Belajar dari Sejarah (Tafsir Surat Al-Baqarah [2] 63-66), Bag 2

israel

“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina.’” (Q.S : 2-65)

Ayat ini menggambarkan salah satu bentuk pelanggaran Bani Israil. Sebenarnya mereka dilarang menangkap ikan pada hari Sabtu. Mereka wajib beribadah pada hari Sabtu dan meninggalkan pekerjaan (menangkap ikan) agar lebih fokus beribadah kepada Allah.

alquran muasir

Itulah yang diajarkan Nabi Musa a.s. dalam kitab Taurat. Namun apa yang terjadi? Justru mereka lebih mengutamakan menangkap ikan dari pada beribadah, meski Nabi Musa a.s. memperingatkan mereka secara langsung. Mereka melakukan pelanggaran itu di depan Nabi mereka secara terang-terangan tanpa mersah bersalah sedikit pun.

Karena pelanggaran yang dilakukan Bani Israil begitu banyak dan berulang-ulang, akhirnya Allah melaknat mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” Menurut Imam Mujahid dalam riwayat Ibnu Jarir, maksud kalimat “Jadilah kamu kera yang hina” bukan berarti penampilan fisik mereka yang berubah menjadi kera, tetapi kelakukan, keserakahan, dan penghianatan yang mereka lakukan bagaikan seekor kera. Kera adalah binatang yang rakus, licik, dan menyebalkan. Itulah Bani Israel, rakus, licik, dan menyebalkan. Sebagai bukti, silakan lihat bagaimana rakus dan liciknya bangsa Israel di Palestina.

“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”(Q.S : 2-66)

kalender

Dalam ayat ke 63-65 surat Al-Baqarah tersebut di atas, Allah Swt. telah jelaskan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Bani Israil beserta laknat yang Dia turunkan kepada mereka. Nah di ayat ke 66 ini, Allah menginginkan agar kita berkaca pada perilaku buruk Bani Israil dan menghindarkan diri dari semua perilaku buruk tersebut.

Kisah pembangkangan Bani Israil atas perintah Allah tersebut tidak lain merupakan “peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ya, kita harus pandai mengambil pelajaran dari sejarah. Perlu diketahui bahwa sepertiga isi Al-Quran adalah sejarah, seperti sejarah para nabi saat menyampaikan dakwah di masyarakat, sejarah bagaimana masyarakat merespon dakwah para nabi, sejarah manusia-manusia yang dzalim dan durhaka, juga sejarah orang-orang shaleh yang penuh komitmen dalam menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Semoga Allah Swt. memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa mengambil pelajaran dalam setiap detik kehidupan. Amin.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment