Mana Lebih Baik, Zakat ke Lembaga atau Langsung ke Mustahiq?

zakat

Ustadz, mana yang lebih utama, menyalurkan zakat ke lembaga atau memberikannya ke muztahik secara langsung?

 

Pertanyaan inilah yang sering muncul di tengah-tengah para muzakki menyangkut harta zakat yang hendak dititipkannya. Sejauh ini, memang belum ditemukan dalil terperinci mengenai bagaimana seharusnya kita menitipkan zakat, langsung kepada mustahiq atau lewat badan zakat. Kalaulah boleh kedua-duanya, lantas manakah yang lebih utama di antara keduanya?

alquran muasir

Secara tekstual (tersurat), perihal penitipan zakat ini tidak diketahui dalilnya secara rinci. Karenanya, kesimpulan hukum mengenai hal tersebut kita ambil berdasarkan isyarat atau petunjuk umum (tersirat) yang dikandung oleh dalil yang berkaitan dengan hal tersebut. Marilah kita coba perhatikan dua ayat di bawah ini.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah [9]: 60)

kalender

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Q.S. At-Taubah [9]: 103)

Pada kedua ayat di atas, terdapat dua isyarat kalau zakat sebaiknya dititipkan melalui lembaga yang disebut ‘amilin atau lebih dikenal dengan lembaga zakat. Isyarat pertama adalah dengan adanya kata ‘amilin yang menunjukkan bahwa ketika disebut perihal zakat maka ‘amilin adalah bagian tak terpisahkan darinya. Artinya titipkanlah zakat tersebut kepada ‘amilin yang lebih mengetahui ruang lingkup penyaluran zakat.

Isyarat kedua adalah adanya kata khudz yang bermakna perintah untuk mengambil zakat. Pengambilan zakat tentunya memerlukan sebuah sistem. Zakat membutuhkan pengelolaan yang tidak mungkin ditangani oleh satu orang mengingat begitu banyaknya ashnaf yang harus diurus.

Sistem itulah yang kemudian disebut ‘amilin atau lembaga zakat. Dengan demikian, kedua ayat yang cukup berkaitan tersebut dapat menjadi isyarat bahwa zakat lebih baik dititipkan kepada lembaga zakat. Penitipan ke lembaga zakat berguna untuk lebih menjaga ketepatan dalam penyaluran dan ihtiyat kalau-kalau memang zakat lebih utama dititipkan ke lembaga zakat.

Meski begitu, dalam satu kesempatan boleh saja kita menyalurkan sendiri zakat tersebut kepada mustahiqnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 271)

Wallahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment