Saatnya Wujudkan Komitmen Perbaikan Diri Usai Ramadhan

250

Oleh: Tate Qomaruddin*

Rasulullah saw. bersabda, Allah swt. berfirman, “Aku tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Dan Aku berada bersamanya saat dia mengingat-Ku.” (Rasulullah saw. bersabda), “Demi Allah, sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hambanya dibandingkan dengan seseorang yang menemukan barangnya yang hilang di gurun tandus.” Dan barangsiapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta. Dan barangsiapa mendekat diri pada-Ku sehasta maka Aku mendekatkan diri padanya sedepa. Dan jika dia menghadap pada-Ku dengan berjalan maka Aku mendekat padanya dengan berlari.” (HR.Muslim).

alquran muasir

Hadits qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim ini menjelaskan, antara lain tentang keharusan berbaik sangka kepada Allah Swt., tentang keutamaan bertaubat dan  tentang betapa pemurahnya Allah terhadap orang yang mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam perjalan hidupnya seorang manusia pasti terpapar oleh berbagai persoalan, melakukan kesalahan, terjebak pada langkah keliru dan seterusnya, karena memang tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Sementara waktu berjalan terus dan tak dapat dihentikan oleh keengganan pemalas serta tidak dapat dipercepat oleh semangat orang yang bekerja. Pada akhirnya semua kita akan kembali kepada-Nya. Pintunya adalah kematian!

Nah, meskipun demikian, kita tidak perlu berputus asa karena kasih sayang Allah melingkupi seluruh makhluknya. Justru kepada Allah kita harus terus berprasangka baik. Semakin menyadari kelemahan diri seharusnya semakin besar keyakinan kita akan kekuasaan Allah. Semakin besar masalah yang kita hadapi seharusnya semakin kuat keyakinan kita bahwa Allah Maha Mampu menyelesaikan segala persoalan hidup manusia. Semakin merasa bahwa kita tidak suci dari kesalahan seharusnya semakin cepat berlari untuk kembali kepada Allah; kembali ke jalan-Nya; kembali kepada fitrah kita.

kalender

Jangan sedikit pun terbersit dalam hati kita keraguan akan kekuatan Allah, karena Allah akan memperlakukan kita sesuai prasangka kita terhadap-Nya. Jangan sedikit pun keyakonan hati terganggu bahwa Allah mendengar doa dan permohonan setiap hambanya.

Makanya salah satu adab (tata krama) berdoa adalah ilhah. Terjemah kata ilhah dalam bahasa sehari-hari kita kira-kira adalah ‘ngotot’, bersikeras, pantang penyerah atau tidak mudah putus asa. Rasulullah saw. bersabda,

Janganlah lemah (tidak semangat) dalam berdoa. Karena tidak ada yang celaka karena berdoa.” (HR.Al-Hakim)

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bersikeras dalam berdoa.” (Al-Auza’i)

Oleh karena itu, maka ketika seseorang melakukan kesalahan tidak perlu berputus asa. Kesalahan itu manusiawi. Yang tidak boleh terjadi adalah setelah tahu salah tapi terus “ngotot” dalam kesalahan. Rasulullah Saw. menjelaskan,

Setiap anak Adam melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. At-Turmidzi dan Ibnu Majah)

Dan pada hadits yang dikutip di awal tulisan ini Rasulullah Saw. menjelaskan “Demi Allah, sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hambanya dibandingkan dengan seseorang yang menemukan barangnya yang hilang di gurun tandus.” Pernyataan Rasulullah itu ada cerita panjangnya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits lain:

Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hambanya –saat ia bertaubat, dibandingkan dengan seseorang yang menunggangi kendaraannya di padag tandus, lalu kendataannya itu kabur padahal di atas kendaraanya itu dia membawa makanan dan minumannya. Ia pun berputus asa karenanya. Lalu ia mendatangi sebatang pohon seraya berbaring di bawah bayangannya dalam keadaan berputus asa tentang kendaraannya (akan ditemukan). Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya itu sudah ada di hadapannya. Ia lalu memegang tali kendalinya dan mengatakan, akibat rasa bahagia yang luar biasa, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah tuhanmu,’ salah ucap karena saking bergembiranya.” (HR. Muslim)

Ini menggambarkan penghargaan Allah kepada siapa pun yang berdosa lalu bertaubat. Betapa besarnya kasih sayang Allah kepada manusia. Saat Dia mewajibkan kita beribadah dan taat kepada-Nya, Dia pun membukan pintu selebar-lebarnya bagi segala upaya perbaikan diri manakala ada seseoang yang salah dan terjerumus dalam dosa. Ini juga menunjukkan betapa realistisnya ajaran Islam. Di satu sisi Islam senantiasa mendorong kepada umatnya untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi segala dosa, penyimpangan, keburukan dan dosa. Akan tetapi bila pun terjadi kesalahan dan penyimpangan, Allah tetap membuka peluang dan pintu untuk perbaikan diri.

Dan  bagian akhir dari hadits yang tengah kita bahas ini adalah tentang penghargaan Allah kepada orang yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. “Dan barangsiapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta. Dan barangsiapa mendekat diri pada-Ku sehasta maka Aku mendekatkan diri padanya sedepa. Dan jika dia menghadap pada-Ku dengan berjalan maka Aku mendekat padanya dengan berlari.”

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment