Konspirasi Kemaksiatan Itu Suburkan Generasi ‘Kebo’

252a

Oleh: M. Iqbal*

Bolehlah kita membuat kosakata beken ala Vicky; konspirasi kemaksiatan! Penulis cenderung memandang kemaksiatan yang terjadi kini sebagai sebuah kegiatan terorganisasi. Terlalu berlebihan? Mungkin. Tapi yang jelas, perilaku maksiat sebagian masyarakat kita yang kronis pastilah punya faktor pendukung. Nah, para pendukung kemaksiatan inilah yang saya maksud terorganisir. Mereka tidak bergerak secara sporadis, melainkan punya visi dan agenda. Sebagian muslim yang kritis kerap menyatakan agenda kemaksiatan terorganisasi ini adalah untuk menekan populasi Islam. Apa kaitannya maksiat dan populasi penduduk? Dan, mengapa populasi Islam begitu mengancam bagi mereka?

alquran muasir

Sedari dulu hingga kini, para musuh Islam tidak henti-hentinya merancang program-program guna menghancurkan kaum mukmin. Sedangkan Islam, entitas masyarakat baru ini berkembang pesat sejak abad ke-7. Begitu gemilang, bahkan ketika kelompok lain berada dalam zaman kegelapan. Kecemburuan kaum Semit (Yahudi) ini terdokumentasi dalam Al-Qur’an.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 120).

Karena itu, gelombang penolakan terhadap Islam sudah gencar sejak Rasul masih hidup dan terus berlangsung hingga berabad-abad. Dengan pedang, mesiu, dan rudal mereka berusaha keras agar umat Islam takluk. Hasilnya? Nihil. Boro-boro tunduk dan takut, Islam kian menjamur sampai sekarang.

kalender

Mereka perlu strategi baru yang lebih mutakhir. Munculah ‘konspirasi kemaksiatan’. Mereka mulai berpikir, memukul kaum muslim tidak ada gunannya. Lebih baik membuat muslim kian jauh dengan ruh Islam dan Al-Qur’an. Dibuatlah agar kemaksiatan kian menarik dan semakin mudah. Melalui media-medi digelorakanlah hubungan tidak syari antar pria-wanita, para pemuda diajak hura-hura dan lupa agama. Opini publik digiring untuk tidak risau soal maksiat terselubung macam ini. Harapannya adalah agar umat kian nyaman dalam kemaksiatan tidak kasat mata hingga mereka lupa dan terlena. Kalau fasilitas kemaksiatan mulai banyak dan terorganisasi, bukan tidak mungkin para pemuda kian enggan menikah dan tidak mau memikul ‘beban’ rumah tangga. Jumlah pemuda yang mau menikah kian tahun kian menyusut, hal ini berbarengan dengan merebaknya kemaksiatan di masyarakat.

Para musuh Islam tahu, kekuatan umat terletak pada keluarga dan keturunan mereka yang banyak. Lihat saja para tokoh, alim ulama, dan cendikia muslim. Mereka memiliki anak yang tidak sedikit. Rata-rata, satu keluarga muslim punya anak tiga sampai lima, bahkan ada yang belasan. Inilah yang dikhawatirkan para musuh Islam. Populasi muslim yang terus meroket tiap tahun merupakan ancaman bagi mereka. Bahkan, sebuah sensus meramalkan bahwa muslim akan mendominasi dunia seratus tahun lagi. Tidak heran bila para aktivis antiIslam senantiasa mendorong para pemuda agar menyenangi budaya hedon. Tujuan mereka cuma satu, membuat pemuda enggan menikah.

Istilah “kumpul kebo” misalnya, bagi kota metropolis adalah kegiatan yang sepertinya biasa. Pergaulan bebas macam ini digandrungi pemuda karena terbebas dari ikatan suami-istri yang bagi mereka sangat membebani. Dengan ‘status’ pacar, mereka bebas berkehendak sesuka hati terhadap pasangannya. Mereka melakukan perzinaan sekalipun, masyarakat seolah telah melumrahkan hubungan macam itu. Para ‘kebo’ yang malas ini selalu menggunakan kondom (seperti yang dicontohkan oleh media massa dan program pemerintah), tujuannya agar terbebas dari beban menjadi orangtua. Mereka memandang seks seperti hiburan saja. Mereka bebas bergaul kapan saja mereka inginkan dan tanpa beban. Bahkan, jika pun mereka menikah dan punya anak, mereka memilih punya anak sedikit. Satu atau dua sudah cukup bagi mereka.

‘Konspirasi kemaksiatan’ memang bertujuan agar pemuda muslim malas membina hubungan serius dan terbiasa hura-hura. Hasilnya, mereka tidak akan pusing-pusing memikirkan pernikahan. Karena bagi mereka, menikah hanya menambah beban hidup saja. Pola pikir sempit ala ‘kebo’ ini secara tidak langsung akan mengurangi populasi muslim dunia. Dengan begitu, agenda ratusan tahun para musuh Islam bisa terwujud: melenyapkan muslim dari muka bumi! Sedikit demi sedikit, jumlah ‘kebo’ semakin banyak. Bila kita tidak awas, bukan tidak mungkin anak-anak kita dan generasi penerus bangsa tidak lain hanyalah kumpulan kebo semata. Naudzubillah!

Mengapa Menunda Menikah ?

Seperti pada artikel sebelumnya. Tolak ukur kita tentang kehidupan perlu diubah dulu. Kita harus tinggalkan ‘berhala’ materialisme dan kembali ke ‘jalan yang lurus’. Barulah kita bisa memandang pernikahan di usia muda sebagai sebuah solusi secara objektif. Bila di hati kita masih tebersit keraguan akan janji Allah, bukan tidak mungkin ‘dewa materi’ masih bercokol di hati. Menikah merupakan syariat Islam yang agung. Bahkan, ada hadis populer yang menyatakan bahwa menikah itu separuh agama. Itu artinya sebagian besar ‘proyek’ agama Islam bertumpu pada aktivitas sosial dan pernikahan merupakan gerbang kita untuk membangun masyarakat.

Merupakan sunatullah bahwa setiap mahluk mesti bertahan hidup. Agar umat manusia tidak punah, kita harus memastikan bahwa kita punya keturunan. Sehingga, sangat aneh bila ada kaum yang berpikir sebaliknya. Contohnya, katakanlah semua manusia adalah gay dan lesbian (terlalu ekstrim memang). Bagaiman cara mereka mempertahankan kehidupan umat manusia? Tidak perlu nalar agama untuk memahami bahwa konsep kaum ini dangkal. Bahkan, akal sehat manusia pun jelas-jelas akan menolak hubungan aneh ini. Alih-alih mempertahankan populasi, yang ada manusia menuju ambang kepunahan. Tujuan utama pernikahan yang pertama adalah untuk mempertahankan manusia agar tidak punah.

Setelah itu, kita perlu memastikan bahwa umat manusia ini berada dalam jalan yang benar. Tentu saja, selaku muslim kita yakin bahwa Islam adalah jalan terbaik. Karena itu, pernikahan dalam Islam selalu mengemban misi dakwah. Pernikahan tidak hanya berdimensi ibadah individu semata, tapi juga memperkuat jaringan dakwah. Semakin awal kita memulai, maka semakin cepat jaringan dakwah ini menyebar. Terlebih, dengan menikah lebih awal kesempatan kita untuk mendapat keturunan akan lebih banyak. Bukankah akan lebih mudah berdakwah kepada anak-anak kita ketimbang orang lain di luar lingkaran Islam? Itulah mengapa pernikahan syari yang dikaruniai banyak keturunan sangat disukai dalam Islam. Karena, semakin banyak anak, maka akan semakin banyak yang menyembah kepada-Nya. Semakin cepat kita memulai, maka semakin cepat pula ‘proyek sosial’ ini terlaksana. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah mantan wartawan, pemerhati masalah sosial dan penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment