Karakteristik Kaum Terlaknat (Tafsir Surat Al-Baqarah [2] 87-90) Bag 2

paku

Oleh : Dr. Aam Amiruddin, M.Si

Dan mereka berkata, ‘Hati kami tertutup.’ Tetapi, sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; Maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 88)

alquran muasir

Seolah menjawab pertanyaan Allah pada ayat sebelumnya, Bani Israil yang hatinya keras membatu berkata, “Hati kami tertutup.” Perkataan itu jelas mengandung ejekan dan olok-olok. Jawaban itu sama artinya dengan mereka tidak memahami yang disampaikan Rasulullah dan tidak menerima ajaran yang diampaikan oleh beliau. Sungguh kesombongan berlebih yang dipertontonkan Bani Israil laknatullah. Begitulah indikasi suatu kaum yang hanya dapat melihat hakikat suatu perkara dengan kacamata materi yang tampak dan kasat mata.

Akan tetapi, Allah Yang Maha Mengetahui mengemukakan bahwa pernyataan itu semata akal-akalan untuk menutupi pelanggaran mendasar yang dilakukan oleh Bani Israil. Semua itu lebih sebagai kutukan Allah akan perilaku mereka yang kelewat buruk. Kalaupun ada keimanan, tingkat keimanan mereka sangat lemah (sedikit) karena keimanan itu ada di balik penolakan terhadap sebagian besar ayat-ayat Allah dan meninggalkan kewajiban beramal.

Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 89)

kalender

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan mengenai contoh-contoh kekafiran dan sifat keras kepala Bani Israil terhadap Nabi Musa a.s. dan perintah-perintah Taurat. Pada ayat ini, dibicarakan tentang orang-orang Yahudi yang hidup pada permulaan Islam. Berdasarkan petunjuk-petunjuk yang tertulis dalam Taurat mengenai Nabi Muhammad Saw., mereka menunggunya dengan berhijrah dari kota dan rumah mereka menuju Hijaz. Orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya berkata kepada orang-orang musyrikin Madinah bahwa secepatnya seorang rasul yang bernama Muhammad akan diutus dan mereka akan beriman kepadanya. Mereka pun berkata akan mengalahkan semua musuh-musuh Rasulullah Saw.

Akan tetapi, ketika Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah, musyrikin Madinah justru beriman, sedangkan orang-orang Yahudi (akibat fanatik dan cinta dunia) mengingkarinya dan mendustakan yang tertulis di dalam Taurat. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan pengetahuan saja tidaklah cukup. Diperlukan semangat menerima kebenaran dan penyerahan diri. Walaupun orang-orang Yahudi (khususnya para cendekiawannya) telah mengetahui kebenaran Nabi Islam, mereka tidak siap menerima kebenaran dan tunduk di hadapannya. Begitulah ciri kaum terkutuk yang tidak memiliki rasa malu dan suka menjilat ludah serta perilakunya menghinakan diri sendiri.

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 90)

Betapa busuknya seorang hamba yang berani menjual keimanannya (dan menukarnya) dengan rasa gengsi dan egoisme. Hanya karena Rasulullah tidak berasal dari kalangan Bani Israil, bukti-bukti nyata kebenaran akan kenabian dan kerasulan Muhammad Saw. ditolak mentah-mentah. Padahal, Allah mengutus Rasulullah atas kehendak-Nya, atas karunia yang diberikan kepadanya.

Oleh karenanya, murka Allah pun datang berlipat ganda akibat kekufuran mereka yang berlipat ganda pula. Dengan memungkiri Muhammad Saw., Bani Israil sudah mendapat satu kemurkaan. Kemudian, kitab Taurat memerintahkan agar mereka beriman akan kedatangan Nabi Muhammad. Hal ini pun diingkari pula sehingga dapatlah mereka dua murka.

Dari empat ayat tadi, terdapat beberapa pelajaran dapat kita petik, di antaranya sebagai berikut.

1. Kedatangan para utusan Allah merupakan nikmat yang patut disyukuri. Jangan sekali pun mengikuti perilaku Bani Israil yang terkutuk yang mengingkari keberadaan para rasul, bahkan sampai berani membunuh mereka.
2. Allah senantiasa melihat dan menyaksikan apa pun yang kita lakukan. Satu kali kita melupakannya, Allah pun akan melupakan kita dan mengetahui apa saja yang kita perbuat.
3. Di hadapan Allah Swt., ketundukan dan kepasrahan tidak diukur dengan selera dan kecenderungan hawa nafsu.
4. Semua hamba adalah sama di sisi perintah dan hukum Allah tanpa membedakan ras, suku, warna kulit, dan sebagainya.
5. Kebahagiaan dan kebinasaan manusia berada di tangan-Nya. Jika ada sekelompok manusia yang mendapat murka dan laknat-Nya, itu semua karena kekafiran dan sifat keras kepala. Allah telah memberikan peluang kepada semua manusia untuk memperoleh hidayah dan petunjuk melalui para nabi yang diutus-Nya.
6. Motivasi dalam diri seseorang menjadi ukuran tingkat ketaatan dalam beragama.
7. Hasud menjadi sumber kekafiran. Orang Yahudi berhasrat agar nabi yang diutus senantiasa berasal dari etnis mereka. Ketika hal tersebut tidak terjadi, mereka lalu menjadi kafir.
8. Transaksi paling buruk adalah membeli siksa Allah dengan badan sendiri.
9. Kewajiban terhadap nikmat yang diberikan adalah bersyukur, sedangkan kewajiban terhadap dosa yang dilakukan adalah bertobat.
10. Sifat dengki merupakan “saudara” kezaliman yang hasil akhir dari keduanya adalah sama-sama tidak mendapatkan (diharamkan dari sesuatu) dan kehancuran.
11. Semua agama Ilahi saling membenarkan dan bukan saling berhadap-hadapan.

Semoga, semua pelajaran tersebut dapat kita serap dan dijadikan bahan introspeksi terlebih pada momentum Ramadhan seperti sekarang ini. Insya Allah. Wallahu a’lam.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment