Muliakan Al-Qur’an Agar Al-Qur’an Memuliakan Kita, Begini Caranya (Bag.2)

khatam al quran

Oleh: Tate Qomaruddin*

Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (yakni Quran) kaum-kaum dan merendahkan kaum-kaum yang lain.” (HR.Muslim)

Pada tulisan sebelumnya telah kita pahami bahwa cara memuliakan Al-Qur’an yang harus kita tempuh sehingga ia (Al-Qur’an) memuliakan kita yakni yang pertama, meyakini segala kebenaran dan kebaikan Al-Quran, kedua membaca Al-Quran. Selanjutnya adalah:

Ketiga, mempelajari.

Membaca Al-Qur’an, memang  mendatangkan pahala yang luar biasa bagi pelakunya, sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu. Akan tetapi, Al-Qur’an diturunkan bukanlah “sekadar” agar manusia mendapatkan pahala dengan membacanya. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang lengkap yang menjamin kebahagian  manusia di dunia dan akhirat.

Tetapi, bagaimanakah manusia dapat menangkap maksud bahwa Al-Qur’an itu petunjuk hidup jika tidak mampu memahaminya? Dan, bagaimanakan kita dapat memahaminya jika tidak pernah memelajarinya? Bukankah untuk hal yang sederhana saja kita membutuhkan buku petunjuk untuk memahaminya. Untuk mengoperasikan handphone atau gadget, kita harus memelajari buku petunjuk yang dikeluarkan oleh produsen barang yang kita beli itu.

Apatah lagi untuk mengoperasikan diri kita, tentu kita perlu menggunakan petunjuk dari Penciptanya. Dia-lah Allah. Dan, petunjuknya adalah Al-Qur’an. Kita baru akan mampu  menjalankan petunjuknya manakala kita memelajari dan memahaminya.

Allah Swt. telah menegaskan pentinya mempelajari Al-Qur’an itu,

Tidak mungkin seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah serta hikmah dan kenabian berkata kepada manusia, ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi, ia akan berkata, ‘Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah karena kamu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!’” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 79)

Bagian akhir ayat itu menegaskan bahwa memelajari Al-Qur’an secara kontinyu adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk menjadi manusia rabbani. Orang yang rabbani adalah orang yang Allah sentris, berpusat kepada Allah. Motivasi hidupnya karena Allah; tujuan hidupnya rido Allah; dan segala sepak terjangnya berdasarkan aturan Allah.

Rasulullah Saw. pun bersabda,

Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang memelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. menggambarkan sebagian kandungan Al-Qur’an, dengan sabdanya,

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan (dari) Allah. Maka terimalah hidangannya sekuat kemampuan kalian. Sesungguhnya Al-Qur’an ini tali Allah, cahaya benderang, obat yang mujarab, perlindungan bagi orang yang memegangteguhnya, kesalamatan bagi orang yang mengikutinya yang tidak akan menyimpang –hingga harus dikecam, tidak akan meleceng –hingga harus diluruskan. Keajaibannya tidak akan habis-habisnya dan tidak akan menjadi usang karena banyak dibaca berulang-ulang.” (H.R. Hakim dan dia mengatakan hadis ini shahih akan tetapi Al-Bukari dan Muslim tidak mengeluarkannya)

Di antara bentuk keajaibannya adalah  banyaknya isyarat-isyarat saintis di dalamnya. Tentu saja, kehebatan Al-Qur’an bukan hanya terletak pada isyarat-isyarat saintisnya, seperti yang selama ini terungkap.  Yang terbesar dan yang terhebat adalah justru dalam kapasitasnya sebagai pedoman (manhaj) kehidupan.

Oleh karena itu orang yang telah mampu mengungkap isyarat-isyarat sains dan tekhnologi dari Al-Qur’an namun belum mampu menjadikannya sebagai pedoman dan pegangan hidup,  belumlah menyikapi Al-Qur’an secara benar.

Nah, segala keajaiban Al-Qur’an dari sudut pandang manapun baik sains, ekonomi, politik, perundang-undangan, budaya, dan lain-lain, yang terkandung dalam Al-Qur’an, tidak mugkin diperoleh tanpa mempelajari dan mengkajinya. Lebih-lebih untuk bisa menjadikan Al-Qur’an itu sebagai penerang kehidupan. Tanpa mempelajarinya,  alih-alih menjadi penerang kehidupan, Al-Qur’an hanya dibaca pada momen-momen kematian. Itupun bukan sebagi nasehat bagi yang masih hidup,  melainkan sebagi tuntutan rutinitas ritual untuk “membahagiakan”  orang yang telah mati tersebut. Keempat adalah  mengamalkan . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 143 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment