Agar Selalu Menang Dalam Setiap Perubahan Zaman, Miliki Lima Kunci Ini

jabatan

Oleh: Tate Qomaruddin,Lc*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam berputarnya roda kehidupan (dunia) maka perubahan adalah sebuah keniscayaan sebagai sunatullah namun bukan perubahannya yang menjadi problemanya melain dimana posisi kita saat arus perubahan zaman tersebut berlangsung. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda,

alquran muasir

Setiap Nabi mempunyai sahabat dan hawari yang selalu berpegang teguh dengan petunjuknya dan mengikuti sunahnya. Lalu muncullah generasi penganti (yang buruk) yang (hanya) mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjuang (untuk meluruskan) mereka dengan tangannya maka dia adalah mukmin. Dan barangsiapa yang berjuang dengan lidahnya maka ia adalah mukmin. Dan barangsiapa berjuang dengan hatinya maka ia adalah mukmin. Dan tidak ada di belakang itu keimanan sedikit pun.” (H.R. Muslim)

Ini merupakana sinyalemen Rasulullah Saw. tentang apa yang akan menimpa umat Islam sepeninggal beliau. Dari hadis di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran, antara lain: pertama, bagi setiap penyeru kepada kebenaran pasti ada saja orang-orang yang mendukung dan membelanya. Namun demikian, pelajaran kedua, akan selalu terjadi perubahan (taghyir) pada kaum muslimin dalam hal kualitas keislaman dan keimanan. Ketiga, perubahan itu bisa menuju ke arah yang lebih baik atau buruk. Keempat, seorang mukmin harus berjuang untuk mengelola perubahan agar selalu mengarah ke arah kebaikan dan perbaikan.

Dakwah adalah proyek mewujudkan perubahan itu. “Pimpinan proyeknya” adalah Rasulullah Saw. dan mendapat “ordernya” langsung dari Allah Swt. Makanya ketika Rasulullah saw. di-mi’roj-kan ke Sidratul-Muntaha, beliau tidak minta tetap tinggal di sana. Padahal beliau bisa menikmati ibadah, bertemu dengan para nabi yang diutus sebelum beliau, dan bahkan menjadi imam mereka. Beliau tetap turun lagi dan menjadi penghuni bumi yang sarat dengan berbagai tantangan dan persoalan. Justru karena beliau memang mendapat tugas untuk membuat perubahan yang telah dilakukannya dengan sukses. Hal ini dijelaskan dalam ayat-Nya,

kalender

Sungguh Allah telah benar-benar memberi karunia kepada orang-orang mukmin karena Dia telah mengutus pada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Quran) dan hikmah (Sunah), meskipun mereka sebelum itu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali ‘Imran 3: 164)

Ayat itu menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. telah menjalankan proyek perubahan dan telah sukses dalam perjuangan melakukan perubahan itu. Proyek ini dimulai dengan pembangunan fondasi berupa individu-individu muslim. Di atas fondasi itu dibangun keluarga-keluarga Islam. Dari keluarga-keluarga islami terbentuklah masyarakat islami. Dan itu semua merupakan bekal untuk dakwah melakukan perbaikan terhadap pemerintahan agar menjadi pemerintahan yang islami. Tidak hanya sampai di situ saja. Dakwah juga terus bergerak untuk mengembalikan khilafah islamiyyah yang telah dihancurkan oleh orang-orang kafir dengan dukungan antek-anteknya. Dan dengan begitulah umat Islam akan menjadi guru peradaban bagi seluruh umat manusia atau yang sering diistilahkan dengan ustadziyyatul-‘alam.

Atas dasar itu maka tidak boleh umat Islam tinggal diam dengan tidak memberikan pengaruh pada perubahan yang terjadi. Perubahan adalah sunatullah. Perubahan akan terus bergulir. Jika tidak menuju yang baik pasti menuju keburukan. Jika bukan orang baik-baik yang mempengaruhi maka pasti orang-orang buruk yang melakukannya. Dan tanpa kesertaan orang-orang yang baik maka akan muluslah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk berkontribusi dan mengelola perubahan agar mengarah kepada perbaikan dalam segala sektor, di antaranya:

Pertama, mempersembahkan waktu, tenaga, harta untuk kemaslahatan Islam, umat Islam, dan umat manusia pada umumnya. Allah swt. Berfirman,

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. At-Taubah 9:120)

Ayat di atas memberikan informasi bahwa Allah tidak suka kepada orang yang berdiam diri dan tidak terlibat dalam perjuangan. Allah menyebutya bahwa perbuatan itu tidak layak. Dan sebaliknya, kepada orang yang terlibat dalam perjuangan di jalan Allah untuk menyebarkan kebaikan dan hidayah Allah swt. dengan apa pun yang dimilikinya, Allah menjanjikan segala yang dilakukannya akan bernilai amal saleh. Tidak ada yang sia-sia dari orang yang berjuang di jalan Allah, sekecil apa pun perjuangannya.

Berikutnya adalah  . . . . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment