuni surga tanpa melalui proses panjang penghisaban. Karena itu, Allah menantang mereka untuk membuktikan keangkuhan tersebut.

Pada ayat ke-94 ini, Allah menantang Bani Israil untuk menghadapi kematian jika memang mereka yakin bahwa surga khusus diperuntukkan bagi mereka. Mengapa jalan pembuktian (dengan kematian) ini yang harus dipilih? Tidak lain karena kematian adalah ujian paling puncak bagi orang-orang yang menjadikan hidup ini sebagai investasi menghadapi akhirat; orang-orang yang pasrah, tunduk, dan menyucikan hati mereka dari segala bentuk keterikatan; orang-orang yang menanti kehidupan berikut dengan keberanian menerima buah tindakannya. Inilah orang-orang yang betul-betul siap dalam menyongsong kebebasan puncak yang berasal dari kematian. Hasrat menanti kematian dengan hati bersih dan kesadaran jernih mengenai yang telah dilakukan adalah indikator dari bentuk ketidak-terikatan dengan dunia ini dan keberanian menyongsong kehidupan berikutnya.

Lantas, apa yang dilakukan Bani Israil dalam menjawab tantangan tersebut?

kalender

Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 95)

Apatah di kata, mereka sadar betul akan kekufuran dan keangkuhan yang mereka lakukan sendiri sehingga tantangan Allah menjadi mustahil dilakukan sebagaimana dijelaskan dalam ayat ke-95 tersebut. Ibnu Abbas mengatakan: “Seandainya mereka menginginkan kematian itu, niscaya mereka akan mati semuanya.” Selain itu, Ibnu Abbas juga mengatakan: “Seandainya mereka benar-benar menginginkan kematian, niscaya salah seorang di antara mereka akan kembali menelan ludahnya.”

Masih menurut Ibnu Abbas, kedua ayat surat Al-Baqarah tersebut diturunkan berkaitan dengan ajakan mubahalah (sumpah dua pihak yang berselisih untuk dikutuk jika di antara keduanya melakukan dusta atau kesalahan) yang dilakukan Nabi kepada kaum Yahudi yang bersikukuh menolak ajakan Nabi dengan alasan bahwa ajaran yang mereka anut saat itu adalah yang paling benar. Mereka bersikukuh memandang diri sebagai kaum terpandang yang sudah diberi keutamaan oleh Allah dan merasa bahwa merekalah satu-satunya golongan manusia yang layak menjadi penghuni surga. Padahal, dengan jelas disebutkan pada ajaran (asli) yang mereka anut bahwa mereka berkewajiban mengikuti ajaran yang dibawa Nabi terakhir. Tentu saja, Bani Israil enggan melakukan mubahalah tersebut. Ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka memang betul-betul melakukan dusta.

Tercatat dalam sejarah bahwa ajakan mubahalah yang dilakukan Nabi kepada kaum kuffar terjadi beberapa kali, di antaranya dilakukan kepada delegasi Nasrani Najron yang meski argumentasinya dipatahkan, tetap saja mereka ingkar. Sehingga, akhirnya Nabi mengajak mereka ber-mubahalah untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Kisah ini tertuang dalam ayat berikut ini.

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, istri-istri Kami dan istri-istri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta’.” (Q.S. Ali Imran [3]: 61)

Delegasi Nasrani Najron pun akhirnya tidak bisa berkutik dan mereka enggan melayani tantangan Nabi tersebut. Seorang di antara mereka mengatakan kepada yang lain, “Jika kalian menerima tantangan Muhammad, niscaya kalian akan mati semuanya.” Untuk menutupi rasa malu, akhirnya mereka bersedia membayar jizyah (pajak).

Demikianlah, betapa pun licik dan banyaknya akal bulus yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menyembunyikan kebenaran, Allah Mahatahu atas yang mereka lakukan. Mustahil mereka menginginkan (mempercepat) kematian karena dalam dirinya tertanam sifat tamak pada dunia dan menginginkan umur sepanjang-panjangnya. Kedustaan mereka pastilah berbalas azab yang sepedih-pedihnya sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukannya. Hal tersebut ditegaskan dalam ayat selanjutnya.

(Bersambung)

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment