3 Mitos Tentang Bedah Caesar Yang Perlu Diluruskan

Hamil 1

Oleh: dr. H. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG(K)., M.M.*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Caesarian Section adalah metode melakukan operasi atau section yang dikenalkan oleh Caesar (nama orang –ed), yaitu pembedahan rahim untuk mengeluarkan janin. Banyak hal yang dapat menyebabkan mengapa seseorang harus menjalani persalinan dengan cara bedah caesar. Antara lain:

alquran muasir

Pertama, bayi tidak bisa keluar dengan normal karena berbagai faktor, yaitu posisi janin tidak benar seperti lintang atau sungsang, janin terlalu besar, terdapat tumor yang menghalangi vagina, tulang panggul terlalu sempit, atau ari-ari menutupi jalan lahir (Placenta Previa).

Kedua, keadaan-keadaan darurat yang mengharuskan janin cepat keluar sperti distres janin, pertumbuhan janin yang sangat terganggu, atau placenta lepas di dalam (solutio placenta).

Ketiga, hal-hal lain yang menyebabkan persalinan lewat vagina (per vaginam) tidak bisa dilakukan seperti varises yang besar sehingga dikhawatirkan pecah saat persalinan, infeksi Herpes Genitalis Tipe 2 (IgM positif saat persalinan).

kalender

Keempat, semua keadaan normal, tapi proses persalinan berjalan terlalu lambat (pembukaan tidak bisa lengkap yang disebabkan oleh faktor kelelahan ibu atau faktor-faktor lain yang belum diketahui/et causa ignota).

Sebenarnya, bedah caesar dalam ilmu obstetri adalah suatu tindakan yang paling rendah derajat kesukarannya. Artinya bahwa dalam keadaan normal bedah caesar bertentangan dengan prinsip kebidanan, yaitu Primum Non Nocere (prinsip utama tidak menimbulkan kerusakan yang besar pada ibu dan anak). Bedah caesar tentunya baik untuk janin karena janin sangat mudah dikeluarkan (5-10 menit sejak proses pembedahan),  tapi kerusakan/risiko pada ibu dinilai terlalu besar, baik risiko dalam hal medis maupun risiko ekonomis.

Jadi, berdasarkan kaidah obstetri, sebenarnya semakin sering seorang dokter obstetricus atau ahli kebidanan melakukan pembedahan caesar, ia akan dinilai sebagai obstetricus yang paling rendah keterampilannya. Sebaliknya, ahli kebidanan yang paling sedikit melakukan pembedahan caesar dengan hasil ibu dan anak selamat, dinilai sebagai obstetricus yang paling tinggi keterampilannya. Namun, terkadang pasien memandang sebaliknya, menganggap bahwa bedah caesar merupakan sesuatu yang canggih yang membutuhkan keterampilan tinggi.

Cukup banyak mitos yang beredar di masyarakat menyangkut masalah caesar. Antara lain:

  1. Persalinan dengan cara caesar lebih aman dibandingkan dengan persalinan spontan.

Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Operasi caesar biasanya dilakukan karena adanya indikasi medis yang mengharuskan dilakukannya tindakan tersebut dengan pertimbangan keselamatan ibu dan janin. Bila tidak ada indikasi medis, persalinan spontan tentunya jauh lebih aman, prosesnya singkat, dan masa penyembuhannya lebih cepat. Selain itu, tindakan bedah bukan tanpa risiko. Kemungkinan terjadinya komplikasi selalu terbuka, baik dari sisi anastesi (pembiusan) maupun dari sisi luka operasinya itu sendiri.

  1. Ibu yang dioperasi caesar tidak dapat memberikan ASI selama beberapa hari pada bayinya.

Hal ini tentunya tidak benar. Faktanya adalah ibu dapat langsung memberikan ASI sedini mungkin setelah bayi lahir (bila dilakukan anastesi spinal, anastesi epidural, atau anastesi Ila). Bahkan, bila dilakukan bius per inhalasi (bius total) pun, ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya beberapa jam setelah siuman. Ibu mungkin akan merasa sedikit sakit pada luka operasi ketika memiringkan badan atau mencoba duduk untuk menyusui bayinya. Namun, pergerakan-pergerakan ibu (miring ke kanan-ke kiri atau duduk) akan mempercepat proses penyembuhan karena sirkulasi darah menjadi lancar. Pergerakan-pergerakan itu pun akan membuat anggota badan lentur, tidak kaku.

  1. Wanita yang dioperasi caesar kehidupan seksualnya akan lebih baik.

Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, karena baik atau tidaknya kehidupan seksual tidak hanya ditentukan oleh kuat atau kendurnya otot kewanitaan semata, tetapi ditentukan oleh banyak faktor, termasuk faktor psikis. Bahkan faktor psikis lebih dominan dibandingkan dengan faktor fisiologis/anatomis.

Otot-otot kewanitaan memang terbuka sebesar kepala bayi saat persalinan. Namun, itu bukan berarti otot kewanitaan selamanya akan terbuka sebesar kepala bayi, karena sifat otot tersebut sangat elastis. Untuk menguatkan kembali otot-otot kewanitaan dan panggul, ibu bisa melakukan latihan Kegel, yaitu mengencangkan otot dasar panggul seperti gerakan menahan kencing.

Untuk itu jika tidak ada halangan secara medis dan factor keselataman sebaik ibu melahirkan secara normal. Jangan karena mengikuti trend atau tak ingin bersusah lalu memilih untuk Caesar pada secara normal bisa. Namun jika itu menjadi pilihan terbaik maka luruskan beberapa mitos tersebut. Semoga bermanfaat . Wallahu a’lam. [ ]

 

*Penulis adalah dokter spesialis obgyn, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah dengan berbagi tulisan yang mengedukasi dan menginspirasi ummat.

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment