Stimulus Hati Agar Rasakan Mutmainnahnya Hidup

masjid

Oleh: Deni Kusuma*

Syaitan adalah ruh jahat yang selalu menggoda manusia untuk melakukan suatu perbuatan yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah SWT.  Manusia sering kali tergelincir berbuat kesalahan dan kekhilafan. Pada dasarnya itu sudah menjadi watak manusia.  Baik dilakukan dengan sengaja maupun tidak. Akan tetapi semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. Seseorang dikatakan mutlak berbuat kesalahan karena belum mengetahui baik dan buruknya perbuatan tersebut. Apabila sudah mengetahui kesalahannya lalu melakukan untuk yang kedua kalinya, maka pada saat itulah ia tergelincir berbuat kehilafan.

alquran muasir

Tolak ukur keimanan

Sering kali kita terpengaruhi oleh hal-hal yang membuat kita lupa. Hal itu memang sukar dihindari. Hal-hal yang kita lihat, dengar, dan rasakan bisa menjadi tolok ukur keimanan kita kepada Allah SWT. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika disikapi dengan baik maka akan berbuah pahala, jika terlena, maka akan berakibat buruk pada diri kita.

Pada saat kita terlena, kefokusan kepada Allah akan memudar. Hal ini sering kita alami. Terlepas dari banyak permasalahan yang datang, kita juga seolah tidak mengerti tentang Allah yang maha gaib. Inilah yang menjadi dilema kita. Kita akan mudah mengingat sesuatu jika sesuatu tersebut nyata atau khayalan. Sementara Allah tidak dibuktikan secara kongkrit dan tidak bisa dideskripsikan secara khayal.

kalender

Mir’ah qalbu

Kita diciptakan olehnya tapi tidak melihatnya. Kondisi seperti inilah yang menjadi peluang syaitan untuk menyeret kita dalam kelalaian. Akan tetapi kita punya banyak cara untuk berinteraksi dengan Allah. Ada hati pada manusia. Padanyalah kita mempertaruhkan antara kebaikan dan keburukan. Sebagiamana kata Bimbo “hati adalah cermin (mir’tul qalbi), tempat pahala dan dosa berpadu”. Dari sini dapat dipahami, agar hati selalu terpenuhi dengan kebaikan maka harus ada stimulus berupa tingkah laku kebaikan itu sendiri. Dengan begitu hati akan terdorong untuk menggetarkan sangkaan-sangkaan positif sehingga mengahasilkan perasaan tenang (mutmainnah).

Dalam Nasoibul Ibad karya Ibnu Hajar Al-Atsqalaniy seorang ahli hadits menuliskan salah seorang ulama Ka’ab Al-Ahbar yang jauh-jauh hari sudah memberikan tawaran kepada kita selaku umat muslim untuk senantiasa memperhatikan tiga hal. Ketiga hal itu dapat dijadikan stimulus yang akan mendukung hati kita berprasangka baik. Selain itu bisa dijadikan penangkal syaitan yang selalu mengalir lewat aliran darah dalam tubuh kita. Diantara tawaran yang ia berikan. Berikut adalah langkah atau cara agar hati dan hidup kita menjadi tenang . . . . . .

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment