Hati-hati Sering Unggah Foto Bayi Di Medsos, Bisa Jadi Bunda Alami Krisis Identitas

271c

Kebahagiaan menjadi ibu tak bisa dikalahkan oleh apa pun di dunia. Ya, bagaimana tidak? Buah hati yang dinanti akhirnya hadir melengkapi rumah tangga Anda dan suami. Saat ini rasa bahagia yang memuncak dan deras meliputi emosi seorang ibu baru diekspresikan lewat aliran foto-foto sang bayi mungil di media sosial.

Ragam ekspresi sang buah hati pun dibagikan kepada dunia luar lewat saluran media sosial. Bayi sedang menangis, foto, dan unggah. Bayi sedang makan, foto, dan unggah. Bayi tidur tersenyum, foto, dan unggah. Terus, terus, dan terus. Kondisi itu tentunya tidak asing untuk sebagian dari Anda yang aktif berkomunikasi di media sosial.

alquran muasir

Namun Sarah Schoppe-Sullivan, Profesor of Human Sciences and Psychology, di The Ohio State University, AS, mengatakan bahwa ibu yang terlalu rajin mengunggah foto bayinya atau anak di media sosial bisa jadi sedang mengalami krisis identitas sehingga mencari pujian dan sanjungan dari teman-temannya di media sosial.

Para ibu ini, kata Schoppe-Sullivan, mencoba menavigasi fase rumit dalam kehidupan mereka dalam menyeimbangkan identitas baru dan identitas lama sebagai seorang wanita. Dia mengatakan bahwa para ibu tersebut bisa jadi tengah mengalami guncangan emosional menjadi ibu baru, tetapi mereka tidak menyadarinya.

“Banyak ibu yang merasa tertekan dengan kebutuhan untuk memperlihatkan kebahagiaan dan kehidupan positif menjalani peran sebagai ibu,” jelas Schoppe-Sullivan seperti dilaporkan laman osu.edu belum lama ini.

kalender

Schoppe-Sullivan dan rekan penulis menganalisis 127 partisipan wanita yang baru saja menjadi ibu. Mereka menemukan bahwa para ibu baru yang hobi mengunggah foto anak di media sosial merasakan tekanan menjadi ibu yang sempurna. Selain itu, mereka juga kesulitan dalam menerjemahkan peran sebagai ibu sebagai aktivitas utama dalam hidup.

Alhasil, peran sebagai ibu tersebut, mereka menerjemahkannya dengan foto bayi dan anak di media sosial untuk menegaskan bahwa mereka telah menjadi seorang ibu.

Selanjutnya, hasil studi juga menemukan bahwa pujian dan sanjungan dari teman-teman di media sosial meredakan kekhawatiran dan rasa panik seorang wanita dalam menjalani peran sebagai ibu. Oleh Schoppe-Sullivan dan rekan-rekannya hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal Sex Roles. Jadi apakah anda tulus membagi kebahagian atau justru mengalami krisis identitas?. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment