Memilih Sarana Pendidikan, Perhatikan Juga Yang Ini

231

Oleh: Syarif Hidayat*

Bagi sebagian orangtua saat ini adalah bulan yang sangat menguras pikiran, tenaga hingga financial khususnya yang mempunyai putra-putri yang hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Seringkali orangtua menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah bonafid dengan harapan memperoleh pendidikan yang ideal, baik dalam ilmu-ilmu sains maupun ilmu-ilmu sosial. Sayangnya, amat jarang orangtua memikirkan bagaimana keberlangsungan putra-putri mereka dalam menempuh pendidikan keagamaan mereka di madrasah-madrasah diniyyah, malah kadangkala seorang anak pergi ke madrasah atas inisiatif sendiri tanpa sepengetahuan orangtuanya. Di sisi lain, tak sedikit orangtua lebih memedulikan tunjangan sekolah umum daripada tunjangan untuk kemajuan madrasah tempat anaknya belajar mengaji. Ironisnya, untuk infak ke sekolah umum selalu diprioritaskan tetapi ketika tagihan infak itu datangnya dari madrasah diniyyah, mereka dengan sinis mengatakan, “Harus ikhlas mengajarkan agama itu.”

alquran muasir

Kenyataan-kenyataan di atas tak lepas dari sudut pandang masyarakat sekarang yang lebih mengorientasikan pendidikan anak-anaknya hanya untuk mengejar ijazah umum untuk kemudian dapat digunakan melamar pekerjaan di pabrik-pabrik yang semakin menjamur di perkotaan dan pedesaan. Orientasi pendidik untuk duniawi ini berasal dari mindset (pola pikir) orangtua dalam memandang kebahagiaan dan kesejahteraan. Disangkanya bahwa bahagia itu identik dengan berlimpahnya harta kekayaan, sedangkan kekurangan materi identic dengan kesengsaraan hidup di dunia. Padahal, pola pikir materialism seperti itu pernah dikritik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini.

Dari Sahl ibn Sa’ad al-Sa’idiy – semoga Allah meridhainya – beliau mengatakan, suatu waktu lewat seorang laki-laki di hadapan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa pendapat kalian mengenai orang itu?” maka mereka menjawab, “(Mungkin) pendapat Anda mengenai orang ini sependapat dengan pandangan kami bahwa orang ini di antara kalangan orang yang mulya (terpandang), sangat pantas bila ia meminang maka lamarannya akan diterima, jika meminta bantuan niscaya akan dibantu, dan jika ia berkata maka pasti perkataannya didengar.” Mendengar hal itu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam diam (tidak berkomentar). Lalu, lewat seorang lagi, maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali, “Bagaimana pendapat kalian mengenai orang ini?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, demi Allah! Orang ini menurut kami termasuk di antara orang-orang fakir (miskin) kaum muslimin, maka pantas jika ia mengkhitbah (seorang perempuan) maka tak mungkin dinikahkan dengannya. Jika ia minta tolong, siapa yang sudi menolongnya, dan jika ia berbicara maka tentu takkan ada orang yang mau mendengar omongannya.” Maka, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh orang (kedua) ini lebih baik daripada orang (pertama) walau sepenuh bumi!” (H.R. Ibn Majah dan hadits ini dinilai shahih oleh Imam Albani)

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa penampilan lahir seseorang belum tentu mencerminkan kualitas pribadi orang yang menyandangnya. Dengan kata lain, bisa jadi secara penampilan seorang itu dianggap hina tetapi sejatinya ia merupakan orang terbaik dalam pandangan Allah.

kalender

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment