Rakaat Shalat Tarawih, Bagaimana yang Dicontohkan Rasulullah Saw?

shalat

Pa Ustaz, mohon dijelaskan mengenai rakaat shalat tarawih, karena saya ingin melaksanakannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Shalat Tarawih adalah shalat sunat yang dilakukan khusus hanya pada bulan Ramadhan. Hukum shalat ini adalah sunah muakad. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama dari kata tarwihat yang berarti duduk atau santai. Alasan penamaan ini karena biasanya orang-orang beristirahat, yakni duduk-duduk, di antara setiap dua salam. Waktu pelaksanaan shalat sunat ini adalah selepas Isya, biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid.

alquran muasir

Dalam hidupnya, Rasulullah Saw. hanya pernah melakukan shalat Tarawih berjamaah pada tiga kali kesempatan. Alasannya, beliau takut jika pada akhirnya shalat ini menjadi wajib.

Aisyah r.a. pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah keluar rumah pada tengah malam. Beliau mengerjakan shalat di masjid sehingga beberapa orang ikut mengerjakan shalat bersama beliau. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan kejadian itu sehingga jumlah orang yang berkumpul menjadi lebih banyak. Selanjutnya, Rasulullah Saw. keluar menemui mereka pada malam kedua. Mereka pun ikut bergabung mengikuti shalat beliau. Keesokan harinya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa itu. Dengan demikian, orang yang datang ke masjid pada malam ketiga semakin banyak. Kemudian beliau keluar menuju masjid. Orang-orang pun bergabung mengikuti shalat beliau. Dan, pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah yang datang, tetapi Rasulullah tidak keluar menemui mereka.

Lalu beberapa orang dari mereka berkata, “Ayo kita shalat,” tetapi beliau tetap tidak keluar hingga akhirnya beliau keluar untuk mengerjakan shalat Subuh. Setelah selesai, beliau berkata, “Sebenarnya aku tidak mengkhawatirkan keadaan kalian, tetapi aku khawatir kalau sampai shalat itu diwajibkan kepada kalian dan kalian tidak mampu mengerjakannya.” Kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan. (Muttafaq ‘alaih)

kalender

Jadi, alasan Rasulullah tidak melanjutkan shalat Tarawih secara berjamaah karena kekhawatiran beliau jika shalat tersebut menjadi wajib bagi umat muslim. Shalat Tarawih berjamaah ini dilanjutkan saat Umar bin Khattab menjadi khalifah.

Dalam kitab Shalah al-Mu’min karya al-Qathani, dijelaskan mengapa Umar sampai memerintahkan umat muslim melakukan shalat Tarawih berjamaah. Abdullah bin Abdil Qariy r.a. bercerita bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan, dia pernah pergi bersama Umar menuju masjid. Ternyata, orang-orang tengah berkelompok-kelompok secara terpisah. Ada yang mengerjakan shalat sendirian, ada juga yang mengerjakan shalat, lalu sekelompok orang bermakmum kepadanya. Melihat itu, Umar r.a. berkata, “Seandainya sekelompok orang itu aku kumpulkan menjadi satu untuk bermakmum kepada satu imam (yang paling baik bacaannya), tentu saja hal itu akan lebih baik.” Kemudian Umar bertekad mengumpulkan mereka untuk bermakmum pada Ubay bin Ka’ab.

Pada malam berikutnya, Abdurrahman keluar bersama Umar, orang-orang tengah melaksanakan shalat dengan satu imam yang baik bacaannya. Melihat itu, Umar berkata, “Bid’ah yang paling baik adalah ini. Orang yang tidur untuk bangun (shalat) di akhir malam itu lebih baik daripada orang-orang yang bangun, dan kebanyakan orang mengerjakan shalat pada awal (permulaan) malam.” (H.R. Bukhari)

Keterangan-keterangan tersebut mengawali rutinitas shalat Tarawih berjamaah. Masih dalam kitab yang sama, Al-Qathani mengatakan bahwa yang dimaksud bid’ah dalam perkataan Umar “Bid’ah yang paling baik adalah ini,” maksudnya adalah bid’ah yang ditinjau dari segi bahasa. Artinya, mereka melakukan hal tersebut tanpa ada contoh sebelumnya, yaitu mengerjakan shalat Tarawih satu bulan penuh secara berjamaah. Perbuatan tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya, tetapi memiliki dasar syariat yang kuat, yaitu:

Rasulullah Saw. pernah menyuruh dan menganjurkan para sahabat melakukan shalat Tarawih (qiamu Ramadhan/qiamulail). Bahkan, beliau pernah melaksanakan shalat ini dengan para sahabat pada bulan Ramadhan lebih dari satu malam walaupun tidak satu bulan penuh. Kemudian beliau berhenti melakukannya karena khawatir hal tersebut menjadi wajib bagi mereka dan mereka tidak akan sanggup melakukannya.

Selain itu, Rasullullah Saw. pernah menyuruh umatnya untuk meneladani Khulafaur Rasyidin. Shalat Tarawih ini sudah menjadi sunah Khulafaur Rasyidin.

Jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaan shalat Tarawih sama dengan shalat Tahajud, yaitu 11 rakaat dengan formasi 4+4+3 atau 2+2+2+2+3. Hal tersebut berdasarkan pada banyak hadis sahih, antara lain sebagai berikut.

Dari Aisyah r.a. berkata: Tidaklah Rasulullah Saw. melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. Aisyah r.a. berkata: Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda tidur sebelum melaksanakan witir?’ Beliau menjawab: ‘Wahai Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur.’” (H.R. Bukhari)

Berdasarkan hadits tersebut, shalat tarawih berjumlah 11 rakaat dengan komposisi 4 rakaat diakhiri salam kemudian 4 rakaat lagi diakhiri salam dan terakhir 3 rakaat sebagai witir dan diakhiri salam. Antara 4 rakaat kedua dan witir, tidak jarang Rasulullah menyelanya dengan kegiatan lain bahkan sesekali disela dengan tidur-tiduran. Hal ini menunjukkan bahwa memisah-misah komposisi tarawih tidak menjadi masalah.

Misalnya dua kali 4 rakaat pertama sebelum tidur dan 3 rakaat witir setelah bangun tidur. Atau sebaliknya, 3 rakaat witir di awal sebelum tidur dan dua kali 4 rakaat berikutnya setelah bangun tidur. Masing-masing shalat tersebut sebagian boleh dilakukan sebagian di masjid dan sebagian lagi di rumah. Semua diperbolehkan selama tidak ada kendala, misal lupa atau malas melakukan shalat setelah bangun tidur sebelum makan sahur.

Selain dilakukan dengan formasi 4-4-3, boleh juga tarawih dilakukan dengan formasi 2-2-2-2-3 atau 2-2-2-2-2-1. Diantara para sahabat bahkan ada yang melaksanakannya antara 21-43 rakaat. Boleh jadi, saat itu Rasulullah tidak menekankannya secara langsung dan memberi kebebasan dalam hal jumlah rakaat shalat malam. Hanya saja, akan lebih arif jika saat ini kita lebih mengikuti yang telah dicontohkan Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut di atas.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

2 Komentar Artikel “Rakaat Shalat Tarawih, Bagaimana yang Dicontohkan Rasulullah Saw?

  1. bajra

    ijin bertanya ,..pelaksanaan sholat tarawih 4 rokaat itu apakah memakai tasyahud awal..?..demikian juga dengan witir 3 rakaat..apakah juga ada tasyahud awal..?..tks

Leave a Comment