Pengamat: Ummat Islam Pemilik Sah Negeri Ini, Tak Mungkin Merusak Rumahnya Sendiri

2

PERCIKANIMAN.ID – -Pengamat dan Dosen Fakultas Hukum Unpad Atip Latifulhayat,SH,LLM,PhD menyampaikan bahwa Ummat Islam adalah pemilik sah NKRI maka mempertahankan dengan segenap harta dan jiwa menjadi kewajiban. Ia menilai apa yang diperjuangkan oleh para ulama dan kaum muslimin dalam merebut kemerdekaan yang telah mengorbankan jiwa raganya termasuk hartanya harus terus dilanjutkan.

“Semangat ini yang nampaknya luntur dari ummat Islam seolah ketika sudah merdeka penjajah itu tak kembali, padahal saat ini penjajahan mental bahkan spiritual tidak kalah kejamnya,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam diskusi yang bertajuk  “Ummat Islam Dalam Pusaran Isu Terorisme, Deradikalisasi dan HAM” yang diselenggarakan FUUI di Masjid Al Fajr Kota Bandung,Sabtu (13/8/2016).

Atip menambahkan dalam kenyataannya berkah kemerdekaan yang telah diperjuangkan berdarah-darah oleh para pahlawan yang mayoritas ummat Islam tersebut saat ini justru dinikmati oleh segelintir orang saja. Bahkan, sambungnya, mereka minoritas di negeri muslim terbesar ini. Untuk itu kaum muslimin harus introspeksi dengan menjalin ukhuwah.

Sementara terkait dengan tuduhan yang sering dialamatkan kepada ummat Islam sebagai subyek terorisme, radikalisme hingga pelanggaran HAM, menurut Atip itu adalah pengkhianatan sejarah yang dilakukan oleh musuh bangsa Indonesia sendiri. Ia beranggapan sebagai tuan rumah atau pemilik sah tidak mungkin akan menghancurkan rumahnya sendiri.

“Jika ada orang yang memojokkan Ummat Islam sebagai pemecah belah bangsa maka mereka justru patut kita pertanyakan nasionalismenya. Tidak ada sejarah yang mencatat bahwa ummat Islam di negeri ini yang akan merusak rumahnya sendiri,”terangnya.

Menurutnya pemerintah harus bijak dan adil dalam setiap menyelesaikan persoalan khususnya yang menyangkut urusan ummat Islam. Dua kunci inilah setidaknya yang dapat dituntut ummat Islam.

“Pemerintah juga jangan anti kritik karena kritik adalah salah satu bentuk cinta ummat kepada Negara yang tidak ingin tanah airnya diambil orang lain,”ujarnya.

BACA JUGA  Hukum Waris untuk Anak dan Istri Kedua

Hal senada juga disampaikan pengamat politik dari Unpar Prof.Dr.Asep Warlan, yang mengatakan bahwa untuk melawan ummat Islam para musuh tidak mungkin langsung menyerangnya. Namun strategi yang digunakan adalah dengan membangun opini dan paradigm apa yang disebut dengan istilah “musuh bersama”.

“Konsep inilah yang kemudian dapat menarik simpati dan dukungan dunia sehingga ketika tiga agenda tersebut (terorisme, radikalisme dan pelanggaran HAM, red) diusung maka tidak sedikit kaum muslimin yang terjebak di dalamnya,” paparnya.

Menurut Prof.Asep konsep tersebut sebagai bentuk upaya dalam menguasai suatu wilayah atau bangsa secara politis maupun ekonomis ada dalam “kekuasaannya”. Sebab, sambungnya, untuk menguasai sebuah Negara dalam abad modern ini jika dilakukan dengan agresi militer akan mendapat penolakan, kecaman dan perlawanan dari banyak Negara.

“Itulah cara elegan menurut mereka untuk menguasai sumber daya alam, pangan hingga budaya secara tersamar. Dengan dalih ikut memerangi terorisme, radikalisme dan menegakkan HAM maka mereka sejatinya ingin menguasai negeri kita,”jelasnya.

Diakuinya korban terbesar dari konsep “musuh bersama” tersebut adalah ummat Islam. Dimana pun berada negeri muslim selalu menjadi ajang perebutan pengaruh baik ekonomi, politik hingga kebudayaan. Untuk itu menurutnya yang harus dilakukan oleh kaum muslimin dalam menghadapi itu semua adalah adanya rasa persaudaraan (ukhuwah) sehingga melahirkan kekuatan yang lebih besar untuk melawannya.

“Ummat Islam sendiri jangan mau diadu domba dan diperalat oleh kepentingan mereka. Kuncinya adalah bangun ukhuwah dan jangan tercerai berai,”sarannya.

Hadir pula dalam diskusi tersebut H.M Rizal Fadilah, SH dari PW Muhammadiyah Jabar dan KH.Athian Ali selaku ketua FUUI. Acara diskusi tersebut ikuti ratusan jamaah yang memadati masjid. [ ]

 

Rep: iman

Editor: candra

 

(Visited 35 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment