Waspadai Jika Remaja Browsing Lima Jam Lebih Dalam Sehari, Mungkin Gejala Depresi

internet-konten-negatif

Jika dilakukan secara bijakasana sesuai kebutuhan kegiatan browsing di internet malah bisa mendukung aktivitas yang positif. Namun jika dilakukan berlebihan bahkan diluar batas kewajaran maka itu sudah disehat lagi. Apalagi jika kegiatan browsing berlebihan tersebut dilakukan oleh remaja. Ada beberapa indikasi negatif jika hal tersebut dilakukan oleh remaja. Karena mentalnya masih tergolong labil, remaja dikenal sangat rentan melakukan percobaan bunuh diri. Apalagi penelitian mengungkap, ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko bunuh diri mereka.

Meski cenderung menurun tetapi dari catatan sebelumnya terungkap, angka bunuh diri remaja di Amerika di tahun 2013 tergolong masih tinggi, yaitu 1,748 per 100.000 remaja, terutama yang berusia 15-19 tahun. Bahkan bunuh diri tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi kedua pada remaja.

alquran muasir

Penelitian yang dilakukan American Academy of Pediatrics kemudian mengungkap ada dua hal yang menjadi pemicu utama atau mampu meningkatkan risiko bunuh diri pada remaja, yaitu kebiasaan menggunakan internet dan bullying. Ironisnya, keduanya begitu dekat dengan keseharian mereka.

Peneliti mengatakan, bullying selama ini menjadi isu yang mengkhawatirkan di kalangan remaja. Namun studi inilah yang akhirnya bisa memberikan kepastian bahwa ada keterkaitan nyata antara bunuh diri dengan tindakan bullying di kalangan remaja.

“Karena meski selama ini menjadi isu utama yang dikhawatirkan pada remaja, tetapi baru kali ini keterkaitan antara keduanya dapat dipastikan,” tandas peneliti, Dr Benjamin Shain.

kalender

Fakta lain yang ditemukan peneliti adalah penggunaan internet hingga lima jam lebih dalam sehari bisa jadi indikator dari kecenderungan tersebut.

“Penggunaan internet selama ini bisa menjadi sinyal bahwa si remaja ini ‘menderita’, mengindikasikan bahwa yang bersangkutan mengalami depresi tingkat tinggi. Makanya cyberbullying adalah masalah serius, karena ini sama buruknya dengan bullying secara langsung,” terangnya seperti dilaporkan ABC News belum lama ini.

Selain itu, bila dilihat dari aspek gender, remaja lak-laki dilaporkan lebih banyak meninggal akibat bunuh diri ketimbang remaja perempuan. Akan tetapi percobaan bunuh diri justru lebih banyak dilakukan oleh remaja perempuan.

Dalam kesempatan terpisah, Pam Cantor, mantan ketua American Association of Suicidology yang juga pernah menjadi bagian dari Department of Psychiatry at Harvard Medical School, mengatakan ciri-ciri remaja yang berisiko bunuh diri sebenarnya bisa dilihat secara tak kasat mata.

Gejalanya mulai dari gangguan makan, gangguan tidur, cenderung apatis terhadap sesuatu, mood yang berubah-ubah, kasar, menarik atau menutup diri.

“Kalau hanya terlihat satu-dua gejala tidak selalu berarti anak ingin bunuh diri. Hanya saja bila ini bertahan sampai berbulan-bulan atau seorang remaja memperlihatkan beberapa gejala sekaligus, barulah orang tua mulai mencari bantuan,” sarannya.

Bila menjumpai anak dengan risiko semacam ini, orang tua bisa mengajaknya bicara, tetapi tidak untuk diceramahi. Anak yang stres atau depresi biasanya hanya ingin didengarkan dan berikan dukungan yang dibutuhkan.

“Untuk antisipasi, sembunyikan benda-benda berbahaya seperti pisau dapur, pistol, obat-obatan atau kunci mobil,” papar Cantor.[ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment