Ilmu dan Amal, Mana yang Harus Diutamakan?

dzikir

Ilmu dan amal adalah dua hal yang saling berkaitan dan kerap dipertanyakan mana yang lebih penting di antara keduanya. Ada yang berpendapat, ilmu lebih utama karena dengan ilmulah seseorang dapat mengubah “tindakan” menjadi sebuah “amal”.   Tanpa ilmu, tindakan bisa jadi hanya merupakan aktivitas fisik yang tak bernilai. Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintah dari kami, maka tertolak.” (HR. Muslim). Sementara, ada pula yang mengatakan bahwa amal-lah yang lebih utama.

Jadi mana sebenarnya yang harus kita prioritaskan, apakah ilmu atau amal? Dalam sebuah kajian, Ustadz Aam Ammiruddin menjelaskan bahwa ilmu seharusnya lebih didahulukan. Dasar pertimbangannya adalah ayat berikut :

promoawaltahun

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan  selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Q.S. Muhammad 47: 19)

Kalimat Maka ketahuilah… mengisyaratkan bahwa ilmu harus menjadi landasan amal. Atau dengan kata lain, ilmu harus lebih dahulu dibandingkan amal. Penafsiran ini   dikuatkan dengan ayat yang pertama kali turun kepada Nabi saw. yaitu, ”Bacalah dengan  nama Tuhanmu Yang menciptakan… ” (Q.S. Al ’Alaq 96: 1).

Ustadz Aam menegaskan, ilmu akan mengantarkan kita pada jalan kebaikan. Rasulullah saw. Bersabda, ”Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu. Niscaya Allah akan mudahkan jalan menuju surga” (HR. Abu Daud)

kalender

Ilmu berfungsi sebagai pemandu bagi amal. Amal yang tidak berlandaskan ilmu, kemungkinan besar tertolak, sebagaimana disabdakan Rasul saw., ”Siapa yang beramal  tapi tidak seperti yang aku perintahkan, maka amalnya tertolak.” Ini isyarat, betapa pentingnya ilmu dalam suatu amal.

Selain ilmu, ada satu lagi yang harus diperhatikan dalam beramal, yaitu ikhlas. Perhatikan ayat berikut, ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah (beribadah) dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al Bayyinah 98: 5). Maksud … dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya …, yakni suatu ibadah atau amal harus dilandasi keikhlasan, artinya hanya mengharap rido Allah swt.

“Jangan lupa, kalau kita hanya bergelut dengan ilmu tetapi miskin dengan amal, itulah yang disebut ilmu yang tidak bermanfaat,” paparnya.

Oleh karena itu, walau ilmu harus kita prioritaskan, namun jangan hanya sampai disitu, kita harus berusaha untuk mengamalkan ilmu. Jadi, antara ilmu dan amal terjadi keseimbangan.

Rasulullah saw. mengajarkan sejumlah doa agar kita diberi ilmu yang bermanfaat, di antaranya, ”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (H.R. Muslim). ”Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Serta ajarkanlah kepadaku apa-apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku”. (HR. Tirmidzi)

Malik bin Dinar mengatakan, ”Jika seseorang mencari ilmu untuk diamalkan, maka ilmu tersebut akan membahagiakan dirinya. Sedangkan jika dia mencari ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmu tersebut akan membawanya pada kesombongan.”

“Semoga Allah swt. melindungi kita dari ilmu yang tidak diamalkan. Amin,” pungkas Ustadz Aam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment