Saat Tinggal di Luar Negeri, Pilih Safar atau Mukim?

shalat

Di buku “Sudah Benarkah Shalatku?” yang ustadz tulis dijelaskan bahwa rukhshah shalat jama-qashar itu bergantung dari niat si pelaku dan tidak terkait jarak serta waktu. Selama berniat dan merasa safar, maka kita bisa mengqashar shalat. Di buku tersebut juga disampaikan suatu hadits,

Abu Ya’la r.a. bertanya kepada Umar bin Khattab r.a., “Mengapa mengqashar shalat padahal kita sudah aman?” Umar menjawab, “Aku pernah bertanya seperti ini kepada Nabi Saw., lalu beliau menjawab, ‘Shalat qashar adalah sedekah yang Allah berikan kepada kamu, maka terimalah sedekah-Nya’.” (H.R. Muslim)

alquran muasir

Dari hadits itu, ada yg berpendapat bahwa rukhsah itu adalah sedekah buat kita. Kita bisa menerima atau menolaknya. Tapi, ketika manusia tidak menjalankan rukhsah dari Allah, maka Dia akan memberi laknat.

Pada kasus saya, awalnya saya datang ke Jepang dengan niat safar untuk studi selama dua tahun. Di beberapa hari pertama di sini, saya menjama-qashar shalat. Tapi, setelah beberapa hari ada perasaan tidak nyaman ketika harus selalu menjama-qashar shalat. Saya merasa tidak dalam kondisi safar karena sebagian besar aktivitas saya dilakukan di sini dan saya sudah merasa seperti menjadi warga di sini. Jadi, saya shalat seperti biasa karena merasa bermukim meskipun tahu bahwa suatu saat akan pulang ke Tanah Air.

Pertanyaannya, dapatkah saya dikategorikan orang yang bermukim? Karena, ada juga yang mengatakan kepada saya bahwa niat bermukim juga tidak terkait waktu; bisa satu bulan, tiga bulan, bahkan satu tahun bisa disebut bermukim jika memang niatnya demikian. Atau, apakah saya termasuk orang yang safar tapi menolak sedekah Allah? Mungkin bisa dijelaskan juga pengertian bermukim dan niat bermukim sehingga jelas apakah ada batasan waktu dari niat bermukim tersebut. Terima kasih.

kalender

 

Sejauh ini, saya belum menemukan pengertian safar dan mukim yang disepakati oleh para ahli fikih. Umumnya, mereka hanya berpegang pada sejumlah hadits yang menyebut jarak minimal yang ditempuh sebagai indikator utama. Selain itu, jarak minimal dalam hadits-hadits tersebut tidak sama. Berangkat dari keadaan itu, saya berkesimpulan bahwa pengertian safar memang harus dikembalikan pada niat dan keyakinan masing-masing.

Jika pengertian safar ditentukan oleh jarak, maka akan semakin banyak orang ragu dengan safarnya. Karena, bisa jadi ada orang yang melakukan perjalanan sepanjang 10 km merasa safar karena jarang melakukannya dan ada pula orang yang menempuh jarak 100 km tidak merasa safar karena sering melakukannya.

Jika boleh saya bagi, safar terdiri dari dua. Yaitu, safar dalam perjalanan dan safar di tempat tujuan. Untuk safar dalam perjalanan, orang cenderung lebih yakin dan membutuhkan jama’ qashar. Tapi, umumnya orang bingung ketika safar di tempat tujuan karena seringkali butuh waktu sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Saat safar di tempat tujuan ini kadang orang tidak membutuhkan jama’ qashar. Hanya saja, sampai sejauh ini saya belum menemukan petunjuk adanya waktu minimal tinggal yang disepakati untuk disebut sebagai safar. Sehingga, meski tinggal di tempat tujuan bertahun-tahun dan kita niatkan serta yakinkan sebagai safar, kita boleh terus menerus menjama dan qashar tanpa harus ragu.

Tapi, jika kemudian setelah diniatkan safar di tempat tujuan malah timbul keraguan antara safar atau mukim, maka segeralah ambil keputusan yang lebih yakin. Melihat kondisi Anda, menurut saya lebih baik jika niatnya diyakinkan sebagai mukim karena indikator yang ada cenderung dekat ke sana (mukim). Wallahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment