Hati Yang Membatu (Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 74-77) Bag 1

poligami

Oleh :  Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

Ayat-ayat yang dibahas dalam edisi ini masih berkaitan dengan ayat-ayat yang dibahas sebelumnya. Pada ayat sebelumnya, telah dibahas salah satu dari tabiat umat Nabi Musa a.s. yaitu menolak perintah Allah dengan banyak bertanya yang diniatkan untuk menghindar dari perintah Allah. Mereka bertanya yang diniatkan bukan untuk menambah pengetahuan tetapi menambah penolakan. Perilaku ini mengakibatkan hati membatu, padahal kesalehan seseorang tidak ditentukan oleh kecerdasan otaknya, tetapi sangat tergantung pada kualitas hatinya. Apabila hatinya telah membatu, sangat sulit ajaran-ajaran Allah akan diterima, apalagi diamalkan.

alquran muasir

***

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.(Al Baqarah  [2]:74]

Pada ayat ini, Allah Swt. memberi perumpamaan bahwa apabila hati manusia telah membatu, maka hati tersebut bisa menjadi lebih keras dari batu itu sendiri. Sekeras-kerasnya batu, apabila ditempa air secara terus-menerus pasti akan berbekas. Akan tetapi hati manusia apabila sudah membatu, maka akan sulit menerima nasihat, sesering dan sehebat apa pun nasihat itu.

kalender

Sekeras-kerasanya batu, kadang bisa mengeluarkan air yang jernih dari sela-selanya “padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya”. Sedangkan kalau hati manusia telah membatu, yang lahir hanyalah perilaku-perilaku buruk, bukan perilaku jernih.

Ayat ini sangat penting sebagai bahan evaluasi diri. Kita harus sering bertanya pada diri sendiri, apakah hati kita telah membatu? Hati yang membatu ditandai dengan tidak bisa menerima nasihat sebaik apa pun dan dari siapa pun. Pada manusia yang hatinya telah membatu, terkadang akal sehatnya pun mandul. Logikanya tidak bisa menilai sesuatu yang bersifat maslahat ataupun madharat.

***

(bersambung)

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment