Ramadhan dan Kebangkitan Ekonomi Tanpa Ribawi

uangrupiah-752x440

Oleh: Achmad Riawan Amin*

Salah satu arti dari Ramadhan adalah “Bulan Pembakaran” dimana kita membakar dosa-dosa kita melalui ibadah puasa selama satu bulan penuh, yang berujung kepada Ied ul Fitri dimana Ummat Islam kembali kepada fitrahnya yang suci.

alquran muasir

Pada hari tersebut Ummat Islam bergembira merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menahan lapar dan haus, menahan semua hawa nafsu serta meningkatkan segala jenis ibadah. Berpuasa disiang hari, tarawih dimalam hari, i’tikaf, menjaga pembicaraan serta menjaga pendengaran.

Dengan sabar kita menunggu terdengarnya Adzan Maghrib untuk berbuka. Sabar dan yakin bahwa detik demi detik rasa lapar yang sedang berlalu adalah detik demi detik terkumpul nya amal sholeh. Detik demi detik yang sedang berlalu dalam Ramadhan, adalah batu demi batu terbangunnya istana kita di yaumil akhir.

Sayangnya tanpa disadari, bagi sebagian Ummat, sementara tubuh dan fikirannya sedang menabur  benih-benih amal. Saat yang bersamaan harta-harta mereka, uang-uang mereka pada detik yang sama. Detik demi detik, bekerja keras mengumpulkan bara-bara api yang siap membakar istana akhirat tersebut.

kalender

Alih-alih membakar dosa. Bulan Ramadhan menjadi bulan pembakar Amal Sholeh. Mereka seperti itu karena mereka berkata bahwa Jual Beli sama dengan Riba. Padahal Allah Swt telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Larangannya pun sangat:

Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena tekanan penyakit gila. Hal itu karena mereka berkeyakinan bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli ,tetapi mengharamkan riba. Siapapun yang mendapat peringatan dari Tuhannya ,lalu ia berhenti melakukan riba,maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya. Dan urusannya diserahkan kepada kepada Allah.  Orang yang mengulangi perbuatan riba akan menjadi penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya” (QS.Al-Baqarah :275).

Mereka menyimpan uang-uang mereka dan berinvestasi secara ribawi. Allah Swt telah memberikan gelar Khairu Ummat (Ummat terbaik) bagi kita. Namun lihatlah kenyataan yang ada. Benarkah kita telah menjadi Khairu Ummat? Atau sebaliknya?

Jika demikian salahkah Firman Allah? Maha benar Allah dengan segala Firmannya. Jika demikian pastilah kita yang telah salah dalam menegakkan amar ma’ruf, mencegah kemungkaran dan beriman kepada ALLAH. Kita menegakkan perintah berpuasa Ramadhan dan ibadah-ibadah Mahdhah lainnya. Tetapi kita lupa megakkan Muamalah Islam secara kaffah.Hai Orang-orang yang beriman masuklah kalian kedalam Islam secara Kaaffah

 “Hai, orang-orang beriman,masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguh-nya , ia musuh yang nyata bagimu”. (QS.Al-Baqarah:  208)

Kita tidak bisa mencapai kebangkitan Ummat, kita tidak bisa memakai gelar Khairu Ummat dengan melangkah sebelah kaki. Kaki Madhah di jalan Allah dan sebelah kaki muamalah dijalan Toghut.

Saudara-saudaraku selamat memasuki bulan Ramadhan pastikan bulan memerangi hawa nafsu tidak menjadi bulan dimana Allah dan Rosulnya memerangi diri-diri kita.

Jika kamu tidak melaksanakan-nya,umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya,Tetapi,jika kamu bertobat,kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak merugikan dan tidak dirugikan” (QS.Al-Baqarah:279)

Naudzubillaahi min dzalik. Sekali lagi Ramadhan Kariim dan saatnya kita tinggalkan sisa riba demi mencapai kebangkitan dan kejayaan ummat. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Bank Islam Indonesia ( ASBISINDO), Wakil Ketua LPK MUI Pusat.

A.Riawan Amin

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment