Optimalkan Kecerdasan dengan Al-Quran

alquran

Oleh : Ayat Priyatna Muhlis

Umar bin Khattab, seorang tokoh bangsawan Quraisy, marah besar ketika mendengar kabar bahwa adik kandungnya, Fatimah binti Khattab, masuk Islam. Dia pun bergegas mendatangi rumah adiknya tersebut. Dari kejauhan, Umar mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang sedang dibaca oleh adiknya. Umar menghentikan langkahnya, dia mencoba mendengarkan lantunan ayat tersebut dengan saksama. Umar pun kagum dengan syair Al-Quran yang begitu indah, tetapi dia tetap meneruskan niatnya untuk membunuh adik (beserta suaminya) yang telah keluar dari agama nenek moyang mereka.

alquran muasir

Tatkala tiba di depan pintu rumah adiknya, lantunan ayat Al-Quran yang dibaca oleh Fatimah semakin jelas terdengar. Umar pun mendobrak pintu dan mendapati pasangan suami istri tersebut sedang membaca lembaran Al-Quran. Ditamparnya mereka hingga berdarah. Setelah menerima tamparan tersebut, Fatimah binti Khattab berkata kepada Umar, “Kami telah masuk Islam dan kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lakukanlah apa yang akan kamu lakukan.”

Melihat darah yang menetes dari muka adik kandung dan adik iparnya, Umar terdiam. Masih dengan nada marah, dia lalu meminta lembaran yang tadi dibaca Fatimah. Namun, Fatimah menolak karena takut Umar akan merobeknya. Akhirnya, Umar pun menyuruh Fatimah untuk membacakannya. Fatimah pun membaca surat Thaahaa ayat satu sampai lima. Mendengar lantunan ayat suci tersebut, tak terasa Umar meneteskan air mata dan pada saat itu juga dia pun masuk Islam.

***

kalender

Ya, Al-Quran memang memiliki banyak keistimewaan serta mukjizat. Salah satunya adalah mukjizat psikologis. Al-Quran diyakini sebagai satu-satunya kitab suci yang memiliki energi luar biasa serta pengaruh yang dapat melemahkan atau menguatkan jiwa seseorang. Peristiwa masuk Islamnya Umar bin Khathab menjadi bukti.

Bukti lainnya adalah penelitian yang dilakukan Dr. Ahmad Al-Qadhi mengenai pengaruh ayat-ayat Al-Quran terhadap kondisi psikologis dan fisiologis manusia. Terbukti Al-Quran mampu menciptakan ketenangan batin (psikologis) dan mereduksi ketegangan-ketegangan saraf (fisiologis). Penelitian ini dilakukan terhadap lima sukarelawan non-muslim berusia antara 17-40 tahun dengan menggunakan alat ukur stres jenis MEDAQ 2002 (Medical Data Quetient) yang dilengkapi software dan sistem detektor elektronik hasil pengembangan Pusat Kedokteran Universitas Boston, AS.

Sebelum penelitian dimulai, setiap responden dipasangi empat jarum elektrik di tubuh masing-masing yang dikoneksikan ke mesin pengukur berbasis komputer. Ini dilakukan untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik dan mengukur reaksi urat saraf reflektif pada masing-masing organ tubuh responden. Pada ujicoba pertama, kelima responden diperdengarkan 85 kali ayat Al-Quran secara mujawwad (tanpa lagu). Pada percobaan kedua, 85 kali diperdengarkan kalimat-kalimat biasa berbahasa Arab secara mujawwad. Pada percobaan ketiga, sebanyak 40 kali responden dibiarkan duduk membisu sambil menutup mata, tanpa dibacakan apa-apa. Hasilnya, 65 persen responden yang mendengarkan ayat-ayat Al-Quran mendapat ketenangan batin dan ketegangan sarafnya turun hingga 97 persen.

Lebih dari itu, Dr. Ahmad Al-Qadhi menyatakan bahwa ternyata membaca Al-Quran selepas Maghrib dan Subuh dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80 persen karena pada waktu-waktu tersebut terdapat pergantian dari siang ke malam dan dari malam ke siang hari.

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitian adalah lima orang sukarelawan yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Quran.

Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi menjadi dua sesi, yakni membacakan Al-Quran dengan tartil dan membacakan tulisan bahasa Arab yang bukan dari Al-Quran. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65 persen ketika mendengarkan bacaan Al-Quran dan mendapatkan ketenangan hanya 35 persen ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan merupakan ayat Al-Quran.

Selain itu, Al-Quran juga mampu memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam “Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam” di Malaysia pada 1997. Menurut penelitiannya, bayi berusia 48 jam yang diperdengarkan ayat-ayat Al-Quran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Begitulah mukjizat Al-Quran yang bukan sekadar bacaan. Namun demikian, tabir mukjizat Al-Quran baru akan tersingkap bila kita menyingkapnya tidak dengar cara-cara yang sombong (Q.S. Al-A’raaf [7]: 146). Seperti diungkap Prof. Dr. Jeffrey Lang, guru besar Matematika asal Amerika dari Universitas Kansas, yang kini telah masuk Islam. “Anda tidak dapat membaca Al-Quran begitu saja, kecuali jika Anda bersungguh-sungguh memberi perhatian dengan penghayatan mendalam. Anda tinggal memilih; menyerahkan sepenuhnya seluruh jiwa dan raga kepada Al-Quran atau memeranginya dengan akal dan nalar Anda. Maka, Al-Quran akan menyerang Anda lebih kuat dari yang Anda bayangkan, mendebat, mengkritik dan membuat malu para penantangnya,” demikian ditegaskan oleh Lang.

Jadi, ambil Al-Quran Anda sekarang juga. Baca dan dalami kekayaan maknanya! Wallaahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment