Merasa Dipermainkan Calon ? Begini Cara Menghadapinya

22

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 

Sudah menjadi kelaziman jika sebelum memasuki jenjang rumah tangga kedua calon mengadakan taaruf (saling kenal) meski tidak harus secara langsung. Namun yang harus dipahami bahwa taaruf bukanlah pintu masuk mengenal lebih jauh atau dalam bahasa anak sekarang pacaran. Sebab dalam ajaran Islam tidak ada proses pacaran sebelum memutuskan ke pelaminan. Sejatinya bingkai taaruf harus berada dalam koridor saling menjaga hijab sejak awal dan berniat tidak membohongi  dan menyakiti calon pasangan. Taaruf harus dilandasi oleh tujuan mulia pernikahan dan saling menjaga kejujuran serta kesetiaaan dari awal. Secara etika akhlak, sebaiknya dilakukan satu per satu.

alquran muasir

Namun dalam perjalanannya proses taaruf juga bukan jaminan bahwa keduanya akan berakhir dipelaminan. Tidak sedikit yang harus putus ditengah jalan dengan berbagai sebab atau alasan. Pastinya jika tidak jadi bersatu dalam rumah tangga menjadi pasangan suami istri maka keduanya tidak boleh saling mendzolimi atau menyakiti. Jika tidak cocok dengan seorang akhwat atau ikhwan dalam satu proses taaruf, selesaikan atau tutup proses taaruf tersebut dengan cara yang baik dan setelah itu baru bertaaruf dengan akhwat atau ikhwan yang lain. Janji adalah hutang kepada Allah Swt. sepanjang bukan janji untuk bermaksiat kepada-Nya. Bila sudah tidak cinta kepada calon pasangan, sebaiknya memang berterus terang menyudahi taaruf. Bahkan, khitbah sekalipun masih bisa putus sebelum janur kuning melengkung atau sebelum hari H akad nikah diikrarkan.

InsyaAllah, akan ada hikmahnya di balik “musibah” putusnya jalinan taaruf yang sudah berjalan tersebut. Berikutnya perlu adanya perhatian untuk proses taaruf selanjutnya, agar bisa saling memahami yaitu:

  1. Tentukan Kriteria Calon Pasangan Sebelum Menikah

Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaklah utamakan yang beragama, niscaya kamu berbahagia.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

kalender

Saat Al-Hasan bin Ali ditanya oleh seseorang tentang kepada siapakah putrinya dinikahkan, beliau menjawab, “Dengan laki-laki yang bertakwa kepada Allah sebab ia akan mencintai putriku dan memuliakanya. Jikalau ia marah,niscaya tidak akan menzalimi pueriku.”

Dalam hadits yang lain, Nabi Saw. berpesan, Apabila datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridoi agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah ia dengan putri kalian. Sebab jika tidak, maka akan terjadi  fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (H.R. Tirmidzi)

Komitmen pernikahan hanya dimiliki oleh merka yang berkomitmen pada agama, terutama mereka yang bersifat jujur, sabar, dan pandai mensyukuri nikmat-Nya. Cinta dan kasih sayang adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah Swt. (Q.S [30]: 21). Hendaknya, proses taaruf atas sepengetahuan orangtua masing-masing dan kedua belah pihak beritikad untuk tidak menzalimi calon pasangannya. Hak akhwat pula untuk menentukan pilihan jodohnya berdasarkan empat kriteria dalam hadits tersebut.

  1. Cinta dan Benci Karena Iman

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya keimanan, yaitu menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai-Nya dari selain kedua mereka berdua, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci jika dicampakkan ke dalam api neraka.” (H.R. Muttafaq alaih)

Orang-orang yang beriman akan merasakan manisnya keimanan dan ketentraman serta bersemangat untuk taat kepada Allah Swt. Ketika menghadapi cobaan, dia bersabar dan membenci kemaksiatan. Karenanya, janganlah terlalu cinta dan benci kepada makhluk-Nya agar tetap bisa merasakan manisnya iman dan membenci kekufuran.

  1. Musibah adalah Penggugur Dosa

Pahami bahwa musibah bisa menggugurkan dosa dan mengangkat derajat keimanan di hadapan Allah Swt. Dengan demikian, kita tidak harus terlalu larut dalam rasa perih dan sedih ketika menerima musibah. “Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri, atau yang lebih dari itu, melainkan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan.” (H.R. Muslim). Apapun kepahitan yang dirasa, insya Allah bisa menjadi penggugur dosa. Juga, yakini bahwa ada hikmah di balik musibah (Q.S. [2] :216)

Berikutnya adalah  . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment