Cara Mengajarkan Shaum kepada Buah Hati

anak saleh

Oleh : dr. Eddy Fadlyana Sp.AK

Orangtua sering merasa khawatir anaknya akan mengalami gangguan kesehatan atau akan kekurangan gizi karena melaksanakan shaum. Hal ini tidak harus dikhawatirkan karena faktanya shaum mempunyai dampak positif terhadap kesehatan tubuh, seperti sistem pencernaan, pernapasan, sirkulasi darah, serta sistem hormon yang akan bekerja lebih optimal.

alquran muasir

Saat puasa, enzim serta hormon yang berhubungan dengan pencernaan beristirahat sekitar 12 jam sehingga sistem pencernaan akan mengalami perbaikan yang menimbulkan dampak positif. Saat berpuasa, tubuh menggunakan zat makanan yang tersimpan dan tertimbun berlebihan dalam tubuh untuk proses metabolisme. Hal ini berdampak positif pada keseimbangan zat-zat dalam tubuh. Tentang kekurangan gizi, hal ini tentu saja tidak akan terjadi jika ibu pintar mengatur makanan untuk buah hati sehingga kebutuhan gizinya tercukupi.

Mengenai rasa lapar yang akan dialami buah hati, pada dasaranya anak mempunyai kemampuan untuk menahan rasa lapar, apalagi jika mereka diberi motivasi yang kuat. Coba saja perhatikan ketika anak sedang ngambek lalu mogok makan. Ia akan tahan tidak makan untuk beberapa waktu. Ini juga berlaku ketika ia memang tidak mau makan dikarena makanan yang disajikan tidak disukai. Pemenuhan gizi di bulan Ramadhan tidak akan menjadi masalah serius sepanjang orangtua mampu mengatur menu secara baik sebab pada dasarnya (di bulan Ramadhan) kita hanya mengubah jadwal makan. Dibandingkan hari-hari biasa, yang berubah di bulan Ramadhan adalah frekuensi makan dari tiga kali menjadi dua kali dan waktu sarapan menjadi lebih pagi, yaitu makan sahur.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi, sesungguhnya hal tersebut sudah dapat terpenuhi dalam dua kali makan dengan porsi yang lebih banyak. Mungkin akan muncul sedikit kesulitan pada anak-anak berkaitan dengan kebiasaan makan mereka yang porsinya memang lebih kecil (tapi sering). Dengan membagi porsi menjadi dua kali makan, maka hendaknya volume makanan yang harus diberikan pada anak menjadi lebih besar. Makan sahur adalah waktu makan yang harus benar-benar diperhatikan terlebih pada awal dan akhir Ramadhan, anak-anak biasanya malas bangun karena sedang enak-enaknya tidur. Hal ini jangan dibiarkan karena akan mengakibatkan asupan gizi waktu sahur menjadi lebih sedikit. Meski demikian, memaksa anak untuk menghabiskan makanan pada waktu sahur sangat tidak dianjurkan. Karenanya, para ibu harus pintar-pintar menyusun menu gizi seimbang yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral secara seimbang. Besar porsi disesuaikan dengan pemenuhan gizi. Saat berbuka, sebaiknya anak dibiasakan untuk tidak memakan hidangan buka puasa sekaligus dalam waktu berdekatan. Ajarkan anak untuk makan secara bertahap, didahului dengan tajil dan kemudian shalat Maghrib sebelum akhirnya menyantap hidangan buka shaum.

kalender

Para ibu juga hendaknya memperhatikan kondisi anak selama shaum sebab ada juga anak yang begitu semangat berpuasa walaupun badannya lemas. Demi kebaikan anak, orangtua jangan segan meminta anak untuk berbuka jika merasa mual atau mengeluh sakit perut. Secepatnya berilah anak teh manis hangat. Jika ada, berikan terlebih dahulu kue atau biskuit dan setengah jam kemudian berilah makan berat (nasi dan lauk pauk bergizi).

***

TIPS:

Shaum bagi orang dewasa adalah hal yang tidak terlalu memberatkan. Tapi bagaimana halnya dengan anak-anak? Mengajarkan anak untuk melaksanakan ibadah shaum sejak dini tentu tidak ada salahnya meski hal itu tidak mudah dan diperlukan kesabaran dalam mengajarkannya. Selain itu, harus diingat pula bahwa pembelajaran (shaum) ini harus dilakukan secara bertahap. Lebih lengkap, berikut beberapa tips yang dapat dijadikan referensi dalam mengajarkan shaum pada anak.

1. Beri pengertian kepada anak tentang makna, manfaat, fungsi dan tujuan shaum. Hal ini akan memunculkan motivasi sehingga anak dapat melaksanakan shaum dengan sukarela tanpa ada paksaan sedikit pun. Jelaskan pada anak bahwa shaum memiliki efek positif bagi tubuhnya. Orangtua juga bisa menjelaskan makna shaum dan asyiknya menahan lapar yang berguna untuk mengajarkan kontrol (emosi) atau pengendalian diri. Pada anak yang temperamennya sulit dikendalikan, jelaskan bahwa melalui shaum anak yang bersangkutan dilatih untuk mampu menahan emosinya.

2. Ajakan shaum kepada anak harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Pilihlah kata-kata yang positif, tidak menyuruh, tidak membentak, dan (seperti telah disebutkan sebelumnya) jangan membuat anak merasa terpaksa melakukannya.

3. Ciptakan lingkungan shaum yang kondusif bagi anak, dimulai dari orang tua, anggota keluarga lainnya, serta pengasuh. Ketika sudah tercipta lingkungan shaum yang kondusif, maka mengajak anak untuk shaum akan relatif lebih mudah. Lebih dari itu, kadang tanpa disuruh pun anak akan ikut sahur walaupun paginya mungkin minta sarapan. Menghidangkan makanan favorit anak saat berbuka membuat buah hati merasa dihargai. Hal ini sekaligus membuat waktu sahur dan berbuka menjadi saat-saat menyenangkan serta ditunggu-tunggu kedatangannya oleh anak-anak. Kegembiraan saat berbuka bersama atau makan sahur bersama pun akan memberikan suasana yang lain dari biasanya. Kalau biasanya seluruh anggota keluarga sulit sekali berkumpul untuk makan bersama, di bulan Ramadhan ini semua anggota keluarga akan berusaha berada di rumah saat berbuka. Jika anak sudah berkeinginan melakukan shaum, malam sebelumnya orangtua harus memberitahu buah hati agar bangun lebih awal untuk melakukan sahur bersama-sama sehingga lebih nafsu makan (sahur).

Selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah juga harus turut mendukung atmosphere latihan shaum pada anak. Bagaimanapun, pengaruh lingkungan sekolah dan teman-teman seusia akan memacu motivasi anak untuk meningkatkan lamanya waktu melaksanakan shaum.

4. Latihlah anak untuk shaum secara bertahap. Misal, pada tahap awal anak hanya disuruh shaum sampai pukul 11.00 atau jam 12.00 saja. Pada tahap selanjutnya, waktu shaum bagi mereka diperpanjang hingga mereka bisa melaksanakan (shaum) secara penuh. Bisa juga orangtua mengajarkan shaum pada anak dengan cara sambungan. Caranya, anak diminta shaum setengah hari (sampai Dzuhur), ia diperkenankan berbuka untuk kemudian melanjutkan shaumnya hingga Maghrib tiba.

Pada dasarnya, membisakan anak shaum Ramadhan dapat dilakukan secara efektif sejak usia sekitar 4 tahun. Pembelajaran shaum yang dilakukan secara bertahap dilakukan agar tumbuh kembang anak tetap terjaga baik. Pada anak, selain untuk kerja sistem pencernaan, enzim yang terdapat dalam usus juga berfungsi untuk membantu proses tumbuh kembangnya. Proses bertahap ini penting untuk mengenalkan pola kerja organ tubuh pada anak. Dari pengenalan bertahap tersebut, orangtua dapat menilai sejauh mana kemampuan anak. Jadi, faktor komunikasi antara orangtua dan anak (dalam menerapkan metoda belajar shaum) memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan latihan shaum tersebut.

5. Bulan Ramadhan adalah juga bulan untuk banyak berbagi/beramal. Selain mengajarkan shaum, orangtua bisa memberi contoh untuk melaksanakan ibadah sosial. Orangtua dapat menjelaskan realitas di luar lingkungan anak, seperti kondisi orang-orang yang kekurangan dan harus dibantu.

6. Tidak ada salahnya memberikan hadiah atas yang telah dilakukan oleh anak sehingga buah hati akan lebih terpacu untuk melaksanakan shaum.

Jika anak sudah terbiasa melakukan puasa sejak dini, maka kebiasaan ini akan terbawa terus hingga anak menjadi remaja. Dengan begitu, puasa Ramadan yang wajib hukumnya bagi umat Islam, kelak dapat dijalankan oleh buah hati dengan baik saat ia akil baligh. Semoga bermanfaat!

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment