Waspadai 4 Penyebab Gagal Meraih Ampunan di Bulan Ramadhan

berdoa

Oleh: Ali Akbar bin Aqil*

Salah satu nama Ramadhan adalah Syahrul Maghfiroh, bulan ampunan. Disebut demikian sebab di dalamnya tersaji beragam amal yang melahirkan ampunan atas dosa-dosa kita. Dengan melakukan amal-amal sesuai yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, Allah berkenan memberikan ampunan atas dosa yang pernah kita lakukan.

alquran muasir

Hanya saja, tidak semua orang yang melawati Ramadhan berhasil menjadikan kesempatan emas ini sebagai ajang menggugurkan dosa. Yang terjadi sebaliknya, ia keluar dari ramadhan tanpa mendapat ampunan dari Allah. Orang seperti inilah yang mendapatkan doa Jibril dan diamini oleh rasul.

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan suatu hari nabi naik ke atas mimbar untuk berkhutbah. Setiap kali beliau menapaki anak tangga mimbarnya beliau berkata Amiin. Kalimat ini beliau baca sebanyak tiga kali. Selepas khutbah, nabi ditanya ihwal ucapannya itu. Kata nabi, baru saja Jibril datang kepada beliau dan berkata dengan tiga doa, “Allah melaknat orang yang melewati ramadhan namun ia gagal mendapatkan ampunan. Allah melaknat seorang anak yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya yang masih hidup, namun tidak membuatnya masuk surga (karena tidak berbakti kepada mereka). Allah melaknat orang yang namamu disebutkan di hadapannya namun ia tidak bershalawat kepadamu.”

Ketiga doa Jibril di atas, diamini semuanya oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Dalam konteks ibadah ramadhan, menarik untuk kita telisik lebih dalam apa yang menyebabkan seseorang gagal meraih ampunan di bulan Ramadhan padahal ia adalah bulan ampunan? Ada beragam faktor. Yang paling dominan adalah

kalender

Pertama, puasa tanpa dasar ikhlas.

Ikhlas adalah perbuatan yang dilakukan untuk mengharap ridha Allah. Ikhlas lawannya riya. Riya artinya perbuatan yang dilakukan karena selain Allah. Ikhlas berarti kemurnian, kejernihan, kebersihan. Beramal ikhlas adalah melaksanakan amal yang bersih, murni, jernih dari segala tendensi selain Allah.

Orang yang beramal ikhlas adalah orang yang membersihkan, menjernihkan, dan memurnikan segala bentuk sesembahan kepada selain Allah. Orang-orang yang ikhlas akan berusaha menjaga kesucian niat dan tujuan di setiap perbuatannya. Orang yang ikhlas mengalamatkan ibadahnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala bukan kepada selain-Nya.

Orang yang tidak ikhlas, kata Ustad Taufiq bin Abdulqadir As-Saqqaf, ibarat orang yang menulis secarik surat. Ia tulis surat dengan tutur bahasa yang indah, tinta yang berkualitas lagi harum semerbak. Namun di akhir usahanya untuk mengirim surat ia salah menuliskan alamat. Maka usahanya akan berujung pada kegagalan, surat tidak sampai, padahal ia telah bersusah payah dalam membuat surat. Begitulah amal kita, sebaik apapun puasa yang kita kerjakan hingga membuat badan kurus seperti senar gitar tetap tak akan sampai kepada Allah dan Allah menolak segala amal yang dilakukan bukan karena-Nya.

Jika kita berpuasa untuk diet, untuk mencari kesembuhan, atau puasa karena merasa tidak enak dengan orang sekitar yang banyak berpuasa di waktu itu, artinya kita puasa bukan Lillaahi ta`ala tapi “Li” diet (untuk diet), “Li” kesehatan, “Li” ewuh pakewuh dengan orang lain. Tentu saja, hal ini tidak dibenarkan dan bisa melenyapkan harapan kita meraih ampunan Allah di bulan Ramadhan.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment