Pelecehan Pelajaran Agama (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 77-82) Bag1

surga
FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerSilakan Share

Oleh : Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

 

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?”. (Q.S. Al Baqarah [2] : 77)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha mengetahui apa pun yang kita sembunyikan, apalagi yang kita tampakkan. Ayat senada bisa kita temukan juga dalam surat Al-Mujadalah ayat ketujuh, “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada pembicaraan antara lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Allah Swt. bahkan mengetahui kejadian sehari-hari yang sering luput dari pengamatan kita. Firman-Nya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfuz).” (Q.S. Al-Anam [6]: 59).

Pada ayat itu ditegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui daun yang terlepas dari rantingnya bahkan biji super kecil yang basah ataupun yang kering. Jelaslah bahwa fenomena apa pun tidak ada yang lepas dari pengetahuan Allah Swt., baik yang kecil ataupun yang besar.

Kalau kita cermati, terdapat korelasi kuat antara ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya. Tampaknya, ayat ini masih berkaitan dengan perilaku atau tabiat orang-orang Yahudi yang gemar melecehkan ajaran Nabi Musa a.s. Perlu diingat bahwa ketika Allah menceritakan perilaku dan tabiat buruk umat Yahudi, hal tersebut bertujuan supaya menjadi pelajaran bagi umat Islam agar tidak melakukan hal yang sama. Pada ayat sebelumnya disebutkan bahwa salah satu perilaku buruk pengikut Nabi Musa adalah menghindarkan diri dari kewajiban dengan banyak bertanya (yang tidak perlu).

Saat ini, masih ada orang Islam yang memiliki tabiat seperti orang Yahudi yang bertanya bukan untuk mendapat penjelasan tetapi untuk menghindarkan diri dari aturan Allah Swt. Sebagai contoh, ketika dijelaskan bahwa menyambung rambut itu hukumnya haram, ada yang bertanya bagaimana kalau rambutnya sintesis (bukan rambut asli)?

Ini salah satu contoh pertanyaan untuk menghindarkan diri dari aturan Allah. Dalam hadits tersebut sudah disebutkan cukup jelas bahwa “haram menyambung rambut” tanpa membedakan apakah rambut yang dimaksud asli ataupun sintesis. Meski makna hadits tersebut cukup jelas, ada sejumlah orang yang tetap mengajukan pertanyaan yang sifatnya bukan untuk mendapat penjelasan tetapi mencari pembenaran supaya menyambung rambut (sintetis) diperbolehkan.

Ketika kita bertanya kepada seorang ulama tentang suatu persoalan hukum agama, sebenarnya ulama yang bersangkutan tidak tahu apakah pertanyaan tersebut diniatkan untuk meminta penjelasan atau untuk menghindarkan diri dari aturan Allah. Namun jangan lupa, Allah Mahatahu yang tebersit dalam hati dan pikiran kita. Itulah sebabnya dalam surat Al-Baqarah ayat ke-77 ini Allah menegaskan, “Tidakkah mereka sadar sesungguhnya Allah Mahatahu apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan”.

Ayat ini pun menjadi motivasi bagi kita agar konsisten melakukan suatu kebaikan walaupun tidak ada orang yang mengetahuinya. Percayalah, Allah Mahatahu yang kita lakukan dan yakinlah bahwa Allah akan memberi balasan kebaikannya. Misalnya, seorang ibu yang tiada henti membimbing anak-anaknya agar sukses namun dianggap cerewet oleh anak-anaknya harus tetap melakukan tugasnya dengan tekun dan sabar.

Ibu yang bersangkutan harus yakin bahwa Allah Mahatahu yang dilakukannya dan Allah akan memberikan balasan kebaikan kepadanya walaupun anak atau suaminya tidak pernah memberi penghargaan. Allah Mahatahu apakah kita berilmu atau bergaya ilmuwan. Allah juga Mahatahu apakah kita rajin belajar atau bergaya terpelajar.

Pada ayat berikutnya, Allah berfirman mengenai sejumlah pengikut Nabi Musa yang tidak bisa membaca dan tulis dan tidak pernah belajar Taurat tetapi mengaku seolah-olah mereka menguasi kitab suci Taurat. Karena mereka sebenarnya belum pernah mempelajari Taurat, yang disampaikannya itu hanyalah karangan dan dongengan bohong.

Bersambung…

 

program marbot

Leave a Comment