Bagaimana Hukum Menerima Zakat dari Uang Korupsi?

uang rupiah

Ustadz, bagaimana hukumnya jika menerima zakat yang diduga dari uang korupsi?

Pokok persoalan dari pertanyaan tersebut adalah harta yang harus dan layak dizakati. Berdasarkan pada banyak dalil, harta yang harus dan layak dizakati adalah yang halal dan bersih. Pada dasarnya, fungsi zakat adalah untuk membersihkan harta yang halal yang di dalamnya ada hak-hak orang lain. Cukup dengan logika sederhana tersebut, kita sudah bisa memahami bahwa zakat dari harta yang kotor tidak akan berguna sama sekali. Dengan kata lain, hal tersebut tidak masuk dalam ketagori zakat sedikitpun alias zakatnya tidak sah.

alquran muasir

Kurang lebih, itulah yang berlaku pada harta hasil korupsi. Harta yang dihasilkan dari korupsi pada dasarnya merupakan harta yang diperoleh dengan cara yang tidak halal. Oleh karena itu, zakat yang dikeluarkannya tidak bernilai pahala sedikit pun. Bahkan boleh jadi, kesengajaan mengeluarkannya dengan maksud tertentu menjadi dosa adanya. Hal ini sesuai dengan qaidah ushul maa haruma akhdzuhu haruma i’thoouhu” (sesuatu yang diharamkan mengambilnya, maka diharamkan pula memberikannya). Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ }

“Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: ‘Sesungguhnya Allah itu bagus (baik); tidak menerima kecuali dari yang baik pula, dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman sebagaimana Dia perintahkan kepada para Rasul, lalu berfirman: Hai para Rasul makanlah yang baik-baik dan berbuatlah yang baik pula, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu kerjakan…’” (H.R. Muslim)

kalender

Syeikh Al-Mubarakafuri dalam kitab Tuhfat al-Ahwadzi menerangkan kata thayyib dalam hadits sebagai sesuatu yang halal. Ini berarti bahwa harta yang tidak halal tidak akan diterima. Lebih lanjut, Syeikh Al-Mubarakafuri menukil perkataan Imam Al-Qurtubi, “Sesungguhnya Allah tidak menerima shodaqoh atau zakat dengan yang haram, karena harta haram bukan milik yang bersedekah dan dilarang baginya untuk menyalurkannya.” (Tuhfat al-Ahwadzi )

Ibnu Abbas r.a. pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan kedzaliman dan mengambil harta haram lalu bertaubat, berhaji, berumrah, dan bersedekah dengan harta haram itu. Ibnu Abbas r.a. menjawab, “Sesungguhnya keburukan tidak akan menghapuskan keburukan.”

Imam Hasan Al-Bashri mengutarakan dua hal berkenaan dengan zakat. Pertama, bersedekah untuk dirinya sendiri dengan harta yang tidak halal berkonsekuensinya amal tersebut tidak diterima, tidak akan mendapat pahala, bahkan bisa berdosa karena memberikan harta yang bukan miliknya tanpa izin.

Kedua, berzakat atau bersedekah dengan harta yang tidak halal namun tidak memungkinkan untuk mengembalikan harta tersebut kepada si pemilik ataupun ahli warisnya diperbolehkan menurut pendapat sebagian besar ulama, seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa harta haram sebaiknya disimpan dan tidak boleh disedekahkan sampai betul-betul ada kejelasan siapa pemiliknya. (Jami’ Al-‘Ulum)

Wallahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment