Apa Itu Uzlah? Benarkah Uzlah Itu Ciri Kesalehan?

uzlah

Ustadz, apakah yang dimaksud dengan uzlah? Benarkah uzlah merupakan tanda-tanda kesalehan?

 


Uzlah artinya mengasingkan diri dari kehidupan sosial dengan tujuan mendapatkan ketenangan spiritual. Ada orang yang secara total bahkan ekstrim meninggalkan kehidupan sosialnya, dengan niat ingin menyucikan diri di gua atau masjid di daerah terpencil. Tak jarang mereka meninggalkan anak dan istrinya tanpa memberikan nafkah. Uzlah seperti ini tidak senafas dengan ajaran Islam yang mengajarkan hidup seimbang antara dunia dan akhirat.

alquran muasir

“Carilah pahala akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa kan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” ( Q.S. Al-Qaśaś [28]: 77).

Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa kita harus menggunakan kenikmatan duniawi untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Carilah dunia dan gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kita diperintahkan menyisihkan waktu untuk melakukan muhasabah (perenungan atau kontem plasi) dengan tujuan menyucikan spiritual tanpa perlu mengasingkan diri dari kehidupan sosial.

Rasulullah Saw. bersabda, “Selayaknya orang yang akalnya sehat memiliki empat waktu; ada waktu untuk munajat (ibadah), ada waktu untuk tafakkur (berfi kir), ada waktu untuk muhasabah (introspeksi diri atau merenung), dan ada waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup (seperti makan, minum, dan istirahat).” ( H.R. Ahmad)

kalender

Ustadz Sayyid Quthb menyebutkan bahwa proses penyucian hati dalam rangka menggapai kebahagiaan yang hakiki, tidak bisa lepas dari realitas kehidupan. Kekuatan spiritual yang dibenturkan dengan dunia nyata adalah lebih utama, lebih kokoh daripada kesucian hati yang berada di dalam gua atau masjid.

Orang saleh bukanlah yang melarikan diri dari tantangan kehidupan dengan alasan menjaga kesucian hati. Tetapi mereka adalah yang terjun dalam gelanggang kehidupan dengan tetap menjaga kesucian hati. Allah Swt. mengumpamakan keimanan yang kuat bagai pohon yang kokoh; akarnya menghunjam mencengkeram bumi, sementara pohon, ranting dan daunnya menjulang ke langit, mampu memberikan keteduhan pada sekitarnya dan berbuah setiap musim.

“Tidakkah kamu perhatikan bagai mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat menghujam ke bumi, dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu menghasilkan buah setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” ( Q.S. Ibrāhīm [14]: 24-25)

Kesimpulannya, kita harus punya waktu untuk muhasabah (introspeksi dan perbaikan diri) tanpa perlu mengasingkan diri (uzlah)
dengan alasan menjaga kesucian hati. Orang saleh, bukanlah mereka yang lari dari kenyataan hidup tapi mereka yang mampu menghadapi tantangan berbekal keimanan yang kokoh. Wallahu A’lam.

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment