Takwa Itu Letaknya Di Sini

uzlah

Oleh: Tate Qomarudin,Lc*

Alhamdulillah setengah perjalanan Ramadhan tahun ini telah kita lalui, insya Allah masih ada setengah perjalanan lagi yang harus kita tempuh. Salah satu tujuan Allah Swt mewajibkan kita berpuasa adalah agar menjadi hamba-hamba yang bertakwa. Hal ini tercermin dari penggalan terakhir surat Al Baqarah ayat 183 dengan kalimat “la’allakum tattaqun” yakni menjadi pribadi yang mutakin. Meski nanti Ramadhan akan berganti bulan  selayaknya predikat mutakin tersbeut tidak sirna. Lalu dimana letak takwa itu?.

alquran muasir

Dari Abi Hurairah r.a. berkata, telah berbda Rasulullah Saw., “Janganlah kalian saling dengki, janganlah kalian tanajusy, janganlah kalian saling benci, janganlah kalian saling membelakangi (berpaling), janganlah kalian menjual (barang) yang membatalkan penjualan saudara kalian, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersudara. Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim. Janganlah dia menzaliminya, jangan merendahkannya, dan jangan menghinakannya. Takwa itu ada di sini. (Sembari Rasulullah Saw. menunjuk ke dadanya tiga kali). Cukuplah keburukan seseorang bila menghinakan saudaranya. Setiap muslim adalah haram bagi muslim lainnya darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (H.R. Muslim)

Persoalannya adalah, berhasilkan kita mencapai takwa dan berjuluk al-muttaqin (orang-orang yang bertakwa)? Memang ayat yang terkait dengan pencapaian takwa oleh shaum Ramadhan menggunakan kalimat “la’allakum tattaqun” (agar kalian bertakwa). Kalimat itu memberikan isyarat bahwa dengan shaum bisa jadi ada orang yang mencapai takwa dan bisa jadi pula tidak mencapainya.

Akan tetapi, sebagai upaya dan bukti semangat bahwa kita ingin selalu menjadi lebih baik dalam kehidupan, cara yang terbaik adalah meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang bertakwa dan kita dengan amaliah di bulan Ramadhan mencapai derajat al-muttaqin, seberapa besar pun kadarnya. Mengapa harus begitu?

kalender

Pertama, karena (sebagaimana yang telah diuraikan pada tulisan terdahulu) takwa itu dibentuk oleh shaum dan selain shaum. Artinya, bukan hanya ibadah shaum yang membentuk ketakwaan pada diri seseorang. Karena, sesungguhnya seluruh ibadah yang Allah perintahkan kepada manusia, secara bersama-sama dimaksudkan untuk membentuk ketakwaan. “Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah : 21)

Kedua, keyakinan bahwa kita adalah orang-orang bertakwa sangat penting. Keyakinan ini akan menjadi modal untuk melakukan segala kebaikan dan bahkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan peningkatan kualitas hidup dan kualitas hubungan dengan sesama muslim, bahkan lebih luas dengan sesama manusia. Itulah antara lain yang dapat kita tangkap dari hadits Rasulullah Saw. tersebut.

Dengan sabdanya itu, Rasulullah Saw. menyebutkan beberapa hal yang terlarang ada pada seorang muslim; yakni saling iri, tanajusy, saling benci, saling membelakangi atau berpaling, dan beliau juga melarang seorang muslim menjual (barang) yang membatalkan penjualan saudaranya yang sudah ditawar atau sudah disepakati. Adapun, tanajusy adalah menaikkan harga barang yang akan dijual oleh saudaranya bukan untuk dibelinya melainkan untuk membuat pembeli lain tergoda membelinya. Misalnya, seorang pedagang bernama si A menjual sebuah barang dengan harga seratus ribu rupiah. Ada seorang pembeli bernama B yang ingin membelinya dengan harga sembilan puluh ribu rupiah. Lalu muncullah si C (boleh jadi sudah bersekongkol dengan si A) yang mengatakan bahwa dirinya berani membeli barang tersebut dengan harga seratus sepuluh ribu rupiah. Itulah cara tanajusy.

Kemudian, Rasulullah Saw. memerintahkan kita berperasaan, memandang, bersikap, dan berperilaku sebagai saudara satu sama lain. Indikasi persaudaraan atas dasar Islam itu antara lain tidak menzalimi, tidak merendahkan, dan tidak menghinakan. Jika seseorang menghinakan saudaranya sesama muslim, maka tanpa melakukan kesalahan lain sekalipun, hal itu sudah cukup menjadi keburukan besar pada dirinya. Di bagian akhir beliau menegaskan tentang haramnya darah, harta, dan kehormatan saudaranya. Artinya, kita dilarang untuk menodai, merusak, merampas darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.

Yang menarik adalah, dalam kaitan penyebutan hal-hal tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim kepada saudaranya sesama muslim dan penyebutan hal-hal yang harus dilakuan oleh seorang muslim kepada sesamanya, Rasulullah Saw. mengatakan “attakwa ha huna”, takwa itu ada di sini. Beliau mengatakannya tiga kali dan sambil menunjuk dadanya. Tentu banyak makna yang dapat kita tarik dari pernyataan itu.

Di antara makna-makna itu adalah takwa itu ada di dalam hati tapi refleksi dan pancarannya harus dirasakan oleh orang lain. Itu di satu sisi. Di sisi lain, kalimat itu juga bermakna yang kita lakukan kepada orang lain sangatlah bergantung pada yang ada di dalam jiwa dan bagaimana seseorang memposisikan dirinya.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment