Mengajar di Masjid, Apakah Saya Berhak Terima Zakat Fitrah?

zakat

Ustadz, saya adalah ibu rumah tangga dengan lima orang anak (yang empat sudah sekolah dan yang satu masih balita). Suami saya bekerja sebagai honorer. Saat ini, saya aktif di masjid dengan menjadi pengajar. Tiap menjelang Idul Fitri, pihak masjid yang sudah berstatus yayasan memberi uang THR kepada saya. Selain itu, saya juga mendapatkan bagian dari zakat fitrah karena dianggap sebagai mustahik. Bagaimana hukum keberadaan saya yang dianggap sebagai mustahik? Apakah saya diperbolehkan menerima zakat tersebut atau tidak? Perlu diketahui, meski keadaan ekonomi keluarga saya pas-pasan, saya selalu berusaha untuk membayar zakat fitrah.

 

Tentu saja ibu berhak untuk menerima (zakat) itu. Ibu mengajar anak-anak di masjid dan karenanya berhak mendapat imbalan (honor). Itu halal. Mengenai THR dari yayasan, ibu juga boleh menerimanya karena telah menyisihkan sebagian pikiran dan tenaga untuk mengajar anak-anak. Walaupun ibu melakukan semua itu dengan ikhlas karena Allah, tapi ibu boleh menerima hadiah atau pemberian. Ibu jangan merasa bersalah karena hal itu merupakan rezeki bagi keluarga ibu.

alquran muasir

Mengenai zakat fitrah yang ibu terima, itu juga merupakan hal ibu sebagai fi sabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah). Meski ibu senantuasa berusaha membayar zakat fitrah dan keadaan keuangan yang bisa dibilang pas-pasan, tapi zakat fitrah yang diberikan yayasan kepada ibu halal hukumnya.

Tindakan ibu yang membayar zakat meski kondisi ekonomi pas-pasan merupakan perbuatan yang sangat mulia. Perlu diketahui bahwa orang beriman akan senantiasa berjuang melakukan ajaran-ajaran agama meski dihimpit oleh segala kekurangan sebagaimana difirmankan-Nya adalah ayat berikut.

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 134)

kalender

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menjelaskan bahwa tiga ciri orang yang bertakwa (yang mendekati kesempurnaan iman) adalah menginfakkan hartanya di saat lapang atau pun di saat sempit, bisa mengendalikan kemarahan (wal afiina ani nnas), dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Semoga ibu penanya pada khususnya dan pembaca setia MaPI pada umumnya senantiasa tergolong mukmin bertakwa yang kadar keimanannya mendekati sempurna. Amin. Wallahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment