Selain Takwa, Raih 5 Kecerdasan Ini Dari Puasa Kita

244a

Oleh: Abdurahman Rasna*

Di dalam Islam, puasa (shaum) mempunyai tujuan di dalam rangka meraih kedudukan hamba yang bertakwa kepada Allah Swt. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada Al-Qur’an yang berkaitan dengan perintah melaksanakan ibadah puasa yang berbunyi :

alquran muasir

“Hai, orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa” (QS.Al-Baqarah: 183)

Tujuan berpuasa menjadi takwa terdapat dalam kata “la’allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Pengertian takwa secara umum ialah menjaga diri dari perbuatan yang menyebabkan kemurkaan Allah dan perbuatan yang bisa mendatangkan siksaan-Nya. Cara yang harus ditempuh untuk merealisasikan hal itu ialah dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Juga menjaga jiwa dari perbuatan dosa dan nafsu sahwat, serta membersihkan diri dari berbagai macam perilaku (akhlak) tercela.

Seorang yang menjalankan puasa harus mengekang diri dari tuntutan biologis seperti makan, minum dan melakukan hubungan seksual dengan pasangan sah, demi menjalankan perintah Allah. Tentu saja seseorang yang harus mengekang dirinya akan merasakan berat, walau dilakukan demi menjalankan perintah Tuhan. Sepanjang bulan Ramadhan ia terus menahan diri dengan penuh kesabaran dan menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya. Seandainya rasa takut terhadap larangan Allah dan meninggalkan puasa tidak ada pada dirinya, maka ia takkan tahan melakukan puasa. Tentu saja dengan membiasakan diri dalam hal ini, akan tertanam dalam jiwanya rasa ikhlas dalam menjalankan perintah Allah, dan rasa malu jika melanggar larangan-larangan-Nya.

kalender

Puasa juga dapat menempa iman seseorang sehingga kuat laksana baja dalam menghadapi hawa nafsu dan kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Selain buah takwa yang dapat kita petik diakhir Ramadhan, sejatinya minimal ada lima kecerdasan yang akan kita peroleh dari puasa tersebut. Setidaknya lima kecerdasan yang dapat miliki dari melaksanakan perintah puasa itu antara lain:

  1. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient/SQ)

Kecerdasan spiritual atau Spiritual Qoutien (SQ) erat kaitannya dengan keadaan jiwa, batin dan rohani seseorang. Ada yang beranggapan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan tertinggi dari kecerdasan lain seperti kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emsional (EQ). Hal ini dikarenakan ketika orang sudah memiliki kecerdasan spiritual (SQ), orang itu mampu memaknai kehidupan sehingga dapat hidup dengan penuh kebijaksanaan.

Pengertian kecerdasan spiritual (SQ) sendiri adalah kemampuan jiwa yang dimiliki seseorang untuk membangun dirinya secara utuh melalui berbagai kegiatan positif sehingga mampu menyelesaikan berbagai persoalan dengan melihat makna yang terkandung didalamnya. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) akan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan melihat permasalahan itu dari sisi positifnya sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan cenderung melihat suatu masalah dari maknanya.

Kecerdasan spiritual ini nampak pada aktivitas sehari-hari selama Ramadhan seperti tadarus Al-Qur’an, shalat di awal waktu berjamaah di masjid, shalat tarawih dan sebagainya. Selama Ramadhan ummat Islam merasakan spitualnya sedang naik atau meningkat. Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual akan mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian dalam hidupnya sehingga mampu menjadi orang yang bijaksana dalam hidup.

  1. Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient/EQ)

Pakar psikologi Devies, menyebutkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri dan orang lain, dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntun proses berpikir serta perilaku seseorang. Adapun Eko Maulana Ali Suroso (2004:127) mengatakan, bahwa kecerdasan emosional adalah sebagai serangkaian kecakapan untuk memahami bahwa pengendalian emosi dapat melapangkan jalan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.

Kecerdasan emosi merupakan kapasitas manusiawi yang dimiliki oleh seseorang dan sangat berguna untuk menghadapi, memperkuat diri, atau mengubah kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi.

Rasulullah Saw menjelasan kepada kita, bahwa yang dimaksud dengan puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga. Bahkan lebih dari itu, ia harus mengekang nafsu syahwat dan memadamkan api kemarahan serta menuduhkan nafsu amarahnya untuk taat kepada Allah Swt. Apabila syarat-syarat yang telah sebutkan tadi tidak terpenuhi pada diri seseorang yang melakukan puasa, maka Allah tidak akan mempedulikan lagi puasanya.

Barangsiapa tidak mau meninggalkan perkataan bohong dan melakukan perbuatan tercela, maka Allah tidak membutuhkan lagi puasanya” (HR.Bukhari)

Bagi orang yang dapat menahan amarahnya Allah Swt akan sediakan surga baginya. Bahkan bukan hanya menahan amarahnya melain ia mampu memaafkan Hal ini sebagaimana firman-Nya:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafqahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran : 133 – 134)

Dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat itu ialah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah“. (HR. Bukhari)

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment