Konsekuensi Kebaikan dan Keburukan (Tafsir Surat Al-Baqarah [2] 58-60) Bag 3

musa

Selanjutnya, dalam ayat ke-60 surat Al-Baqarah, Allah Swt. berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 60)

alquran muasir

***

Sungguh Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Meski Bani Israil dihuni oleh banyak sekali orang-orang fasik, tiada hentinya Allah melimpahkan karunia kepada mereka. Setelah terlindung oleh awan dari sengatan sinar matahari dalam perjalanan mereka serta diberi makanan istimewa untuk menghalau rasa lapar, kini mereka dilimpahi karunia lain berupa air sebagai mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa.

Di tengah perjalanan menuju tempat yang telah Allah tentukan, Bani Israil mengeluhkan ketiadaan sumber air untuk menghilangkan rasa haus selama perjalanan panjang tersebut. Mendengar keluhan tersebut, Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberikan jalan keluar. Atas ke-Mahakuasa-an Allah, keluarlah air melalui pukulan tongkat (yang juga digunakan untuk membelah lautan) Nabi Musa pada sebuah batu.

kalender

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dijelaskan bahwa Allah menjadikan sebuah batu yang ada di sekitar mereka berbentuk persegi. Setelah itu, Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada batu tersebut sampai memancarkan lubang mata air. Dari batu tersebut memancarlah dua belas mata air. Dari setiap pancaran mata air dipecah lagi menjadi tiga puluh pancaran kecil. Dua belas pancaran tersebut disesuaikan dengan jumlah keturunan Israil (Nabi Ya’kub). Setiap keturunan mengetahui dan mendapat manfaat dari air tersebut. Ketika perjalanan dilanjutkan, batu itu pun ada setiap dibutuhkan sehingga Nabi Musa pun hanya butuh memukulkan tongkatnya seperti pada kali pertama mukjizat pancaran air tersebut ia dapatkan.

Beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa batu tersebut dijadikan oleh Allah berbentuk bulat dan Bani Israil membawanya dalam perjalanan. Jika mereka membutuhkan air, maka Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada batu tersebut dan keluarlah air yang mereka butuhkan.

Satu hal yang hendaknya menjadi perhatian kita adalah perintah Allah untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Bukan tidak mungkin, ‘mukjizat’ yang sama diberikan Allah kepada kita dengan disediakannya banyak sumber air yang dapat dengan mudah kita temui. Nah, jangan sekali-kali kita mengabaikan kasih sayang Allah dengan sewenang-wenang mengeksploitasi ‘mukjizat’ tersebut demi kepentingan pribadi tanpa mengindahkan akibat yang akan menimpa. Wallahu a’lam bishawab. 

(DR. Aam Amiruddin, M.Si)

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment