3 Nasihat Ibnu Taimiyyah Dalam Menghadapi Musibah

286

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat mengenai bencana atau musibah serta pelajaran di dalamnya. Maka, beruntunglah orang-orang dianugerahi al-hikmah (kepahaman yang mendalam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan, hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (Q.S. Al Baqarah [2]: 269).

Allah berfirman, ”Beri kabar gembira orang-orang yang sabar yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (sesungguhnya semua berasal dari Allah dan bakal kembali kepada-Nya)” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 156).

alquran muasir

Dan banyak hadits sahih dari Rasulullah Saw. yang menjelaskan larangan meminta (sesuatu) kepada makhluk, di antaranya sabda Rasulullah Saw., Senantiasa seseorang itu meminta (kepada makhluk) sampai dia bertemu Allah Swt. (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun pada wajahnya (H.R. Bukhari).

Sementara terkait musibah ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memberikan nasihatnya agar tidak sampai pada hilangnnya keimanan. Sebagaimana dinukil dalam Kitabul Iman, hal. 66 ia berkata, “Meminta kepada makhluk padanya ada tiga keburukan;

  Pertama, keburukan (karena) menunjukkan rasa butuh kepada selain Allah Swt. dan ini termasuk satu jenis kesyirikan.

kalender

  Kedua, keburukan (karena) menyakiti orang yang kita meminta kepadanya dan ini termasuk satu jenis kezaliman terhadap makhluk.

  Ketiga, (keburukan karena) menundukkan diri kepada selain Allah Swt. dan ini termasuk satu jenis kezaliman terhadap diri sendiri”

Rasul Saw. bersabda, “Tidaklah menimpa seorang hamba suatu bencana, baik besar maupun kecil, melainkan karena suatu dosa, dan yang dimaafkan Allah darinya lebih banyak. Allah berfirman, ‘Dan apa yang menimpamu dari suatu musibah, maka itu disebabkan karena ulah tangan kalian dan Allah memaafkan banyak (kesalahanmu)“ (H.R. Tirmidzi).

Dengan begitu, hadits ini menerangkan kepada kita bahwa musibah bisa menjadi penebus dosa tertentu berdasarkan pandangan Allah Swt. Kalau saja bencana itu kita sebut sebagai azab, berarti di balik azab itu Allah Swt. benar-benar menurunkan rahmat dan kasih sayang-Nya berupa pengampunan dosa. Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.

Dan hadits lain Rasul Saw. bersabda, “Tiap-tiap bencana apa pun yang menimpa seorang Muslim, sekalipun satu duri, adalah karena salah satu dari dua sebab. Yaitu, karena Allah hendak mengampuni dosa kesalahannya yang tidak dapat diampuni-Nya, melainkan dengan cobaan itu, atau karena Allah hendak memberinya kehormatan yang tidak mungkin dapat dicapainya melainkan dengan cobaan itu“;

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpa kamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri“ (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 79). Dalam ayat lain, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahanmu“ (Q.S. Asy-Syuuraa [42]: 30).

Maka, sudah sepatutnya kita banyak-banyak menyebut nama Allah Swt. dan senantiasa meminta ampun kepada-Nya. Bukan malah sebaliknya menjauhi Allah dengan meyakini sesuatu hal yang berbau syirik. Jika ada yang meyakini bahwa dengan melakukan ritual atau persembahan kepada seseorang atau para pendahulu sebagai bertawasul dengan para nabi dan wali, hanyalah agar beliau menjadi wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. atau agar beliau memintakan keamanan diri kepada Allah Swt., kesyirikan ini sama persisnya dengan yang dilakukan oleh kaum musyrikin di zaman jahiliah dahulu. Mereka memohon kepada berhala-berhala juga agar bisa lebih dekat dengan Allah Swt. atau mendapat syafaat di sisi-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt.:

Dan orang-orang mengambil penolong selain Allah mereka berkata: ’Kami tidaklah mengibadati mereka melainkan supaya mereka betul-betul mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’” (Q.S. Az-Zumar [39]: 3].

Firman Allah Swt. yang lain menerangkan:
Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’” (Q.S. Yunus [10]: 18).

Kesyirikan itu bertolak belakang dengan Rasulullah Saw. yang diutus untuk mendakwahkan dan memerangi kaum musyrikin jahiliah yang hanya menyekutukan Allah Swt. ketika mereka dalam keadaan aman dan tenteram, namun ketika ditimpa bencana dan membutuhkan pertolongan, mereka kembali mentauhidkan Allah Swt. Sebagaimana dalam firman-Nya:
Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka menyekutukan-Nya” (Q.S. Al-Ankabuut [29]: 65).

Orang yang melakukan ritual untuk persembahan kepada sesuatu adalah kelompok yang meyakini dan mempercayai akan sesuatu yang gaib sebagai perantara untuk mendapatkan ketenangan jiwa, keselamatan, termasuk menolak bala atau musibah. Padahal, Allah Swt. memerintahkan Muhammad Saw. supaya mengumumkan kepada segenap umat bahwa tidak ada sesuatu pun, baik di langit maupun di bumi, yang mengetahui ilmu gaib selain Allah. Hukum bagi orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib adalah orang tersebut telah mendustakan Allah Swt. Dalam firman-Nya,

Katakanlah: Tidak ada sesuatu di langit maupun di bumi yang mengetahui hal gaib kecuali Allah. Dan mereka tidak menyadari kapan mereka dibangkitkan” (Q.S. An-Naml [27]: 65). Wallahul Musta’an.  [ ]

 

Red: Ahmad

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment