Mimpi Rifaya Membangun Pesantren di Dubai

pengajian

PERCIKANIMAN.ID – Bagi Rifaya Meherunnisa Nailah, menuntut ilmu dan tinggal di pesantren membutuhkan niat dan perjuangan yang kuat.  Santriwati kelahiran Malasyia ini mengisahkan  betapa beratnya ia mengawali proses belajar di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ia awalnya tidak mendapatkan restu dari keluarga untuk menimba ilmu di pesantren. Rintangan dan cobaan pun ia rasakan sendiri dengan penuh pengorbanan.

alquran muasir

Keluarganya beranggapan, pondok pesantren merupakan tempat yang tidak memiliki masa depan jelas. Namun karena tekadnya sudah bulat, Rifaya, demikian panggilan akrabnya, ia tetap berangkat ke  Gunung Tembak dengan mengharap ridho Allah Swt.

Sesampai di pondok, ia awali hidupnya dengan menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Putri yang merupakan Perguruan Tinggi (PT) Hidayatullah Balikpapan. Selama beberapa bulan, pemilik nama asli Risnawati ini tidak mendapat perhatihan khusus dan kasih sayang dari orang tua.

[irp posts=”7739" name=”Pimpinan Ponpes Gontor : Stop Teror terhadap Pesantren!”]

kalender

“Di hubungi oleh orang tua lewat telepon tidak pernah, perhatian kasih sayang dari orang tua pun terhenti, rasanya hampa,” ujar perempuan kelahiran 1 Agustus 1996 ini.

Seperti pada umumnya, kegiatan di pesantren adalah menghafal al-qur’an, belajar berbahasa arab, menambah pengetahuan ilmu agama islam. Demikian juga yang dilakukan Rifayah dalam kesehariannya.

Awalnya,  Rifaya sempat berprasangka buruk kalau dirinya tidak ditakdirkan untuk belajar di STIS Putri dan Mondok di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak. Ia mulai merasakan kejenuhan, kesedihan karena kurang mendapat perhatian dari orang tua.   Sampai pada suatu hari, salah satu pengasuh santriwati mengkabarinya.

“Ukhti (saudara perempuan) ini ada telfon dari orang tuamu!” pesan pengasuh.

“Ya kah?, Alhamdulillah yaa Allah” jawab Rifaya dengan hati gembira.

Rifaya Meherunnisa Nailah
Rifaya Meherunnisa Nailah

 

Putus semangat

Karena terlalu gembira saat berkomunikasi dengan ibunya, Rifaya merasakan kesedihan. Ia  bahkan sempat menyatakan diri ingin mundur dari pesantren. Rifaya berbincang dengan ibunya dan memohon izin untuk pindah sekolah.

Namun setelah mendengar kisah perjuangan Rifaya, sang ibu pun meminta maaf karena telah mengabaikannya selama beberapa tahun.  Ibunya memberi pesan yang bijak ke putrinya agar Rifaya  harus bertahan dan menuntaskan sarjananya di STIS putri Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Dengan dorongan motivasi dan semangat orang tuanya, perempuan yang memiliki hobby membaca ini membatalkan pernyataanya.  Karena dukungan orang tuanya, antusiasme Rifaya makin kencang, ia siap kemanapun saat ditugaskan dari pondoknya kelak.  Ia kini bahkan bercita-cita besar untuk membangun pesantren suatu hari nanti.

[i[irp posts=”10905" name=”Bingung Memilih Sekolah Untuk Anak ? Pelajari Sistem Pendidikan Yang Digunakan”]p>

“Saya siap dikirim ke manapun saat pelepasan wisuda kelak, yang penting bisa bangun pesantren, itu tujuan saya,” tandas perempuan asal suku Bugis ini.

Dulu Rifaya sebenarnya sempat didaftarkan ke perguruan tinggi bidang perawat karena desakkan saudaranya. Tetapi ia menolak karena takut melepas hijabnya kelak.

“Ya ana khawatirkan semisal di luar, pergaulan terlalu bebas,” jelasnya

“Anak pondok saja susah untuk istiqamah menjaga hijabnya, apa lagi kalau diluar yang begitu banyak cobaan dimana-mana,” terang perempuan bercadar ini.

Rifaya berkeinginan membawa keluargannya kelak untuk tinggal bersama-sama di pesantren. Dia merasa bahagia berada di lingkungan pesantren.

Kawasan Gutem menurut Rifaya  memiliki lingkungan yang indah. Ada danau yang besar dan bersih yang terletak di pertengahan kampus. Area tempat tinggal  santri putra dan putri pun dibangun sesuai syariat islam.

Selain itu, Pesantren Gutem memiliki area kampung islam yang dihuni oleh semua ustadz-ustadzah yang berperan dalam mengembangkan amanah di pondok ini.  Ponpes Hidayatullah Balikpapan sejauh ini telah memiliki sekolah dari TK hingga Perguruan Tinggi yang pengajarnya sudah mencapai jenjang pendidikan S2 hingga S3. Para pengajarnya pun banyak yang berasal dari lulusan Madinah, Sudan, dan Malaysia.

Suatu saat nanti, Rifaya bercita-cita untuk membangun pesantren di Dubai, Uni Emirat Arab.

“Harapan ana (saya) ke depannya adalah membangun pesantren di luar negeri.  Ya ana hanya bisa berusaha, tapi ana yakin selagi ini baik untuk islam pasti Allah memudahkan Hamba Nya,” kata perempuan asal Bontang ini.

Kalau pun tidak bisa membangun pesantren di Dubai, ia bercita-cita mendirikan pondok pesentren di negara sendiri.  Selamat berjuang  Rifaya, semoga cita-citamu tercapai!  [And[Andre Rahmatullah, Anggota PENA Jawa Timur]rong>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment