Pilar-Pilar Kesabaran dan Keimanan (Tafsir Surat Al-Baqarah [2] 61-62) Bag 2

alquran

Oleh : DR. Aam Amiruddin, M.Si

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 62)

alquran muasir

Setelah serangkaian ibrah yang Allah gambarkan dalam sejumlah ayat mengenai kedurhakaan Bani Israil yang semuanya hanya berujung pada nista dan siksa, maka kemudian Allah memberi gambaran nyata bagaimana umat yang berada dalam keridhaan-Nya, hidup penuh dengan nuansa iman dan amal tanpa membedakan siapa dia, dari mana dia berasal, dan hidup pada zaman apa. Dengan tegas Allah menyatakan bahwa orang-orang mukmin, Yahudi, Nasrani, dan Shabiin yang beriman kepada Allah dan hari akhir disertai amal shaleh, maka bagi mereka balasan berlipat dengan kebahagiaan hidup yang tiada tara.

Orang yang beriman sebagaimana dimuat di awal ayat menunjuk pada umat Nabi Muhammad yang beriman pada kerasulan dan kenabiannya. Sedangkan menurut Sufyan, ”Mereka adalah orang munafik, didasarkan pada kesetaraan dengan penyebutan kelompok berikutnya, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Shabiin” (Al-Qurtubhi).

Yahudi, menunjuk pada kaum yang menjadi pengikut beberapa nabi sebelum Nabi Isa as. yang mempunyai garis keturunan dari Nabi Ya’kub. Lalu melebur menjadi satu pada salah satu keturunan terbesar dari Nabi Ya’kub, yaitu Yahudza. Dan kemudian secara penamaan bergeser menjadi Yahudi.

kalender

Nashara, nama bagi kaum Nabi Isa as. Nama Nashara diambil dari sebuah perkampungan tempat Siti Maryam melahirkan Nabi Isa as. yang bernama Nashirah. Nashara adalah bentuk jamak (banyak) dari Nashraniyyah yang menunjukkan arti dari penduduk kampung tersebut.

Shabiin, adalah orang-orang yang mengikuti syariat nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.

Ayat ini turun berkenaan dengan keberadaan seorang sahabat yang bernama Salman al-Farisi yang suatu saat bercerita kepada Nabi bahwa kaumnya terdahulu merupakan orang-orang yang rajin shalat dan shaum sesuai ajarannya serta mereka percaya akan kedatangan nabi terakhir. Selesai mengutarakan kaumnya dengan memujinya, lalu Nabi menyatakan bahwa sebetulnya mereka adalah para penghuni neraka. Mendengar pernyataan tersebut, Salman al-Farisi merasa tersinggung. Lalu Allah menurunkan ayat ini (Ibnu Katsir).

Berdasarkan pada asbabun-nujul ayat tersebut, dengan jelas dapat kita tarik kesimpulan bahwa ayat ini tidak menjadi pembenaran pada salah satu anggapan bahwa semua agama dalam pandangan Islam adalah benar dan berhak mendapat pahala dari Allah jika mereka sama-sama berbuat baik.

Pandangan tersebut lebih karena membaca ayat ini dengan dipotong di tengah-tengah. Sehingga seolah-olah kaum-kaum yang disebutkan, seperti Yahudi, Nasrani, dan Shabiin sejajar dengan kaum mukminin dalam hal mendapat pahala di akhirat kelak. Padahal sebenarnya dengan jelas Allah memberi syarat mutlak jika kaum-kaum tersebut ingin mendapatkan kehidupan yang penuh kebahagiaan, maka hendaknya dia memiliki keimanan pada Allah dan hari akhir serta beramal shaleh.

Takaran keimanan bagi kaum mukminin tentu saja sudah begitu jelas, yaitu ketersediaannya mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Sedangkan takaran keimanan dan amal shaleh bagi Yahudi yaitu ketundukan mereka pada ajaran nabi yang ada pada zamannya dan menerima sepenuhnya kedatangan nabi terakhir dengan meleburkan diri pada ajaran yang dibawanya jika kebetulan mereka berada pada zaman nabi terakhir tersebut.

Demikian halnya dengan Nasrani dan Shabiin. Sehingga meski oleh kaumnya ia dipandang sebagai orang yang taat pada ajaran agamanya (selain Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw.), keengganan untuk menerima kedatangan rasul terakhir beserta ajaran yang dibawanya yang datang pada saat ia masih hidup, akan membuat ketaatan pada ajaran agamanya tersebut menjadi sia-sia di hadapan Allah.

Mengakhiri ayat ini, Allah menyatakan bahwa hanya keimanan dan amal shalehlah yang menjamin kehidupan yang penuh ketenteraman, ketenangan, dan kebahagiaan. Tak akan ditemukan pada mereka kosakata kesedihan dan ketakutan. Karena tak ada yang patut mereka sesalkan dengan kehidupan dunia yang telah terjadi serta tak ada yang patut ditakutkan atas apa yang akan terjadi dengan kehidupan dunianya. Yang ada hanyalah perasaan takut dan sedih jika Allah menjauh dan tidak melimpahkan rahmat pada-Nya. Dalam ayat lain Allah berfirman:

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Q.S. Yunus [10]: 62);

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (Q.S. Fushshilat [41]: 30).

Allahu a’lam bishshawab.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment