Ini Sebenarnya Musibah Paling Besar Dalam Hidup Seorang Manusia

225

 

Sebagaimana banyak diberitakan, saat ini bangsa Indonesia tengah diuji dengan berbagai musibah yang melanda berbagai daerah di negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Ada banjir, gunung meletus, kebakaran hingga tanah longsor yang menelan korban jiwa. Bagi sebagian orang menderita sakit tak kunjung sembuh adalah musibah terbesar karena karena buat hidup jika tidak sehat. Sebagian lain menganggap ditinggal orang tercinta atau kehilangan harta benda adalah musibah terbesar karena merasa sia-sia belaka bekerja sekian puluh tahun dan hanya mendapati harta hilang begitu saja. Ada ragam musibah yang dimaknai setiap orang dengan berbagai tanggapan. Namun sebagai seorang muslim tentu musibah terbesar adalah hidup tanpa memiliki akidah tauhid dan meninggal  tanpa iman karena keduanya yang akan menentukan kebahagian dunia akhirat.

Selain itu menurut ulama besar Imam Al Ghazali menerangkan masih adanya musibah besar. Bahkan, musibah ini lebih besar dibandingkan musibah-musibah lain yang umumnya ditangisi manusia. Musibah paling besar tersebut adalah lalainya manusia dari makna Al-Qur’an.

promooktober1

Membaca Al Qur’an, namun sekedar mengeja huruf-hurufnya. Membaca Al Qur’an, namun sekedar membunyikan kalimat demi kalimatnya. Sekedar suara yang keluar dari lisan, tidak masuk ke hati, bahkan tidak melewati kerongkongan. Tidak mengerti artinya, sehingga tidak ada perbedaan perasaan ketika membaca satu ayat dengan ayat lainnya. Tidak mengetahui maknanya, sehingga tidak ada perubahan suasana jiwa ketika membaca ayat-ayat yang menerangkan nikmat dan ayat-ayat yang menerangkan adzab.

Tentu, membaca Al-Qur’an lebih baik daripada sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Orang yang membaca Al-Qur’an lebih baik daripada orang yang lisannya tak pernah basah dengan ayat-ayat-Nya. Namun membaca Al-Qur’an sekedar membaca, belumlah cukup bagi hambaNya. Sebab hanya membaca tanpa memahami tak ubahnya seperti abai.

Rasul berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mengabaikan Al-Qur’an ini.” (QS. Al Furqon : 30)

Bagaimana mungkin kita akan mengacuhkan Al-Qur’an jika kita tidak mengerti artinya. Sebagaimana kita tidak bisa mentaati rambu-rambu jika tidak mengetahui maksudnya.

Bagaimana mungkin kita akan mengacuhkan Al-Qur’an jika kita tidak memahami apa isinya. “Mereka tak mengacuhkannya serta tak menjadikannya sebagai pedoman kehidupan,” terang Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an, “Padahal Al-Qur’an itu datang agar menjadi manhaj kehidupan yang menuntun mereka ke jalan yang paling lurus.”

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 361 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment