Merindukan Pemimpin Amanah Dambaan Ummat

dakwah

 

Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah dan tidak (sempurna) agama orang-orang yang tidak menunaikan janji.” (H.R. Ahmad)

Amanah memiliki dua perspektif makna. Ditinjau dari aspek yang lebih sempit, amanah diartikan sebagai memelihara titipan yang akan dikembalikan dalam bentuknya seperti sediakala. Dalam tinjauan yang diperluas, amanah mempunyai cakupan yang lebih luas, seperti menjaga kehormatan orang lain dan menjaga kehormatan diri sendiri. Dalam konteks bernegara, amanah yang dibebankan kepada para pemegang amanah (pejabat negara) harus dipikul dengan sebaik-baiknya karena memiliki dua perspektif pertanggungjawaban: horizontal (habluminannas) dan vertikal (habluminallah).

alquran muasir

Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa hingga saat ini rasanya sulit menemukan model kepemimpinan yang amanah dan ideal sesuai dengan tuntunan Islam, termasuk kepemimpinan di negara Islam sekalipun.

Pemimpin yang amanah dapat dilihat sejak dia berproses untuk mendapatkan jabatan publik. Bagi orang yang menggengam amanah, tentu awalnya tidak berambisi menginginkan jabatan publik. Tetapi, kalau banyak orang mempercayakan tugas-tugas kepemimpinan, maka dia sanggup menerima kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Kesanggupan seorang pemimpin amanah terus direalisasikan dengan tanggung jawab saat menjalankan kepemimpinannya. Tanggung jawab dalam arti mampu melaksanakan tugas dengan baik, sehingga di bawah kepemimpinannya lingkungan menjadi lebih sejuk, anggota merasa dilindungi, dan organisasi menjadi lebih maju. Pemimpin layak dipercaya apabila dia jujur, adil, dan selaras antara kata yang diucapkan dengan tindakan yang dilakukan.

kalender

Pemimpin yang amanah mampu mengutamakan kepentingan publik dibandingkan dengan kepentingkan pribadi. Maksudnya, seorang pemimpin amanah akan berani melakukan tindakan tidak populer. Dia tidak tega melakukan tipu muslihat dan tidak lagi berpikir periode mendatang harus menjabat lagi. Jika tindakan yang dijalankan memberi kemaslahatan banyak orang dan demi kepentingan publik, dia akan berani ambil keputusan, meski risiko akan dicerca banyak orang dan berdampak negatif bagi citra dirinya.

Agar pemimpin berani melakukan tindakan tidak populer, dia perlu memiliki mental teguh pendirian atau konsisten terhadap setiap gagasan serta perilaku yang dijalankan. Teguh pendirian ini sebagai modal utama pada seorang pemimpin tahan terhadap kritikan orang-orang yang tak suka dengan langkah-langkah kepemimpinannya.

Misalnya, Umar bin Khattab. Ketika menjadi khalifah, beliau secara sengaja melakukan perjalanan diam-diam pada malam hari. Beliau keluar masuk kampung bersama seorang sahabatnya hanya untuk mengetahui keadaan rakyatnya karena Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya. Beliau tidak pernah merasa tenang memikirkan keadaan rakyatnya, selalu resah apakah masih ada rakyat yang belum terpenuhinya hak-hak mereka oleh aparat pemerintahannya dan Umar langsung turun tangan ketika ada rakyatnya yang kelaparan.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment