Agar Senantiasa Dalam Penjagaan Allah maka “Jagalah” Allah, Begini Caranya

291a

Oleh: Tate Qomaruddin,Lc*

 

Dari Abul‘Abbas ‘Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridoinya— ia mengatakan, “Aku berada di belakang Rasulullah saw. beliau mengatakan, “Nak, Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Jika engkau memohon mohonlah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” (H.R. Tirmidzi)

alquran muasir

Setiap mukmin pasti merindukan dan sekaligus meyakini hadirnya kejayaan atau kemenangan Islam. Salah satu bentuk kemenangan itu adalah tegak dan dilaksanakannya nilai-nilai Islam dalam kehidupan manusia. Baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, negara, ekonomi, politik, maupun urusan lainnya. Nilai-nilai Islam yang dimaksud tentu bukan saja perilaku-perilaku saleh individual, akan tetapi juga kesalehan yang berdaya guna misalnya keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada kebenaran, apa pun risikonya.

Tentu saja kemenangan itu tidak akan terwujud kecuali jika setiap muslim berusaha optimal, dalam batas-batas kemampuan manusiawi. Usaha optimal untuk mencapai kemenangan itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan seterusnya. Akan tetapi, harus dipahami pula bahwa sehebat apa pun segala upaya yang dilakukan manusia bisa tidak punya makna sama sekali manakala tidak mendapat perkenan Allah swt. Sebaliknya, betapa pun serba terbatasnya kaum muslimin –dalam hal material dan kuantitas personal— dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan, jika Allah berkehendak untuk mengaruniakan kemenangan, tak satu kekuatan pun dapat menghalanginya.

Persoalannya adalah, apakah kita termasuk orang yang layak mendapat pertolongan Allah itu? Tentu ada prasyarat pertolongan Allah turun kepada kita. Nah, hadis ini sarat dengan pesan-pesan luhur yang akan mengantarkan kaum muslimin mencapai kemenangan yang didambakan. Sampai-sampai sebagian ulama mengatakan, “Saya merenungi hadis ini dan saya benar-benar terperangah. Amat disesalkan bila ada yang tidak memahami makna hadis itu.”

kalender

Ihfazhillah, jagalah Allah! Menjaga Allah, kata Abul Faraj al-Hambali dalam kitabnya  Jami’ul-‘Ulumi wal Hikam adalah menjaga aturan-aturan, hak-hak, perintah-perintah, dan larangan-larangan Allah swt. Tentu saja, hal tersebut dilakukan dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika seseorang melakukannya, ia termasuk orang-orang yang menjaga aturan-aturan Allah seperti yang disebutkan dalam ayat-Nya,

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak terlihat (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Q.S. Qaaf 50: 32-33)

Kata ‘Hafizh’ (حفيظ) yang tercantum pada ayat di atas ditafsirkan dengan “menjaga (melaksanakan) perintah-perintah Allah dan menjaga diri dari dosa-dosa dan selalu bersegera untuk bertaubat jika melakukan kesalahan-kesalahan.” Di antara perintah-perintah agung yang harus dijaga oleh setiap muslim adalah:

  1. Menjaga Salat

Secara eksplisit, Allah swt. memerintahkan kita menjaga shalat. Firman-Nya,

Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusu.” (Q.S. Al Baqarah 2: 238)

Dalam ayat lain, Allah memuji orang-orang yang memelihara shalat. Firman-Nya,

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Q.S. Al Mu’minuun 23: 9)

Semakin banyak aktivitas, semakin berat beban perjuangan, semakin besar target yang ingin kita capai, seharusnya semakin membuat kita dekat dengan Allah. Momentum seorang hamba sangat dekat dengan Allah adalah saat ia bersujud. “Keadaan yang paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah saat dia sujud. Maka perbanyaklah doa dikala sujud itu,” demikian sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim.

Jadi, sangat ironis bila semakin banyak kegiatan malah shalat semakin terlalaikan; dan lebih celakalah lagi bila shalat itu dilalaikan justru dengan alasan kesibukan. Tidak akan ada barokah dari aktivitas yang melalaikan shalat. Apa pun alasannya. Termasuk dengan alasan bahwa yang penting adalah shalat aktivitas. Yang dimaksud dengan shalat aktivitas adalah kegiatan yang diklaim sebagai perjuangan menegakkan kebenaran. Itu saja dianggap cukup, sekalipun meninngalkan shalat. Pasti perjuangan itu bukan di jalan Allah melainkan di jalan thaghut.

Berikutnya adalah dengan menjaga . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment