Cara Mengisi Kegiatan Hari Raya Idul Fitri

shalat ied

Ustadz, bagaimana cara mengisi kegiatan Hari Raya Idul Fitri? Mohon penjelasan yang rinci disertai dalil-dalilnya.

 

Idul Fitri artinya kembali pada kesucian. Ini ungkapan harapan bahwa shaum Ramadhan yang baru dituntaskan bisa memulihkan kefitrahan (kesucian) kita, yang selama setahun telah ternodai dosa dan maksiat.

alquran muasir

Idul Fitri merupakan hari raya Islam. Artinya hari yang perlu diisi dengan kebahagiaan. Di setiap belahan bumi, umat Islam merayakan Idul Fitri dengan gaya yang berbeda. Di Indonesia, ditandai dengan tradisi mudik, yang merupakan sarana bertemu atau silaturahmi antarkeluarga, sehingga bisa menikmati suasana hari raya dengan penuh kebersamaan.

Pelaksanaan Idul Fitri dapat kita bagi menjadi dua bagian:

– Hal-hal yang berkaitan dengan tradisi.
Bagian ini tidak diatur secara rinci dalam Al Quran atau Sunah, semua dikembalikan pada kebiasaan masing-masing, yang penting tradisi tersebut tidak mengandung kemungkaran. Kalau mengandung kemunkaran, kita harus meninggalkannya, tradisi menyulut petasan misalnya. Tradisi ini harus kita tinggalkan karena mengandung unsur kemungkaran, yaitu kemubaziran dan mengganggu ketenteraman lingkungan, bahkan bisa membahayakan.

kalender

Sementara tradisi yang senafas dengan ajaran Islam perlu kita lestarikan, seperti tradisi mudik, mengirim kartu lebaran dengan sms, e-mail, dll. Tradisi ini perlu kita pertahankan karena senafas dengan ajaran Islam yang menganjurkan untuk menjalin dan menjaga silaturrahmi.

– Hal-hal yang ada kaitannya dengan peribadatan.
Bagian ini diatur secara rinci dalam sunah Rasulullah saw. yaitu:

1. Mandi Besar
Pada Hari Raya Idul Fitri disunahkan mandi besar sebelum berangkat ke tempat shalat sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut. “Sesungguhnya Ibnu Umar biasa mandi pada hari raya Idul Fitri sebelum pergi ke tempat shalat.” (H.R.Malik).

2. Sarapan Sebelum Shalat
Sebelum berangkat ke tempat shalat, disunahkan sarapan. Rasulullah saw. mencontohkan hal ini karena selama sebulan penuh perut kita sudah terbiasa diisi makanan saat sahur, kalau tiba-tiba dihentikan dikhawatirkan kaget sehingga menimbulkan masalah kesehatan. Inilah hikmahnya mengapa disunahkan sarapan sebelum Shalat Idul Fitri. Anas r.a. berkata, “Nabi saw. tidak pergi Shalat Idul Fitri melainkan sesudah makan beberapa biji kurma dengan hitungan ganjil.” (H.R. Ahmad dan Bukhari).

3. Mengenakan Busana Terbaik
Pada Hari Raya Idul Fitri disunahkan memakai pakaian terbaik yang kita punya. Ingat, bukan pakaian terbaru, tetapi pakaian terbaik. Jadi, tidak masalah walaupun kita tidak mampu membeli pakaian baru, yang penting kita memakai pakaian terbaik yang kita miliki. Hasan as-Sibti r.a. berkata, “Rasulullah saw. menganjurkan agar kami mengenakan pakaian terbaik, memakai wangi-wangian terbaik pada hari raya….) (H.R. Hakim)

4. Shalat di Lapangan
Disunahkan melaksanakan Shalat Idul Fitri di lapangan dan bukan di masjid, kecuali darurat, misalnya karena hujan atau di daerah kita tidak ada lapngan. Selama memungkinkan, sebaiknya kita laksanakan Shalat Idul Fitri di lapangan. Abu Said al-Khudri berkata, “Rasulullah saw. keluar menuju lapangan pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Yang pertama beliau kerjakan adalah shalat.” (H.R. Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan di lapangan. Namun kalau tidak memungkinkan bisa dilakukan di masjid. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut. Abu Hurairah r.a. berkata, “Kami kehujanan pada hari Ied, lalu Nabi saw. Shalat Ied di masjid.” (H.R. Abu Dawud).

5. Menuju Lapangan dengan Jalan Kaki
Disunahkan untuk berjalan kaki menuju lapangan. Namun kalaupun berkendaraan tentu tidak dilarang. Berjalan kaki hanya keutamaan saja, tidak menunjukkan wajib. Ibnu Umar r.a. berkata, ”Rasulullah saw. jika pergi Shalat Idul Fitri dengan berjalan kaki dan kembalinya juga dengan berjalan kaki.” (H.R. Ibnu Majah).

6. Mengambil Arah Jalan yang Berbeda
Bila memungkinkan, hukumnya sunah kalau arah jalan pergi dan arah jalan pulang berbeda. Namun kalau tidak memungkinkan, menempuh jalan yang sama pun tidak dilarang dan tidak akan mengurangi nilai ibadah Shalat Ied. Ibnu Umar r.a. berkata, ”Sesungguhnya Nabi saw. pernah pergi melaksanakan Shalat Ied dengan mengambil satu jalan dan kembalinya dengan mengambil jalan lain.” (H.R. Abu Dawud)

7. Wanita Haid Boleh Hadir di Lapangan
Ummu Atiyah r.a. berkata, “Rasulullah saw. memerintahkan kami membawa serta anak-anak perempuan yang hampir baligh, yang haid, dan anak-anak perempuan yang masih gadis pada Hari Raya Fitri dan Adha. Namun perempuan-perempuan yang haid itu tidak boleh shalat.” (H.R. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa wanita haid boleh hadir di lapangan untuk mendengarkan khutbah Idul Fitri atau Idul Adha, tetapi mereka tidak boleh melaksanakan shalat. Dan ini pun menjadi isyarat bahwa Shalat Idul Fitri dan Adha itu dilaksanakan di lapangan, buktinya wanita haid boleh hadir.

8.Bertakbir pada Hari Raya
“… dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan shaum serta bertakbir (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al Baqarah 2: 185)

Ayat ini menegaskan, apabila selesai melaksanakan shaum maka bertakbirlah (meMaha-Agungkan Allah). Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat, takbir pada Hari Raya Idul Fitri dimulai pada waktu pergi Shalat Ied sampai dimulainya khutbah Ied. Jadi bukan ba’da Maghrib sebagaimana dilakukan kebanyakan kaum muslimin di Indonesia.

Azzuhri menjelaskan, “Nabi saw. berangkat Shalat Idul Fitri. Beliau bertakbir mulai dari rumahnya sampai di tempat shalat (lapangan).” Menurut Imam Hakim, ini merupakan sunah yang tersiar di kalangan para ahli hadis. Imam Malik, Ishak, Ahmad, dan Abu Tsaur pun berpendapat demikian.

9. Cara Shalat Id
Secara prinsip, cara Shalat ‘Ied sama dengan cara shalat Subuh, yaitu dua raka’at. Perbedaannya, dalam Shalat ‘Ied takbir pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan takbir pada rakaat kedua sebanyak lima kali. Selesai shalat, mendengarkan khutbah ‘Ied. Perhatikan keterangan berikut. “Rasulullah saw. menuju lapangan pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Yang pertama beliau kerjakan adalah shalat.” (H.R. Bukhari). Bagaimana cara shalatnya? Amr bin Auf r.a. berkata, “Nabi saw. bertakbir pada Shalat ‘Ied tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua sebelum membaca fatihah.” (H.R. Tirmidzi)

10. Saling Mendo’akan.
Jubair bin Nafi menyebutkan, apabila para sahabat bertemu pada Hari Raya Idul Fitri, mereka saling mendoakan dengan ucapan, “Taqabbalallahu Minna wa Minkum”, artinya “Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita.”

Bagaimana cara menjawabnya? Ada tiga cara. Pertama, jawab dengan ucapan yang sama yaitu “Taqabbalallahu Minna wa Minkum.” Kedua, jawab dengan “Shiya mana wa shiyamakum” (Shaum saya dan shaum Anda). Ketiga, jawab dengan “Aamien” (Mudah-mudahan Allah mengabulkan). Ketiga jawaban ini bisa dipakai karena tidak ada satu pun hadis yang tegas menjelaskan jenis jawabannya. Jadi, silakan pilih yang mana saja yang paling memungkinkan.

Pada zaman sekarang, teknologi informasi sudah sangat maju. Karenanya, kita pun bisa memanfaatkannya untuk saling mendoakan dan saling meminta maaf pada Hari Raya Idul fitri dengan menggunakan. SMS, E-mail, dll.

Demikian sejumlah hal yang bisa dikerjakan pada Hari Raya Idul Fitri. Taqabbalallahu Minna wa Minkum. Semoga Allah swt. menerima amal ibadah shaum Ramadhan kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Komentar Artikel “Cara Mengisi Kegiatan Hari Raya Idul Fitri

  1. didin

    Pilihannya shalat id itu di lapangan atau dimasjid, tapi saya melihat banyak yg dijalanan, kenapa tidak di bidah kan tadz? Jelas mudharat nya lebih besar kalo dijalanan samle menutup jalan.

    Padahal tidak ada dalilnya dari rosul mengerjakan shalat id di jalanan. Salafusholih juga tidak ada riwayatnya

Leave a Comment