Jaga Hal-hal Ini Agar I’tikaf Tidak Batal

masjid

I’tikaf merupakan salah satu ibadah yang biasa dilaukan seorang muslim pada bulan Ramadhan, terlebih saat malam kesepuluh terakhir Ramadhan. Dimana pada malam kesepuluh ini umat Islam berlomba-lomba mencari malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini ummat Islam dianjurkan melakukan I’tikaf yakni berdiam diri di masjid dengan melakukan aktivitas ibadah dan amal shalih seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, thalabul ilmi, memperdalam pengetahuan agama, shalat-shalat wajib dan sunah dan sebagainya. Dalam Al-Qur’an sendiri juga tersirat tentang aktivitas I’tikaf ini, seperti dalam firman-Nya:

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS.Al Baqarah: 125).

alquran muasir

Hal ini juga telah disabdakan oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya yang disampaikan dari Ummu al-Mukminin, ‘Aisyah ra, beliau mengatakan,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun pada saat melakukan i’tikaf ada beberapa hal yang harus tetap dijaga karena dapat membatalkan i’tikaf seseorang. Berikut ini hal-hal yang dapat membatalkan seseorang saat i’tikaf:

kalender
  1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan

Keluar atau meninggalkan masjid meski sebentar dapat membatalkan I’tikaf, karena meninggalkan masjid berarti mengabaikan salah satu rukun I’tikaf yaitu berdiam di masjid.

  1. Murtad

Menurut Al-Kubaisi i’tikaf akan menjadi batal karena murtad. Sebab, i’tikaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan seorang Muslim, sedangkan orang kafir bukan termasuk ahli ibadah. Allah SWT berfirman: ‘’… Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalanmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’’ (QS Az-Zumar: 65)

Menurut Al-Kubaisi, bila orang yang murtad itu kembali memeluk Islam, maka tak ada kewajiban untuk mengqadha i’tikafnya, sebagai kemudahan baginya agar lebih tertarik kepada Islam. ‘’Itulah pendapat mazhab Hanafi dan Maliki,’’ ujarnya.

Mazhab Syafi’i dan Hambali memiliki pendapat yang berbeda.  Bila i’tikaf yang dilakukannya adalah i’tikaf nazar, lalu orang tersebut murtad di antara waktu i’tikaf itu, maka batallah i’tikafnya. Namun, jika kembali masuk Islam, maka wajib mengqadhanya.  Mazhab Hambali berpendapat, i’tikaf seseorang mejadi batal jika orang tersebut murtad. Namun, jika kembali masuk Islam maka harus memulai i’tikaf dari pertama lagi dengan niat dan i’tikaf yang baru.

  1. Jima (Bersetubuh)

Para ulama sepakat bahwa bersetubuh dengan sengaja termasuk larangan bagi bagi orang yang sedang i’tikaf. Jika orang yang i’tikaf bersetubuh maka batallah i’tikafnya. ‘’Baik perbuatan (bersetubuh) itu  dilakukan di dalam ataupun di luar masjid, baik dilakukan pada siang maupun malam hari,’’ tutur Al-Kubaisi. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT:

‘’… dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri), sedang kamu ber i’tikaf dalam masjid..’’ (QS Al-Baqarah: 187).

Menurut Al-Kubaisi, jika melihat asbabul nuzulnya, ayat tersebut merupakan teguran Allah bagi mereka yang sedang i’tikaf, tapi masih suka keluar masjid dan menggauli istrinya.

  1. Haid dan atau nifas.

Seluruh ulama mazhab bersepakat bahwa haid membatalkan i’tikaf. Seorang wanita yang sedang i’tikaf di dalam masjid lalu mengalami haid, maka harus keluar dari masjid. Kemudian menetap di rumahnya hingga haidnya selesai. ‘’Setelah itu bisa kembali ke masjid dan melanjutkan i’tikafnya,’’ papar Al-Kubaisi.

Batalnya i’tikaf karena haid disebabkan haid dan nifas adalah salah satu penyebab dilarangnya seseorang mentap di dalam masjid. Hal itu didasarkan pada hadis Rasulullah SAW, ‘’Tidaklah masjid itu dihalalkan bagi wanita yang haid, dan tidak pula bagi yang dalam keadaan junub.’’

Meski begitu ada pula yang berpendapat berbeda. Ahli zhaahir (mereka yang tak sepakat dengan mayoritas ulama) menyatakan wanita haid boleh memasuki masjid dan menetap di dalamnya hingga menyelesaikan masa i’tikafnya. Menurut pandangan mereka haid bukan penyebab batalnya i’tikaf.

  1. Hilang akal, karena gila atau mabuk

Hilang akal atau gila dapat membatalkan I’tikaf karena secara syari ia juga telah keluar dari Islam. Demikian juga mabuk yang dapat membuat seseorang tidak sadarkan diri.Selain itu mabuk juga salah satu dosa besar dimana telah meminum minumkan khamar yang diharamkan dalam Islam.

Demikian hal-hal yang dapat membatalkan seseorang saat i’tikaf, semoga pada ramadhan tahun ini kita dapat menghidupkan kembali ibadah i’tikaf dan menjauhi perkara yang dapat membatalkannya sebagai bekal kita meraih nilai taqwa yang maksimal. (Berbagai sumber)

 

Red: Fatih

Editor: Iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment