Anjuran Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal

imageedit_3_6911052111

Ramadan bulan agung yang kedatangannya selalu dirindu dan kepergiannya selalu ditangisi kaum muslimin telah berlalu. Kini kita telah memasuki bulan Syawal,namun demikian seiring berlalu bulan Ramadan bukan berarti rangkaian ibadah yang telah kita kerjakan dengan rutin dan penuh semangat juga harus berlalu. Ramadan adalah ibarat sekolah (tarbiyah) baik fisik,mental hingga spiritual. Ramadan juga bulan ujian keimanan dan yang berujung pada predikat takwa (mutaqin) bagi yang lulus. Namun demikian predikat atau gelar mutaqin bukan berarti selesai diujung Ramadan,melainkan ada serangkaian amal ibadah yang harus terus berlanjut hingga bertemu Ramadan berikutnya. Begitu seterusnya hingga Allah memanggil hamba-Nya untuk mendapat perhitungan yang sempurna.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan usai Ramadan adalah puasa sunnah di bulan Syawal. Puasa Syawal adalah puasa sunnah enam hari di bulan syawwal, tidak ada aturan khusus tentang pelaksanaan puasa ini, artinya boleh dikerjakan enam hari berturut turrut, boleh juga terpisah-pisah, yang penting berjumlah enam hari. Dalil puasa Syawal  ini berdasarkan riwayat yang disampaikan Abu Ayyub ra berkata:

alquran muasir

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]

Dalam riwayat lain disebutkan : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun.”

Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Berdasar zhahir haditsnya, maka dapat di simpulkan bahwa waktu terbaik melaksanakan puasa ini adalah awal bulan Syawwal  yaitu mulai tanggal 2 Syawwal, karena lafazh “ atba`ahu” dalam hadits tersebut berarti mengiringi, sedangkan kalimat “mengiringi” mengandung arti dekat, maksudnya dekat dengan selesainya puasa Ramadhan.

kalender

Puasa ini tetap dianjurkan meskipun yang bersangkutan masih punya hutang puasa, karena perintah mengqadha` puasa bersifat muthlaq, sedangkan puasa Syawwal hanya ada di bulan Syawwal, tetapi bagaimanapun mendahulukan qadha` akan lebih baik. Orang yang mengerjakan puasa Ramadan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari dibulan Syawwal, maka dikatakan (ganjaran) orang tersebut seperti mengerjakan puasa setahun karena ada firman Allah:

Siapa pun yang berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat dari amalnya. Siapa pun yang berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan.” (QS.Al-An`am :160)

Sehingga secara sederhana jika kita hitung dengan rumus matematis maka ayat ini satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan, jadi kalau seorang berpuasa sehari berarti akan dibalas sepuluh kebaikan, dan kalau 30 hari (Ramadan) berarti akan dibalas 300 kebaikan, jumlah ini ditambah 6 hari = enampuluh kebaikan, jadi totalnya adalah 360 hari.

Namun berkenaan dengan dasar atau dalil tentang anjuran puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal ini ada beberapa muhadisin (ahli hadis) yang beda pendapat. Dasar hadis diatas yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya no 1984; Tirmidzi dalam sunannya no 690; Abu Dawud dalam sunannya 2078; Ibnu Majah dalam sunannya no 1706; Ahmad dalam musnadnya no 13783, 13953, 14183, 22433,22454 dan 22459. Pada semua sanad tersebut diatas terdapat rawi Sa`ad bin Said bin Qais. Rawi ini dilemahkan oleh Imam Ahmad dan Nasaa’i yang berkata : Ia  (Sa`ad bin Said bin Qais) tidak kuat hafalannya sehingga berdasar kelemahan di atas mestinya hadits tersebut tidak boleh dipakai sebagai hujjah yang menganjurkan adanya tuntunan puasa enam hari di bulan syawal atau yang lebih sering disebut “Puasa Syawal”.

Namun demikian makna hadis ini tetap dapat dipakai karena ada riwayat : “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah `Idul Fitri, maka seakan ia berpuasa setahun secara sempurna. Dan barangsiapa mengerjakan satu kebaikan, maka ia akan mendapat sepuluh pahala yang semisal”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya hadits no 1705; Ahmad dalam musnadnya no 21378 dan Darimi dalam sunannya hadits 690, Ibnu Hibban serta imam Baihaqi dalam sunan Kubranya.

Sanad hadits ini tidak melalui rawi Sa`ad bin Said bin Qais , sementara rawi-rawi yang lain tidak ditemukan kelemahannya, dengan demikian berarti hadis ini sudah dapat dipakai sebagai penguat makna yang terkandung pada hadits Muslim di atas. Dalam ilmu hadits , riwayat Muslim itu disebut dha`iful isnad shahihul matan.( lihat dalam Irwa`ul Ghalil fi takhriji ahaditsi Manaris Sabiil oleh imam Nashiruddin Albaani)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa puasa enam hari di bulan syawal hukumnya sunnah, karena ia merupakan anjuran Rasulullah Saw, meskipun belum ditemukan riwayat bahwa beliau pernah mengerjakannya.  Sementara cara mengerjakannya tidak mesti berturut turut, yang penting 6 hari di bulan Syawal. Selain itu menurut beberapa ulama membolehkan mengerjakan puasa syawal meskipun masih punya hutang puasa.Namun beberapa ulama juga menganjurkan untuk membayar utang Ramadhan terlebih dahulu karena hukumnya wajib,sementara puasa Syawal hukumnya sunnah. [Berbagai sumber]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment