Mempersiapkan Anak yang Cerdas, Perhatikan 5 Faktor Ini

289a

Oleh: Eddy Fadlyana, dr., SpA(K)., M Kes*

 

Anak merupakan amanat dan titipan Allah Swt. Agar para calon pemimpin bangsa ini menjadi sumber daya manusia yang berkualitas: baik sehat jasmani, psikis, sosial, dan intelektualnya, anak harus dipersiapkan secara intensif sedini mungkin, yakni dengan proses pengasuhan prima sejak dalam kandungan.

alquran muasir

Pada hakikatnya, anak akan mewarisi sifat kedua orang tuanya, kemudian ia akan berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang pertama dan utama yang akan sangat mempengaruhi proses hidup dan kehidupan anak adalah lingkungan keluarga. Sehingga bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya, akan sangat menentukan kepribadian anak selanjutnya. Baru setelah itu ada pengaruh lingkungan tetangga, sekolah, dan masyarakat luas.

Jumlah balita di Indonesia sangat besar, diperkirakan sekitar 10% dari seluruh populasi. Mereka merupakan generasi penerus bangsa yang perlu perhatian karena awal kehidupan merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan. Berbeda dengan otak orang dewasa, otak balita lebih plastis. Plastisitas otak ini mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, otak balita lebih terbuka untuk belajar dan diperkaya.

Sedangkan sisi negatifnya adalah otak balita lebih peka terhadap lingkungan, terutama lingkungan yang tidak mendukung, termasuk kemiskinan dan stimulasi yang kurang. Sehingga masa ini disebut juga sebagai “masa keemasan” (golden period), “jendela kesempatan” (window of opportunity), atau “masa kritis” (critical period). Berhubung masa ini tidak berlangsung lama, anak harus mendapat perhatian yang serius, yaitu: gizi yang baik, stimulasi yang memadai, mengeliminasi faktor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, juga deteksi dini terhadap penyimpangan tumbuh kembang. Hal-hal yang perlu orangtua ketahui dan perhatikan sebagai berikut:

kalender
  1. Organ Otak

Organ otak terdiri atas dua belahan otak besar (serebrum), dua belahan otak kecil  (serebellum), dan batang otak. Otak pada bayi yang baru lahir berbobot kurang lebih 400 gram dan pada orang dewasa kurang lebih 1,3 kg. Jaringan otak berkepadatan lunak seperti tahu. Pada permukaan otak terdapat lapisan tipis jaringan yang berwarna abu-abu, karena itu disebut zat kelabu (substansia grisea). Dalam lapisan ini terdapat sel saraf yang mengandung inti.

Jumlah sel saraf yang membentuk otak sedikitnya 100 miliar buah. Substansia grisea permukaan otak ini terletaknya di luar, disebut korteks serebri. Di bawah korteks terdapat jaringan berwarna putih karena itu disebut zat putih (substansia alba) yang terdiri atas saraf-saraf yang menjulur dari badan-badan sel saraf yang sebagian diliputi simpai lemak yang memberikan warna putih.

  1. Pusat-pusat fungsi dalam koteks serebri

Di bagian belakang dahi terdapat pusat gerakan (pusat motorik). Bila daerah ini rusak, timbul kelumpuhan pada sebelah badan sisi bertentangan. Di belakang pusat gerakan ini, di lobus parietalis, terdapat pusat fungsi rasa kulit, yaitu rasa nyeri, tekanan, panas, dingin, rasa gerak, dan rasa arah gerak. Di bagian belakang kepala terdapat pusat penglihatan. Di girus/lobus temporalis terdapat pusat pendengaran. Pusat wicara (Broca) di girus frontalis inferior hemisfer kiri. Pusat pengertian bahasa (Wernicke) di girus temporalis superior. Kerusakan di daerah-daerah ini akan menimbulkan gangguan pada fungsi bersangkutan.

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3-4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai 3-4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai miliaran sel, tetapi belum ada hubungan antarsel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antarsel sehingna membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antarsel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan bayi-balita tersebut.

Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita, semakin kompleks hubungan antarsel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, semakin kuat hubungan antarsel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antarsel-sel otak, semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari. Bila dikembangkan terus menerus, anak akan memiliki banyak variasi kecerdasan.

Berikutnya adalah  . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment