Yuk, Sambut Lailatul Qadar Dengan Amalan Sunnah

236

Kesyukuran kita hendaknya senantiasa ditingkatkan dimana Allah Swt masih memberikan kesempatan hingga akhir Ramadhan. Sebagaimana kita yakini pada akhir Ramadan ini terdapat satu malam yang nilai kebaikan atau kemuliannya sama dengan seribu bulan. Malam ini biasa disebut dengan Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Hal ini merujuk pada firman Allah Swt :

Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam, itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar “ (QS.Al-Qadr: 1- 5)

alquran muasir

Berikut kemuliaan dan amal-amalan yang sangat dianjurkan dalam meraih malam kemuliaan (Lailatul Qadar) seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw:

  1. Menghidupkan malam Laylatul Qadar adalah bukti keimanan seseorang

Dari Abu Hurairah ra, bersabda Nabi Saw : “Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho Allah Swt maka diampuni dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari)

Keimanan inilah yang menjadi modal utama seseorang untuk dapat meraih malam kemulian tersebut. Tentu saja keimanan tersebut tidak datang tiba-tiba melainkan melalui perjalanan yang telah dipupuk sebelumnya.

kalender
  1. Menggapai Laylatul Qadar hendaklah dalam keadaan berpuasa :

Karena Laitul Qadar hanya datang di bulan Ramadhan saja dan kita diwajibkan untuk shaum di dalamnya maka sudah sewajarnya jika hanya mereka yang berpuasa dengan iman dan takwa saja yang akan meraihnya. Meski namanya malam kemulian sementara pada malam hari tidak berpuasa namun suasana dan amalan Ramadhan tidak bisa dipisahkan.

Dari Abu Hurairah ra Nabi Saw bersabda : “Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho Allah Swt maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dalam Iman dan mengharap ridho Allah Swt maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari)

  1. Mencari Laylatul Qadar itu pada 10 malam yang terakhir

Meski kita yakini bahwa seluruh hari dan malam Ramadhan adalah mulia namun sesuai dengan sabda Rasulullah Saw bahwa malam kemulian tersebut datang terutama pada 10 hari terakhirnya saja.

Dari Aisyah ra berkata : “Adalah Nabi Saw biasa mencari Laylatul Qadar pada 10 malam yang terakhir.” (HR. Bukhari)

  1. Mencari Laylatul Qadar itu pada 10 terakhir tersebut, terutama pada malam-malam witirnya (ganjil)

Keterangan akan hal ini dapat kita peroleh melalui sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan langsung oleh istri beliau yakni Aisyah ra : “Adalah Nabi Saw mencari Laylatul Qadar pada malam-malam witir (ganjil) di 10 hari terakhir.” (HR. Bukhari)

  1. Jemput Laylatul Qadar dengan I’tikaf di masjid.

Secara umum I’tikaf dimaknai sebagai berdiam diri disuatu tempat (masjid) dengan tujuan untuk ibadah selama beberapa waktu. Para ulama sepakat bahwa i’tikaf adalah perbuatan sunah baik bagi laki-laki maupun wanita. Kecuali jika seseorang bernazar untuk i’tikaf, maka dia wajib menunaikan nazarnya. Sementara dalil tentang I’tikaf di bulan Ramadhan dapat kita baca pada hadis Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Kemudian para isterinya melakukan I’tikaf sesudahnya.” (Muttafaq alaih).

Adapun waktu i’tikaf, berdasarkan jumhur ulama,sunah dilakukan kapan saja, baik di bulan Ramadan maupun di luar bulan Ramadan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan i’tikaf di bulan Syawal (Muttafaq alaih). Beliau juga diriwayatkan pernah i’tikaf di awal, di pertengahan dan akhir Ramadan (HR. Muslim). Namun waktu i’tikaf yang paling utama dan selalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lakukan hingga akhir hayatnya adalah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Masjid yang disyaratkan sebagai tempat i’tikaf adalah masjid yang biasa dipakai untuk shalat berjamaah lima waktu. Lebih utama lagi jika masjid tersebut juga digunakan untuk shalat Jum’at. Lebih utama lagi jika dilakukan di tiga masjid utama; Masjidilharam, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. [ Berbagai sumber]

 

 

Red: Fatih

Editor: Iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment