Hukum Bedah Mayat (Otopsi) Menurut Pandangan Islam

mayat

Ustadz Aam, bagaimana hukum bedah mayat ( otopsi) untuk kepentingan pengembangan Ilmu?

 

Ditinjau dari aspek tujuannya, bedah mayat ( otopsi) terbagi dalam tiga kelompok. Otopsi Anatomis, Otopsi Klinis, dan Otopsi orensik.Otopsi Anatomis adalah pembedahan mayat dengan tujuan menerapkan teori yang diperoleh mahasiswa kedokteran atau peserta didik kesehatan lainnya sebagai bahan praktikum tentang teori ilmu urai tubuh manusia (anatomi).

alquran muasir

Otopsi Klinis adalah pembedahan terhadap mayat yang meninggal di rumah sakit setelah mendapat perawatan yang cukup dari para dokter. Pembedahan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui secara mmendalam sifat perubahan suatu penyakit setelah dilakukan pengobatan secara intensif terlebih dahulu, serta untuk mengetahu ecara pasti jenis penyakit yang belum diketahui secara sempurna selama ia sakit.

Otopsi Forensik adalah pembedahan terhadap mayat yang bertujuan mencari kebenaran hukum dari suatu peristiwa yang terjadi, misalnya dugaan pembunuhan, bunuh diri, ataupun kecelakaan.

Pembedahan seperti ini biasanya dilakukan atas permintaan pihak kepolisian atau kehakiman untuk memastikan sebab kematian seseorang. Hasil visum dokter ( visum et repertum) ini akan mempengaruhi keputusan hakim dalam menentukan suatu perkara.

kalender

Secara garis besar, ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan semua jenis otopsi hukumnya haram. Alasannya hadis Berkata Aisyah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya mematahkan tulang mayat itu sama (dosanya) dangan mematahkannya pada waktu hidupnya.” ( H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah, lihat Nailul Authar, jilid III, No. 1781)

Pendapat kedua menyatakan otopsi itu hukumnya mubah (boleh). Alasannya, tujuan otopsi anatomis dan klinis sejalan dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan Rasulullah Saw.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah Saw. seraya bertanya, “Apakah kita harus berobat?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya hamba Allah. Berobatlah kamu, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga (menentukan) obatnya, kecuali untuk satu penyakit, yaitu penyakit tua.” ( H.R. Ahmad Abu Daud, dan Tirmidzi)

Rasulullah Saw. memerintahkan berobat dari segala penyakit, berarti secara implisit (tersirat) kita diperintahkan melakukan penelitian untuk menentukan jenis-jenis penyakit dan cara pengobatannya. Otopsi Anatomis dan Klinis merupakan salah satu media atau perangkat penelitian untuk mengembangkan keahlian dalam bidang Tujuan Otopsi Forensik sejalan dengan prinsip Islam untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dalam penetapan hukum. FirmanNya, “Sesungguhnya, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Jika kamu mene tap kan hukum di antara manusia, hen daknya kamu menetapkannya de ngan adil…” ( Q.S. An-Nisā’ [4]: 58)

Seorang hakim wajib memutuskan suatu perkara hukum secara benar dan adil. Untuk sampai ke tujuan tersebut, diperlukan bukti-bukti yang sah dan akurat. Otopsi Forensik merupakan salah satu cara atau media untuk menemukan bukti. Mencermati alasan-alasan yang dikemukakan di atas, bisa disimpulkan bahwa otopsi anatomis, klinis, dan forensik hukumnya mubah  (boleh) karena tujuannya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Adapun bedah mayat yang dilakukan tanpa tujuan yang benar, hukumnya haram sebagaimana dijelaskan pada pendapat pertama. Wallahu A’lam.

*  Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah