Ketika Layar Kaca Semakin Meracuni Anak Kita

261a

Oleh: Ali K*

Perkembangan dan kemajuan zaman dewasa ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi. Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Semua kemajuan tersebut adalah buah dari perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak pernah surut dari pengkajian manusia. Pengetahun berasal dari rasa ingin tahu kemudian seterusnya berkembang menjadi tahu. Manusia mengembangkan pengetahuan khususnya teknologi untuk menunjang kemajuan hidup serta kemudahan dalam menjalani kehidupan ini. Seperti halnya sebuah televisi yang telah menjadi sahabat menemani anak-anak. Dalam keluarga modern yang para orangtuanya sibuk beraktifitas di luar rumah, televisi berperan sebagai penghibur, pendamping, dan bahkan ‘pengasuh’ bagi anak-anak mereka.

alquran muasir

Sayangnya, peran vital televisi sebagai media hiburan keluarga tampaknya belum diimbangi dengan menu tayangan yang bermutu. Bahkan cenderung mengalami disorientasi dalam ikut mendidik penonton. Hal ini kita bisa lihat di setiap stasiun televisi, tayangan yang mengandung unsur pornografi, vulgarisme, dan kekerasan masih menjadi andalan dan menjadi sajian rutin serta dapat ditonton secara bebas termasuk oleh anak-anak.

Kita akui, tayangan televisi akhir-akhir ini cenderung kurang selektif. Tayangan pada jam utama (prime time) sering menyajikan sinetron yang mengangkat cerita kurang bermutu seperti roman picisan, intrik-intrik rumah tangga kelas atas, kisah horor, komedi yang sedikit ‘syur’ dan sejenisnya. Sedangkan, porsi tayangan sinetron yang secara spesial mengangkat dunia anak-anak sering kali berisi adegan jorok, latah, dan mengandung unsur kekerasan. Bahkan, untuk tayangan ‘pentas seni’  ditayangkan secara langsung dengan melibatkan ratusan penonton  untuk bergoyang bersama plus pemberian hadiah berupa sejumlah uang kepada mereka yang goyangannya paling menarik. Yang meresahkan, acara ini ditayangkan pada waktu yang sangat strategis sehingga dapat ditonton oleh anak-anak. Anak-anak bahkan sangat mahir menirukan berbagai joget yang ditampilkan di acara ini, mulai dari Keong Racun, Kereta Malam, hingga Oplosan.

[AdSense-A]

kalender

Bisa dikatakan, televisi nasional lebih cenderung menitikberatkan pada sisi bisnisnya. Sebagai konsekuensinya, para awak televisi harus memilih strategi tepat dalam menggaet segmen pemirsa. Upaya merebut hati penonton ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan rating sekaligus menaikkan iklan yang masuk.

Dalam iklim kompetisi tersebut, ternyata beberapa televisi memilih jalan pintas antara lain dengan mengeksploitasi dunia anak-anak dan remaja secara berlebihan. Eksploitasi ini diindikasikan dengan judul-judul sinetron remaja yang disajikan sering kali bertemakan vulgarisme, menantang, dan mengandung unsur pornografi.  Peran yang dimainkan oleh para artis remaja sering kali bertabrakan dengan norma pergaulan masyarakat dan belum sesuai dengan tingkat perkembangan psikologisnya.

Salah satu buktinya, banyak artis usia remaja yang dari pengakuannya belum pernah berperlukan dan berciuman dipaksa untuk memerankan adegan percintaan, pacaran, serta menjalankan adegan berciuman, berpelukan, dan bergendongan sesuai arahan skenario. Banyaknya alur cerita sinetron remaja yang mengambil seting anak-anak sekolah lengkap dengan seragam sekolahnya, lokasi sekolah, aneka pergaulan di kelas dan luar kelas. Padahal jika dicermati, beberapa adegan sinetron yang berseting sekolah tersebut tidak sesuai dengan norma agama dan adat ketimuran yang berlaku. Beberapa tayangan sinetron tidak mengambarkan realita kehidupan masyarakat Indonesia dan cenderung menampilkan gaya hidup hedonenisme.

Sedangkan, tayangan yang mendidik bagi anak-anak belum diakomodasi. Anak-anak seakan dilupakan. Porsi paket acara yang dikonsumsikan untuk mereka seperti acara permainan, pentas lagu anak, kuis, dan acara-acara lain yang bersifat mendidik sudah langka, untuk tidak dikatakan sudah menghilang. Minimnya komitmen pendidikan pertelevisian nasional sudah sepatutnya menyadarkan para pengelola televisi. Dari sini akan lahir langkah konkret dalam memperbaiki kualitas tayangan televisi sebagai bagian dari upaya pendidikan moral bangsa.

Upaya memperbaiki kualitas tayangan televisi dirasakan semakin mendesak dilakukan. Alasannya, kualitas moral bangsa saat ini sedang terpuruk yang ditandai oleh tingginya pelaku korupsi, kriminalitas, dan tindakan pelanggaran moral lainnya. Di pihak lain, peran lembaga keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendidik moralitas anak-anak dan remaja semakin merosot. Dalam kondisi demikian, akan sangat kontra-produktif jika menu tayangan televisi yang disaksikan anak-anak dan remaja malah bermuatan pornografi.

Oleh karena itu, sudah saatnya pengelola televisi mengkaji ulang berbagai sajian yang ingin ditayangkan. Harapannya, mereka bisa menyajikan beraneka acara yang sarat dengan pesan-pesan positif edukatif. Sebaliknya, mereka juga perlu mengurangi tayangan sinetron yang kurang memupuk pendidikan budi pekerti.

Dalam perspektif kesenian, tayangan sinetron merupakan hasil rekaaan sang sutradara yang isinya tidak mesti meliput realitas empiris dari pergaulan remaja kita sehari-hari. Meskipun demikian, sinetron akan memberi dampak psikologis bagi para penontonnya jika ia ditayangkan oleh sebuah media publik seperti televisi. Ia akan berdampak positif bagi pemupukan moralitas anak-anak dan remaja jika isinya mengandung ajakan berbudi pekerti luhur, bekerja keras, ulet, giat belajar, berdisiplin, dan sejenisnya.

Sebaliknya, sinetron yang berisikan adegan percintaan atau pacaran akan cenderung mengajari anak-anak dan remaja untuk berpacaran, berpenampilan seksi, berorientasi hidup hedonistik, serta berpola hidup serba senang dan serba mudah. Adegan dalam sinetron sering kali ditiru dalam prilaku mereka sehari-hari. Atau jika tidak ditiru, minimal akan mengkontaminasi pikiran polosnya. Berikut langkah kita mencegah agar anak tak teracuni tayangan televisi . . . . . .

[AdSense-A]

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment