Konsekuensi Kebaikan dan Keburukan (Tafsir Surat Al-Baqarah [2] 58-60) Bag I

awan

Oleh : Dr. Aam Amiruddin, M.Si.

“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: ‘Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud,’ dan katakanlah: ‘Bebaskanlah Kami dari dosa,’ niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.”(Q.S. Al-Baqarah [2] : 58)

alquran muasir

***

Sebagaimana telah saya utarakan sebelumnya bahwa sejumlah ayat yang akan kita bahas ke depan masih berupa pemberitahuan Allah tentang sederet nikmat dan keistimewaan yang telah Allah berikan kepada Bani Israil dalam rentang waktu tertentu, terutama saat Nabi Musa dan Nabi Harun mengemban tugas kerasulannya. Ayat ke-58 (dan juga ayat ke-59) surat Al-Baqarah lagi-lagi berisi pemberitahuan akan perbuatan buruk sebagian Bani Israil yang tidak tahu terima kasih atas keistimewaan yang diberikan Allah kepada mereka serta akibat yang akan menimpa mereka.

Setelah Bani Israil yang dipimpin oleh Nabi Musa dan Nabi Harun berhasil melewati rintangan demi rintangan serta hambatan demi hambatan dalam melepaskan diri dari kekangan penjajah Fir’aun, tibalah saatnya bagi mereka untuk menentukan tempat berdiam diri untuk jangka waktu lama. Tanpa bersusah payah membangun sebuah wilayah dari awal, Allah telah menyediakan semua hal yang mereka inginkan, yaitu perkampungan dengan areal permukiman yang layak huni. Selain itu, Allah juga menyediakan makanan yang enak dan lezat untuk mereka pilih sesuai selera.

kalender

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai Al-Qaryah (perkampungan) yang akan mereka singgahi. Namun demikian, mayoritas ahli tafsir, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Masud, Qatadah, dan yang lainnya menyatakan bahwa perkampungan tersebut adalah Baitul Maqdis (Al-Maraghy). Ibnu Katsir menguatkan pendapat tersebut dengan mengutip salah satu ayat surat Al-Maidah.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 21)

Menyertai kedatangan di tempat tersebut, Allah memerintahkan kepada mereka untuk menundukkan kepala sebagai pertanda hati yang tawadhu dan mengucapkan permohonan ampun sebagai pertanda rasa syukur yang mendalam atas karunia Allah yang melimpah atas diri mereka. Hal tersebut dilambangkan dengan pencantuman kata sujjadan dan hiththatun dalam ayat ke-58 surat Al-Baqarah. Ibnu Katsir mengutip beberapa pendapat ahli tafsir untuk merinci maksud dari kedua kata tersebut. Sujjadan diartikan sebagai ruku dan syukur, sementara hiththatun diartikan sebagai permohonan ampunan dan pengakuan dosa.

Jika saja perintah tersebut dipenuhi, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan membalas dengan pahala berlipat, ampunan tanpa batas, dan kebaikan yang senantiasa menyertai mereka.

bersambung..

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment