Pilar-Pilar Kesabaran dan Keimanan (Tafsir Surat Al-Baqarah [2] 61-62) Bag 1

dosa, pilar-pilar

Oleh : DR. Aam Amiruddin, M.Si

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 61)

alquran muasir

Dalam beberapa ayat sebelumnya kita telah mengetahui bagaimana Allah memanjakan Bani Israil dengan serangkaian keistimewaan yang sebagiannya tidak diberikan kepada umat yang lain. Hanya, watak Bani Israil yang buruk menyebabkan mereka kehilangan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang mereka terima. Melalui ayat ini, muncul satu lagi kedurhakaan Bani Israil yang enggan bersyukur atas nikmat yang melimpah ruah yang Allah berikan kepada mereka.

Dengan nada protes, Bani Israil meminta kepada Nabi Musa agar mereka diberi makanan tambahan dari makanan sebelumnya yang telah Allah beri, yaitu manna dan salwa. Bani Israil mengaku tidak tahan lagi untuk terus menerus memakan makanan yang itu-itu saja. Padahal sesungguhnya, secara sederhana dapat kita lihat bahwa ketersediaan manna dan salwa sendiri sudah merupakan keistimewaan luar biasa yang Allah berikan untuk Bani Israil.

Keberadaan mereka di tempat yang tidak memungkinkan untuk melakukan banyak hal, termasuk bercocok tanam atau melakukan kegiatan ekonomi, maka kehadiran makanan yang turun dari “langit” sebenarnya sudah lebih dari cukup. Namun, Bani Israil adalah Bani Israil, mereka adalah kaum terkutuk yang jauh dari makna syukur. Pertanda kurang atau bahkan tidak adanya syukur tersebut dapat dilihat dari beruntunnya keluhan demi keluhan dan permintaan demi permintaan yang menjengkelkan.

kalender

Dengan tanpa malu, mereka meminta kepada Nabi Musa agar berdoa pada Allah untuk diberi sejumlah makanan lain, seperti sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas, bawang merah, dan mungkin masih banyak makanan lainnya yang mereka minta. Lebih mengerikan lagi, mereka menyampaikan permintaan tersebut dengan kata-kata yang amat tidak sopan. Coba kita lihat penggalan ayat berikut. “Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu”. Ucapan “Tuhanmu” bukan “Tuhan kita” menunjukkan keangkuhan tersendiri dari Bani Israil yang seolah menganggap hanya Musa yang pantas bertuhan Allah dan mendapat kebaikan dari-Nya.

Sikap ngeyel Bani Israil terhadap Nabi Musa tentu saja membuat Nabi Musa jengkel dan marah. Nabi Musa kemudian mempertanyakan kesehatan akal mereka dan mengatakan sesuatu dengan nada kesal dan keheranan, “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Tatkala Bani Israil bersikukuh dengan sikap kerasnya, Allah pun menimpakan azab-Nya, baik yang berdimensi dunia saat itu dan juga kelak yang berdimensi akhirat.

Di akhir ayat, Allah mengungkap sebuah kaitan sebab-musabab antara perilaku buruk Bani Israil dan watak durhaka yang melekat pada diri mereka. Perilaku buruk yang dimaksud adalah:
1. Mengingkari ayat-ayat Allah
2. Membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan

Sementara watak yang mendasari perilaku buruk tersebut adalah:
1. Selalu berbuat durhaka
2. Melampaui batas

Baik perilaku buruk maupun watak durhaka dari Bani Israil sebetulnya mengerucut pada satu kata, yaitu takabbur. Hal ini menjadi sangat perlu kita jadikan cerminan untuk senantiasa menjauh dari sifat takabbur (sombong dan angkuh) karena keduanya hanya akan membawa pada derajat kehinaan yang serendah-rendahnya. Rasulullah Saw. bersabda:

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (H.R. Muslim);

(bersambung)

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah