Bolehkah Shaf Perempuan dan Laki-Laki Berbaur?

kabah

Pak ustadz, ada orang yang posting gambar saat sedang salat ‘Ied di daerah Semarang. Tapi, laki-laki dan perempuan salatnya berbaur.  Ada yang berkomentar, laki-laki boleh berbaur dengan perempuan ketika salat, karena di Masjidil Haram juga begitu.  Di sana, laki-laki dan perempuan salatnya berbaur. Bagaimana komentar Pak Aam mengenai hal ini?

 

Yang benar, tentu saja shaf laki-laki itu di depan dan saf perempuan di belakang. Bahkan Nabi saw mengatakan, “sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah yang depan. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang belakang.” Rasul mengajari kita semua dalam salat berjamaah, shaf laki-laki ada di depan dan shaf perempuan ada di belakang.

alquran muasir

Pada kenyataannya, ketika kita salat di Masjidil Haram, kadang-kadang kita melihat shaf laki-laki dan perempuan berbaur. Laki-laki salat di belakang perempuan. Kondisi ini terjadi karena kedaruratan. Masalahnya, di Mesjidil Haram semua orang melakukan thawaf, otomatis ketika thawaf sulit kita memisahkan thawaf laki-laki dan thawaf perempuan. Konsekuensinya, ketika menjelang salat orang yang thawaf masih terus. Begitu qamat, sulit dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.

Pada kondisi seperti itu, ada kaum perempuan yang berada di tengah laki-laki, menyelinap di tengah kumpulan laki-laki. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai kondisi kedaruratan. Kalau sedang darurat, maka berlaku hukum sesuatu yang tadinya tidak boleh menjadi boleh karena darurat.

Walau demikian, kondisi seperti itu kalau terjadi di (tempat) kita, semuanya masih bisa diatur. Jangan sampai kita membandingkannya dengan apa yang terjadi di Masjidil Haram, di mana salat berjamaah kandang bercampur-campur dan shafnya tidak teratur antara perempuan dengan laki-laki.

kalender

Ini aturannya sudah sangat jelas. Ukuran benar itu ada di dalam firman Allah dan Hadist Nabi, bukan pada apa yang dilihat oleh mata kita.  Allah berfirman dalam Q.S. Az-Zumar [39] 17-18 :

Orang-orang yang menjauhi Tagut, (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, pantas mereka mendapat berita gembira. Oleh karena itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku,

Yaitu, mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Jadi, jika kita mendengar pembicaraan harus dapat mengambil pembicaraan yang paling baik. Itulah orang-orang yang diberikan hidayah oleh Allah.

Apa ciri orang yang diberikan hidayah oleh Allah ? Mereka adalah orang yang suka melaksanakan pembicaraan mereka yang patut diikuti. Merekalah orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah. Jadi, kalau berbicara agama jangan berpedoman pada apa yang kita lihat. Tapi, kita harus melihat pada apa yang paling baik menurut agama.

Tanpa dasar yang bersumber pada Qur’an dan Hadist, kita tidak bisa menjadikan alasan untuk membenarkan persoalan berbaurnya shaf laki-laki dan perempuan pada saat salat berjamah seperti salat berjamaah di Mesjidil Haram. Karena kalau di Masjidil Haram itu kondisinya berbeda, yaitu berada dalam kondisi kedaruratan. Waallahu alam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment