Ingin Bercerai dari Suami Posesif dan Psikopat

perselingkuhan

Saya mempunyai seorang sahabat yang saat ini sedang mengalami masa-masa sulit. Sahabat saya ini dinikahi oleh seorang laki-laki beristri tanpa sepengetahuan orangtua dan saudara-saudaranya. Saat akad, dia dinikahkan oleh wali hakim dan dan dihadiri dua orang saksi. Padahal, sahabat saya tersebut masih mempunyai ayah kandung dan saudara laki-laki yang tinggal tidak jauh. Berdasarkan pengakuan sahabat saya tersebut, pada saat menikah dia sempat ragu meski pernikahan tersebt akhirnya berlangsung juga. Perlu diketahui pula bahwa pernikahan tersebut belum mendapat persetujuan dari istri pertama. Dari istri pertama, si laki-laki tersebut mempunyai tiga orang anak yang masih kecil.

Sahabat saya merasakan kebahagiaan hanya dua bulan. Selebihnya, dia merasa tersiksa dan teraniaya atas sikap serta makian kasar suaminya. Sahabat saya merasa dimanfaatkan. Selain harus memenuhi kebutuhan seksual suami, dia juga dipaksa bekerja di perusahaan suaminya. Selama menikah, sahabat saya tersebut disuruh ber-KB agar tidak hamil. Selain itu, sahabat saya tidak diijinkan untuk memiliki banyak teman dan dituntut untuk selalu berada di rumah (kosan) kecil dengan fasilitas yang seadanya. Dengan penghasilan suaminya sebagai seorang kontraktor yang cukup besar, bisa dibilang hal tersebut tidak adil. Sebenarnya, sahabat saya sudah berulang kali berusaha untuk meninggalkan suaminya, tetapi selalu saja dihalang-halangi dengan ancaman akan dipermalukan di hadapan orangtua, keluarga, bahkan orang-orang sekampung. Suaminya tersebut juga mengancam akan membuatnya “gila” melalui “kiai”-nya yang sakti. Sahabat saya ketakutan akan ancaman tersebut terlebih mengingat ayah ibunya yang sudah tua.

iklan ina cookies

Selama ini, sahabat saya tersebut dikenal sebagai anak pendiam, taat agama, dan sangat patuh kepada orangtuanya. Sejak sekolah, dia sudah menjadi tulang punggung keluarga karena ayah dan ibunya sudah bercerai.

Sekarang, sahabat saya tersebut bisa dibilang kabur dari suaminya karena saya yang mendorongnya untuk lepas dari suaminya. Saya membantu berbicara dengan ibunya mengenai masalah ini. Meskipun awalnya shock berat, alhamdulillah ibunya menerima keadaan anaknya. Sekarang sahabat saya dilarang untuk kembali kepada suaminya karena dianggap pernikahannya tidak sah.

Pertanyaannya, apakah pernikahan itu sah? Saya pernah mendengar hadits yang menyatakan bahwa “Nikah tanpa wali tidaklah sah.” (H.R. Tirmidzi). Mengingat pula bahwa istri pertanyanya tidak mengizinkan pernikahan tersebut.

iklan ladifa

Apakah saya berdosa sudah mendorong teman saya agar berani melawan suaminya dan menyuruhnya untuk mengakui semuanya di depan orangtuanya? Saya tidak tega melihatnya teraniaya seperti itu. Bahkan, kadang suaminya berkata kepada orang-orang di kosan bahwa teman saya tersebut adalah orang stres.

Bagaimana cara teman saya untuk melepaskan diri dari suaminya tersebut? Apakah perlu talak dari suaminya itu? Menurut saya, hal tersebut sangat tidak mungkin karena bisa dibilang suaminya itu sangat posesif dan psikopat. Terima kasih atas jawabannya.

 

Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa teman saudara. Semoga Allah memberinya kekuatan. Menjawab pertanyaan saudara, sah tidaknya pernikahan yang Anda tanyakan bergantung pada sah tidaknya wali yang Anda ceritakan yang merupakan salah satu dari rukun nikah mengingat wali yang diceritakan merupakan wali hakim dan bukannya wali nasab (ayah, kakek, saudara kandung, dan sebagainya).

Wali hakim dianggap sah menurut Jumhur Ulama apabila mendapat man­dat dari wali nasab karena satu dan lain hal. Hadits yang Anda kemukakan merupakan salah satu rujukan ulama dalam menyatakan pendapat ini. Menge­nai izin istri pertama, hal tersebut bukan merupakan sarat sah bagi suami yang hendak melakukan poligami.

Mengamati cerita yang Anda sampaikan, pernikahan semacam itu jelas bermasalah. Apalagi Anda sendiri menyebutkan bahwa sang teman merasa ragu dan bimbang menjalani pernikahan tersebut. Alangkah baiknya jika dia segera bertobat dan mengevaluasi yang telah dilakukan dan merancang masa depan yang lebih baik. Wallahu a’lam.

Kita berkewajiban menolong orang yang kesusahan. Cara menolongnya tentu bervariasi. Mengamati yang Anda lakukan, boleh jadi hal itu merupakan salah satu cara yang bisa Anda lakukan. Memotivasi orang untuk berani menghadapi masalah merupakan bagian dari kebaikan.

Dalam pengamatan saya, boleh jadi teman Anda merasa lemah sehingga tidak bisa berbuat banyak untuk menyelesaikan masalahnya. Karenanya, motivasi yang Anda berikan merupakan sesuatu yang diperlukannya. Kewajiban taatnya istri kepada suami tidaklah mutlak sepenuhnya melainkan ada proporsi yang seimbang. Jika seorang suami sudah melewati batas, maka kewajiban taat menjadi terbatas dan istri berhak menuntut yang dipandangnya lebih baik. Wallahu a’lam.

Secara yuridis, tuntutan cerai bisa menjadi salah satu solusi supaya teman Anda lepas dari penderitaan yang datang dari suaminya. Ancaman dan perilaku kasar suaminya memang menjadi kendala yang harus dihadapi dengan berbagai risikonya. Insya Allah, dengan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah, suatu saat akan datang solusi terbaik. Wallahu a’lam. (Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si)

Leave a Comment