4 Resep Agar Keimanan Selalu Naik

280
FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerSilakan Share

Oleh: Ayat Priyatna Muhlis*

PERCIKANIMAN.ID – – ada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa. Inilah yang di singgung Nabi saw. dalam beberapa haditsnya, bahwa iman manusia selalu fluktuatif. Berbeda dengan imannya para Malaikat yang stabil, dan tak pernah berubah. Atau berbeda pula dengan imannya  para iblis yang selalu berada di tingkat yang paling rendah.

Pada saat manusia berada pada puncak keimanan, ia akan bisa melampaui keimanan para malaikat. Namun, ketika imannya rendah, ia bisa lebih rendah dari imannya para iblis. Dalam Al-Qur’an, Allah swt. berfirman, ”Sesungguhnya Kami akan isi api neraka jahanam dengan kebanyakan jin dan manusia, karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Q.S. Al-A’raf [7]: 179).

Ketika iman berada pada titik nadinya yang paling menghawatirkan, di sinilah dosa-dosa itu bermunculan, bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Pada saat seperti ini, Allah SWT menegur hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat. Karena, dengan taubat itulah, seorang yang telah berdosa dijamin pasti akan diampuni, sehingga kembali lagi ke level iman tertingginya. ”Katakanlah [wahai Muhammad], ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian semuanya jika bertaubat. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”  (Q.S. Az-Zumar [39]: 53).

Iman bagi seorang hamba mempunyai kedudukan yang tinggi dan luhur. Setiap kebaikan dunia dan akhirat tergantung pada kebaikan dan kesempurnaan iman. Betapa banyak manfaat yang melimpah, serta kebaikan yang mengalir tanpa henti karena keimanan. Dari sini, kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan imannya.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang kondisi keimanan yang selalu fluktuatif. Allah SWT. berfirman: “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang sudah ada)”. (Q.S. Al-Fath [48]: 4).

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang pezina itu berzina, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Dan tidaklah seorang pencuri itu mencuri, ketika ia memiliki kesempurnaan iman serta tidaklah seseorang itu meminum khamr, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Sedangkan pintu taubat masih terbuka setelah itu.” (H.R. Muslim)

Dari pemaparan di atas, Rasulullah saw. selalu mengingatkan kita tentang keimanan yang selalu fluktuatif, terkadang naik terkadang pula turun. Terkadang kita berbuat baik kepada sesama, terkadang pula menyakiti, sehingga keimanan kita susah untuk stabil.

Lalu bagaimana agar keimanan kita tetap stabil? Dalam haditsnya, Rasulullah menasehati kita untuk selalu menjaga keimanan kita dari perbuatan dosa dan maksiat, ”Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa. Dan kita harus menghindari dan berhati-hati terhadap ketiganya. (Pertama), Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, (Kedua) berhati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan (Ketiga) berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati.” (H.R. Ibn Asakir)

Selain ketiga nasehat Rasulullah Saw. yang disebutkan dalam hadits tersebut, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan keimanan kita selalu stabil, antara lain:. . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

Leave a Comment