Fanatisme Etnis (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 91-93) Bag 2

pemandangan

Oleh : Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

Bukti kebohongan Kaum Yahudi yang nyata diperlihatkan dalam perilaku busuk sebagaimana disindir dalam ayat tadi, “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” Dengan kata lain, jika kalian tidak beriman kepada Muhammad, karena bukan dari etnis kalian, mengapa para nabi yang berasal dari etnis kalian, selalu kalian dustakan dan kalian bunuh? Nyatalah bahwa mereka hanyalah penentang kebenaran baik yang tertulis di kitab Taurat,ataupun dalam kitab Al-Quran.

alquran muasir

Pada dasarnya, yang datang dari kitab langit, muaranya satu yaitu Allah. Meski kitab selain Al-Quran terdapat kekhususan untuk kaum atau etnis tertentu, perbedaan pun hanya seputar syariah yang merujuk pada sosial budaya saat itu. Namun, secara keseluruhan, kitab-kitab wahyu yang ada merupakan mata rantai yang satu menguatkan yang lain. Semuanya berjalan seiring dan seirama. Ibarat buku-buku pelajaran yang ada di dunia pendidikan. Tentu saja, buku sebuah disiplin ilmu tingkat universitas ada kesesuaian dengan buku-buku pelajaran di tingkat bawah. Hanya saja buku yang digunakan di universitas lebih tinggi dan sempurna, menyempurnakan buku-buku tingkat sebelumnya.

Ada satu hal yang menggelitik dari ayat ini, Allah mempertanyakan kaum Yahudi di masa Nabi Muhammad Saw. yang menolak mengakui beliau sebagai nabi terakhir hanya karena beda etnis, dengan bukti pelanggaran yang biasa dilakukan, yaitu membunuh para nabi. Padahal, para nabi itu berasal dari kalangan mereka. Pelanggaran itu sebenarnya tidak dilakukan oleh Kaum Yahudi yang ada di zaman Nabi Muhammad Saw. Ini sebagai bukti bahwa sebenarnya identitas dan karakter suatu kaum sangat kuat berada pada satu garis warisan budaya. Dengan ayat ini, umat Islam diharapkan dapat menghindarkan karakteristik generasi pewaris budaya yang buruk.

Dari ayat tersebut terdapat lima pelajaran yang bisa kita petik, antara lain sebagai berikut.
– Fanatisme etnis dapat menyebabkan buta akan kebenaran.
– Risalah Nabi Muhammad Saw. berlaku untuk seluruh umat manusia.
– Tolok ukur keimanan pada kebenaran agama bukan pada etnis.
– Tiada keraguan akan kebenaran isi Al-Quran.
– Hujjah di atas egoisme sangatlah lemah.

kalender

“Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 92)

Jika benar penolakan mereka akan kedatangan Nabi Muhammad Saw. karena perbedaan etnis dan suku, dengan ayat ini Allah menyindir mereka bahwa jika benar alasannya demi Taurat, lantas mengapa kemudian mereka berbuat nista dengan membuat aliran agama sendiri, yaitu menyembah sapi.

Nabi Musa a.s. berasal dari golongan mereka dan sengaja diutus Allah dengan membawa sederet bukti-bukti berupa ayat-ayat yang jelas dengan konsep mendasar tentang ketauhidan (la ilaha illallah) dengan dilengkapi sejumlah mukjizat yang jelas bagi mereka. Namun kemudian mereka ingkari dengan memanfaatkan kepergian Nabi Musa a.s. ke Gunung Thur. Dengan demikian, pada dasarnya, selain menzalimi diri sendiri, mereka juga menzalimi pemimpin mereka. Dalam ayat lain Allah berfirman,

“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke Gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 148)

Para mufassirin berpendapat bahwa patung itu tetap patung tidak bernyawa dan suara yang seperti lembu itu hanyalah disebabkan oleh angin yang masuk ke dalam rongga patung itu dengan teknik yang dikenal oleh Samiri waktu itu dan sebagian mufassirin ada yang menafsirkan bahwa patung yang dibuat dari emas itu kemudian menjadi tubuh yang bernyawa dan mempunyai suara lembu.

(Bersambung)

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment